Muslim Tanpa Buku: Orasi Literasi Kebudayaan Fikri Fadhilah


Oleh: Fikri Fadh

Pada hari ini, Masjid Gedhe Kauman menjadi saksi
Ada segelintir anak muda, yang masih setia di jalan sunyi
Jalan yang tanpa hingar bingar tuntutan kemajuan zaman
Namun sesungguhnya, mereka adalah pemaju zaman yang sesungguhnya

Pada hari ini, Masjid yang pernah salah kiblatnya
Yang kemudian ada pembaharu yang lantang tanpa ragu, memberi arahan
Tak gentar melawan yang sudah berlaku, namun tetap sopan kepada para guru
Semoga anak muda yang di sini, meneladani keteguhannya

Pada hari ini, di kota yang mulai cepat kemajuannya
Ada segelintir anak muda yang menepikan diri di tengah
Menembus kemacetan jalan raya
Dengan tujuan mengatasi kemacetan pemikiran

Pada hari ini, ya hari ini
Saya berterima kasih
Telah diberikan kesempatan untuk menjadi manusia
Manusia yang biasa saja, tapi hadir di Tadarus Literasi

Gerakan literasi
Semakin populer saja ya?
Terima kasih Instagram, Facebook dan media propaganda lainnya
Karena kalian, kita saling kenal dan mengenal dan terkenal

Setelah terkenal,
Jangan hanya haha-hihi di panggung sambil berfoto bergaya jari “L”
Tapi kehilangan ruh, nyawa dan tujuan utama
Katanya, literasi mencerdaskan bangsa? Katanya. . .

Siapa itu pegiat literasi?
Penulis, penjaga perpustakaan, pemilik penerbitan, tukang becak, dosen, pengangguran, atau siapa?
Kalau kata Mbah Dauzan, “siapapun bisa jadi pegiat literasi”

Saya berharap, tidak ada polarisasi status dan strata sosial dalam kamus besar pegiat literasi

Saya kemarin membaca berita
Ada buku-buku yang disita
Kita tidak perlu berkomentar
Diam saja, fungsi kita bukan berteriak-teriak,
Tapi lipat gandakan saja energi kita untuk gerakan literasi

Saya mengapresiasi gerakan ini
Gerakan menghidupkan perpustakaan di Masjid
Masjid tidak hanya untuk sholat, dzikir, baca Al-Qur’an, berswafoto, numpang pipis atau sekarang numpang ngisi ulang baterai hp, tidur

Jika Perpustakaan Masjid sepi,
Jangan sampai Masjidnya juga sepi
Kalau Perpustakaan Masjid ramai
InsyaAllah, sebelum adzan berkumandang, sudah banyak yang antri di depan kran air wudhu

Saya bukan penulis
Disebut pegiat literasi saja tidak berani
Itu gelar sosial yang suci
Beberapa level di bawah Kiyai, tapi saya yakin lebih baik dari pada politisi

Saya hanya belajar mencintai ilmu pengetahuan
Dan saya saat ini seperti ini, adalah nadzar saya, pada suatu masa

“Allah, jika Engkau berkehendak untuk saya hidup lagi setelah operasi, saya akan duduk bersama pegiat literasi”

Dan, Allah memberikan kesempatan itu lagi

Mungkin saja, tanpa ada cobaan waktu itu
Kita tidak pernah bertemu
Wahai Istriku. . .

Teruntuk seluruh pegiat literasi, siapapun tanpa polarisasi:

“Pada hari ini, saya masih meyakini
Masjid akan bertambah fungsi
Tidak hanya untuk sholat dan dzikir
Tetapi menjadi bumi yang menumbuhkan muslim yang membaca buku
Bukan hanya muslim yang statusnya tertulis dalam kartu

Muslim yang merawat nalar, melawan kemacetan pikir dan melawan pelemahan dan pembodohan”

Terima kasih
Yogya, 28 Desember 2018
Orasi Literasi Kebudayaan
Dibacakan Di Tadarus Literasi Perpustakaan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *