5 menit waktu baca

ORANGTUANYA MANUSIA

Agustian Deny Ardiansyah*

Ketika pertama kali seorang anak memanggil kita dengan kata Ayah atau Ibu, saat itulah kita mendapat gelar baru sebagai ”orang tua”. Gelar yang memberikan amanah bagi kita selaku orang tua untuk mendidik anak menjadi individu unggul di kemudian hari. Individu yang mampu memberikan kontribusi positif baik bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat. Kontribusi yang bersumber dari kekuatan doa kita kepada Allah Swt akan harapan-harapan baik tentang anak kita.

Anak selain memiliki potensi menjadi individu unggul, juga merupakan individu unik yang harus dihargai, dimengerti, dan disanyangi oleh orang-orang disekitarnya terkhusus kita sebagai orang tua. Kenapa orang tua? Orang tua adalah pendidik utama dan terpenting, namun juga yang paling tak tersiapkan. Pasalnya, kita sebagai orang tua harus mencari sendiri informasi dan pengetahuan tentang bagaimana menumbuhkan dan mendukung pendidikan anak kita.

Buku bacaan yang membahas berbagai hal tentang peran orangtua dalam pendidikan anak seperti, cara benar mengasuh anak, mendidik anak dengan hati dan banyak lagi. Buku yang khusus mendidik anak di sekolah juga banyak seperti, sekolahnya manusia dan gurunya manusia. Sekolah dan guru yang telah berusaha memanusiakan proses pendidikan saja kadang masih dianggap belum cukup dalam memberikan penanaman nilai-nilai afeksi, psikomotorik, dan akademik bagi anak (peserta didik), terus harus bagaimana?

Ki Hajar Dewantara pada Tahun 1935 mengungkapkan, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengaitkan Tri Sentra Pendidikan yang di dalamnya berisi tentang peran orangtua, sekolah, dan anggota masyarakat. Mengapa tidak hanya sekolah?, karena sekolah tidak dapat memberikan semua kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak (peserta didik), sehingga diperlukan keterlibatan bermakna dari peran orang tua dan anggota masyarakat.

Anggota masyarakat memang memiliki peran dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang baik, namun berbagai penelitian membuktikan bahwa keberasilan pendidikan anak paling besar dipengaruhi oleh keterlibatan orang tua. Hal tersebut dikarenakan, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak memiliki manfaat (1) medukung prestasi akademik; (2) dapat meningkatkan kehadiran di sekolah; (3) meningkatkan kesadaran tentang perilaku sehat; dan (4) meningkatkan perilaku positif pada anak/kedisiplinan.

Baca juga:  Memuliakan Buku

Berbagai fakta tentang besarnya peran orang tua dalam pendidikan anak menunjukan, bahwa orang tua harus menjadi garda terdepan bersama – sama sekolah dan anggota masyarakat untuk menjadi agen of change dalam menyiapkan generasi penerus (anak) yang memiliki sikap kreatif, kritis, komunikatif, dan koloboratif. Orang tua juga harus menjadi peneladan yang baik ditengah-tengah arus moderennitas dan kemajuan teknologi, agar anak tidak mudah terjerumus dalam hal negatif (narkoba, sek bebas, dan HIV/AIDS).

Situasi Indonesia dewasa ini terbalik adanya dari pemaparan di atas, dimana beberapa orang tua dan anggota masyarakat yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pengutan pendidikan anak, malah melakukan perilaku sebaliknya. KOMNAS Perlindungan Anak bahkan menempelkan jargon Stop Kekerasan Anak karena banyaknya kasus terhadap anak. Jargon tersebut memberi pantikan bagi kita (orang tua) harus memahami kembali peran kita terhadap tumbuh kembang anak baik dalam hal spiritual, sosial/sikap, dan pendidikan.

Pemahaman tersebut memiliki makna, orang tua harus senantiasa seimabang dalam memberikan pendidikan kepada anak. Pendidikan yang menekankan diri (orang tua) harus menjadi peneledan sejati dengan tidak hanya memperlihatkan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga, namun juga memperhatikan dan peduli dengan pendidikan formal anak serta lingkungan teman bermain anak dalam kehidupan sosialnya.

Tiga hal di atas menjadi penting untuk diketahui oleh orang tua, karena merupakan dasar dari kebutuhan pendidikan anak yang harus kita (orang tua) ketahui. Pertama orang tua harus menjadi peneladan sejati, Tahap perkembangan kognitif seorang anak untuk mengenal dunianya menurut Jean Pigeat seorang psikolog dari Swis dimulai dari usia 0-2 tahun/periode sensori motorik, usia 2-7 tahun/periode pra sensori, usia 7-11 tahun/periode oprasional kongkret, dan usia 11 tahun – dewasa/periode oprasional formal.
Tahap demi tahap yang didifinisikan Jean Pigeat di atas memberikan gambaran kepada orang tua bahwa perkembangan kognitif anak dimulai sangat awal dari usia 0 tahun, oleh karena itu kita sebagai orang tua harus menjadi peneladan sejati kepada anak kita untuk memberikan stimulan-stimulan positif pada masa-masa perkembanganya hingga anak memasuki usia remaja dan dewasa. Hal tersebut penting, karena anak juga dikenal sebagai peniru yang ulung.

Baca juga:  COVID-19: Moralitas Manusia Dalam Eksploitasi Alam

Stimulan-stimulan di awal pendidikan anak dapat dilakukan dengan cara seperti, berlemah lembut kepada anak, memberikan kasih sayang, merawat dengan baik, membangun kedekatan dengan tidak sering melarang dan memarahi anak serta membiasakan melakukan ibadah secara bersama – sama. Stimulan berikutnya dapat dilakukan dengan memberikan reward dan Panisment kepada anak jika anak melakukan tindakan yang positif dan negatif. Hal tersebut juga memberikan ruang bagi anak untuk dapat belajar tentang tanggung jawab dan kedisiplinan.

Kedua memperhatikan pendidikan formal anak, orang tua memang seseorang yang harus bekerja keras dalam mendidik anak. Tidak hanya menyidakan kebutuhan sehari-hari anak namun juga memperhatikan perkembangan pendidikan anak. Perhatian tersebut dapat dilakukan orang tua dengan (1) menciptakan lingkungan belajar di rumah yang menyenangkan dan medorong perkembangan budaya prestasi anak; (2) menjalin interaksi dan komonikasi penuh kasih sayang dengan anak; (3) memberikan motivasi dan rasa percaya diri pada anak.

Selain di lingkungan keluarga. Orang tua juga harus berpartisipasi aktif dalam menjalin hubungan baik dengan sekolah, seperti (1) komunikasi aktif dengan pihak sekolah (wali kelas/kepala sekolah) tentang perkembangan anak di sekolah; (2) berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran dan ekstrakulikuler yang dilakukan anak di sekolah; (3) memiliki inisiatif untuk menggerkan orang tua lainya agar terlibat dalam pengambilan keputusan di sekolah dan masyarakat.

Ketiga memperhatikan lingkungan teman bermain dalam kehidupan sosial anak, seorang bijak mengatakan jika kita berteman dengan seorang pandai besi, maka baju kita akan berlubang karena percikan api sebaliknya jika kita berteman dengan pedagang wewangian, maka kita juga akan terkena wanginya. Kalimat bijak tersebut mengisaratkan bahwa dalam bermain kita juga harus melihat siapa teman bermain kita, apakah akan dapat memberikan maanfaat positif atau negatif bagi diri anak.

Baca juga:  Etika Hijau Muhammadiyah

Orangtua mana yang menginginkan anaknya terjerumus dalam hal-hal negatif, oleh karena itu orangtua harus tidak acuh dengan siapa anak kita bermain karena hal tersebut juga bagian dari bentuk pengutan pendidikan dasar untuk anak. Beberapa yang bisa dilakukan orang tua seperti (1) memberikan batas waktu bermain anak semisal anak perempuan sampai jam 19.00 WIB dan anak laki-laki jam 21.00 WIB; (2) memiliki beberapa nomor telpon teman anak kita; dan (3) membiasakan anak minta izin ketika akan pergi bermain.

Menjadi orang tua memang tidak mudah, apalagi menjadi orangtuanya manusia! karena kita (orang tua) selain mempersiapkan anak-anak kita hari ini menjadi orang tua seperti kita dikemudia hari. Kita (orang tua) juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak kita memiliki pendidikan yang benar. Pendidikan yang menghantarnya (anak kita) menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Amin Ya Robal Alamin

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...