Optimis


Oleh: Rohmatunnazilah
Guru SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta

Siswa/siswi SMA berada di ujung waktu menghadapi Ujian Nasional. Tiba-tiba di malam terakhir Ujian Sekolah, terbersit di pikiran saya memberi semangat pada mereka sekaligus ingin memberi mereka rasa rileks agar sedikit lepas dari rasa tertekan karena sehabis Ujian Sekolah mereka akan langsung disambut pendalaman materi lagi menyiapkan Ujian Nasional. Dan para guru juga akan ikut stress karena jadual penambahan materi membuat mereka tidak akan punya waktu istirahat juga. Ini juga yang membuat saya harus konsentrasi belajar setiap malam mendalami materi soal yang akan saya ajarkan keesokan pagi.

Saya kemudian mencari cara memberi semangat pada anak-anak. Saya pilih satu artikel dan pilihan saya jatuh pada judul ‘Learn How to Learn’. Artikel yang memberi gambaran bahwa belajar itu menemukan strategi dan saya memberi contohnya.

Saya kirim artikel tersebut ke 5 grup line kelas saya. (Saya memiliki grup line di semua kelas saya untuk lebih mudah berkoordinasi ttg tugas atau sesekali kita bisa bersenda gurau menemani mereka menyelesaikan tugas di malam hari). Ternyata saya tidak sampai menunggu 1 menit dan terbalas respon tulisan itu dengan berbagai cara. “Terimakasih Ibu, sudah memberi semangat dan sekarang saya tahu cara belajar” Hanifah, salah satu siswa terpandai paralel merespon. Disusul tulisan, “makasih Ibu, sepucuk motivasinya” Dinda, siswa yang pandai dan ramah memberi respon. Safa dan Lita memberi kalimat yang berbeda, ” Terimakasih Bu, atas dukungannya”. Masih banyak kata-kata respon lainnya yang seru dan segar. Siswa putra malah memberi respon dengan cara unik dan bikin saya geli. Aneka stiker yang ada di line akhirnya bertebaran muncul menunjukkan bahwa mereka rileks dan senang dengan cara saya memotivasi. Ada gambar anak melompat kesenangan, ada gambar love, ada gambar ungkapan terima kasih dan masih banyak gambar lain yang seru dan keren.

Saya tertegun, karena cara saya memberi semangat ini ternyata membuat mereka senang dan cara memberi semangat ini direspon dengan luar biasa. Di waktu mereka belajar – di ujung malam-, artikel itu menjadi seperti teman dan obat bagi mereka. Kemunculan saya ditanggapi sebagai makna bahwa saya memikirkan, menemani dan mengetahui bahwa mereka sedang bekerja keras menyiapkan Ujian. Energi balasan mereka memberi saya pemahaman bahwa mereka senang gurunya ikut memikirkan dan menemani. Saya bertekat akan membuat perubahan kecil pada cara mengajar.

Keesokan harinya, di jam pertama pendalaman materi, saat tadarus, bukan melanjutkan surat sebelumnya karena kelasnya berbeda sesuai kelas pilihan mapel. Sehingga siswanya juga berbeda. Saya memilih 2 surat, yaitu surah ke 93 dan ke 94. Setelah membaca surah ini, saya minta mereka membaca terjemahannya. Lalu kami diskusikan kandungan 2 surah tersebut. Bahwa surah Ad-dhuha menerangkan tentang pemeliharaan Allah terhadap Rasululloh dengan cara yang tidak putus-putusnya dan larangan pada perbuatan buruk terhadap anak yatim dan peminta-minta dan perintah untuk bersyukur. Sedangkan surah ke 94 mengandung makna menenangkan hati menyangkut masa lalu dan masa depan. Tuntunan untuk berpikir positif dan optimis karena kesedihan Rasulullah karena tidak kunjung mendapat wahyu. Anak-anak memberi pendapat dikaitkan dengan kondisi mereka yang sedang menghadapai ujian dan keluarlah kata kunci bersyukur, tenang dan optimis menghadapi masa depan. Terasa sekali bahwa energi dan hati mereka sangat bersih dan tersentuh ketika diskusi kedua ayat itu berlangsung. Setelahnya saya senang dengan energi belajar mereka yang tenang dan optimis .

Di sela-sela waktu berikutnya saya juga menanyakan apakah mereka sudah membaca artikel kiriman saya lalu mereka terlihat bersemangat dan kami membahas bagaimana cara menemukan cara belajar efektif dan mengena pada sasaran. Akhirnya mereka bersepakat untuk melengkapi referensi dengan ringkasan yang sudah pernah saya minta mereka buat secara bersama-sama.

Meski energi yang saya keluarkan sebanyak 8 jam mengajar itu cukup melelahkan tetapi rasa bahagia saya mengobati kelelahan itu. Melihat anak-anak punya semangat dan rasa optimisme menjadikan saya memiliki kekuatan melewati hari-hari berikut yang pasti tidak akan mudah.

Kaliurang – in holiday,March 30-th 2018


3 Comments

  1. Terima kasih ibu Herawati..semoga memberi manfaat.

    Kiai Busiri penulis handal mampir dan memberi komen..menyemangati saya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *