Nyanyian Angin Literasi


Oleh: Aris Munandar
Pegiat Perpustakaan Jalanan RBK

Belum usai surga ini terbuka, orang-orang sudah berlomba untuk masuk kedalamnya, ada yang terlihat gembira dan ada yang biasa aja. aku sedikit bergumam “ternyata seperti ini wajah pencari surga”.

Hari ini ROTS melapak dengan cukup pagi, Mentari belum lagi usai menampakkan sinarnya, ROTS telah menahului, cahaya yang akan membuat sejarah perubahan untuk bangsa ini. Hatiku seketika bergetar, sesosok anak kecil dengan riang turun dari kuda besi milik orang tuanya, tersenyum lebar, lalu berlari kecil menghampiri lapak buku yang baru saja terbuka. Dia mengotak atik, milah memilih buku lalu mencoba berbincang dengan saya. “Kak, ini boleh saya pinjam”. Kejadian tersebut membuat aku tergetar, mengubah pandangan kidz zaman now yang selama ini menghantuiku.

Hal tersebut bukan cuman sekali, namun berulang lagi dengan anak- anak yang lainnya, mereka tampak bahagia dengan buku-buku yang kami sajikan. sementara disisi lain, sedang berlangsung diskusi hangat bersama mahasiswa yang juga menyempatkan hadir pada ROTS kali ini.

Aku melihat orang-orang yang baru pertama kali bergerak pada dunia literasi menampilkan ekspresi yang kurang menyenangkan, mungkin mereka bosan atau tidak terbiasa dengan hal semacam ini. Yahh, itu semua masalah waktu, nanti juga bakalan terbiasa dengan suasana seperti ini. ROTS pagi ini memang berbeda, untuk pertama kalinya selaman aku melapak didatangi oleh puluhan orang, ada yang meminjam buku, ada yang mengembalikan dan ada juga yang sekedar bercengkrama dengan penjaga literasi. aku sebut sebagai penjaga karena kita belum bergerak, nanti pas bergerak mungkin namanya bisa berubah menjadi penggerak literasi.

Angin lalu berhembus dengan nada yang syahdu, mengalir melalui bulu-bulu yang sudah menjingkak entah karena dingin, atau gembira melihat anak-anak yang sedari tadi menikmati sajian buku dari kami. Paranormal disamping lapak kami sedari tadi hanya bisa tersenyum menyaksikan kejadi-kejadi itu, dia lalu mengambil sebuah pena dan buku catatan, entah apa yang dilakukannya mungkin merekam kejadian hari ini.

Aku merasa sesuatu sedang bergetar dalam diriku, seperti ada yang membisikkan sesuatu, “berbahagialah karena telah membagi pengetahuan” aku tersenyum, begitu juga dengan rumput di depan saya yang bergoyang, entah karena dingin atau memang sedang menikmati nyanyian angin literasi.

Yogyakarta, 18 Maret 2018