Orang-Orang Dalam BAB Kesimpulan Zaman


Oleh : Fikri Fadh*

“Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir. Salah satu bentuk dakwah beliau melalui perang. Setelah wafatnya beliaupun, peperangan demi peperangan terjadi. Bahkan, perang adalah cara mengakhiri zaman ini. Dari perang fisik hingga perang di media daring oleh para nitijen yang terhormat.”

Pemberitaan perang yang terjadi di negara-negara Timur Tengah hampir setiap hari menjadi breaking news. Stasiun tv di tanah air memberitakan di sela-sela berita kriminal pencurian sandal dan berita koruptor yang dada-dada di depan kamera.

Begitupun media daring. Tidak sepi juga akan postingan tentang peperangan. Media daring malah lebih massif memberitakan tragedi atau konflik di negara-negara Timur Tengah sana. Ada yang mengambil dari sudut pandang kemanusiaan yang terampas karena perang. Adapula yang mengambil sudut pandang politik, serta membeberkan fakta-fakta, bahwa negara Adidaya lah yang menjadi pelakunya.

Kalau kita sebagai orang Indonesia, menyebut negara Adidaya itu ada di barat. Sehingga pemberitaan tentang tragedi atau konflik yang terjadi di Timur Tengah sana, juga dari perss barat. Tentu ada perbedaan pemberitaan, antara media barat dan media yang tidak barat.
Pemberitaan tentang perang, tragedi kemanusiaan, dan melemahnya kekuatan politik Islam di Timur Tengah menggunakan sudut pandang yang berbeda. Tentunya memiliki kepentingan untuk menggiring opini masyarakat dunia.

Respon masyarakat atas tragedi yang terjadi pun bermacam-macam. Pemimpin negera menyatakan ‘pengutukan’ terhadap pihak yang menjadi pelaku penyerangan. Masyarakat melalui organisasi atau lembaga kemanusiaan menggalang bantuan. Atas nama kemanusiaan, berangkatlah para relawan kesehatan, psikososial, bahan pangan, obat-obatan dan bantuan logistik lain. Bantuan tersebut ditujukan untuk masyarakat yang menjadi korban atas tragedi atau konflik yang terjadi.

Tragedi kemanusiaan akibat perang memang menggerakkan hati. Hal itu juga membangkitkan kepedulian terhadap sesama, tidak hanya sesama pemeluk agama, tapi juga sesama manusia.

Kita di Indonesia, kampung halaman yang tercinta ini, patut bersyukur sekali lagi. Tidak terjadi lagi perang fisik seperti yang dialami negara-negara di Timur Tengah sana. Memang, tidak semua negara di Timur Tengah sana adalah negara Islam. Ada juga negara yang sekuler, republik dan juga demokrasi. Sebelum terbentuknya negara tercinta ini, memang juga di awali dengan peprangan-peperangan yang terjadi. Bahkan berkali-kali perang melawan penjajah kolonial.

Dalam sejarah dakwah Nabi Muhammad saw, perang juga menjadi salah satu bentuk dakwah. Selain mengajak untuk memeluk agama Islam, perang juga untuk mempertahankan aqidah. Para sesepuh bangsa ini, berjuang melalui perang untuk mengusir penjajah. Mengambil kembali hak-hak kehidupan yang telah dirampas oleh kolonialisme. Sekali lagi, perang juga adalah bentuk mempertahankan aqidah, juga mempertahankan hak akan kepemilikan rumah.

Saat ini kita menggunakan media daring hampir setiap saat. Suatu ketika beradu argumen dalam kolom komentar, yang sampai bertikai kata seperti perang. Menaggapi sesuatu, misalkan kebijakan publik pemerintah atau dinamika politik yang terjadi. Seolah-olah seperti sudah perang. Saya ada sedikit pertanyaan. Apakah perang sudah mulai memiliki bentuk lain?

Saya membayangkan, jika sejak zaman Nabi Muhammad saw sudah ada Facebook. Pasti nabi Muhammad saw sudah dibully habis-habisan oleh para nitijen yang terhormat. Persekusi terhadap Bilal pun menjadi viral. Bahkan bisa jadi, para as sabiqun al awwalun juga membentuk tim cyber untuk melakukan perlawanan terhadap para nitijen yang mem-bully Nabi Muhammad saw saat berdakwah. Kalau memang zaman itu sudah ada media daring, kemudian orang-orang perang melalui media daring tersebut dan juga beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad saw melalui kolom komentar, mungkin itu yang disebut umat dengan selemah-lemahnya iman.

Media memang bisa mengarahkan opini publik. Bahkan bisa memicu adanya perang di dunia nyata. Namun perlu diingat bahwa tidak semua perang terjadi karena giringan media. Banyak faktor yang menyebabkan perang bisa terjadi. Perang di Timur Tengah sana bukan karena opini media. Tetapi media-media yang memberitakan, memiliki sudut pandang dan kepentingan yang berbeda.

Sebagai umat Nabi Muhammad saw, kita mau mengambil peran yang mana dalam menyelesaikan zaman ini? “Apakah mau Ikut menjadi pemicu perang?” Jika iya, tidak perlu perang saperti di Timur Tengah sna, buat aja ujaran kebencian di media daring, pasti perang akan segera terjadi. “Apakah memilih berperan menjadi bagian dari relawan kemanusiaan?” Sungguh mulia sekali hatimu kawan. “Apakah mengambil peran dalam dakwah? Atau tidak mengambil peran apapun?”, Ya udah, bobok saja di rumah.

Sekali lagi, hal ini kembali ke diri kita masing-masing. Dalam menyelesaikan zaman ini mau berperan sebagai apa, jika perang sudah menjadi ketetapan untuk mengakhiri dunia ini.

—————————————————————-
*Anggota Komunitas Literasi Janasoe


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *