Musim Semi Gerakan Literasi: Potret Lain Indonesia


Oleh Fauzan Anwar Sandiah*

Dalam sejarah Indonesia modern, gerakan literasi adalah bagian penting perjuangan warga sipil yang berupaya mendorong tumbuhnya akses terhadap bahan-bahan bacaan. Perlu ditekankan bahwa narasi gerakan literasi tidak mempersoalkan minat baca, tapi akses literasi. Pegiat literasi, yakni mereka yang melibatkan diri membuka akses terhadap bahan-bahan bacaan atau menggerakkan proses sirkulasi pengetahuan di masyarakat, beberapa tahun yang lalu memprotes berbagai klaim tentang rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Salah satu klaim yang mereka tolak adalah berbagai hasil survei tentang rendahnya jumlah konsumsi buku. Di antara berbagai nada protes tersebut, penolakan klaim yang diserukan oleh pegiat literasi di Kalimantan dengan tagar #LawanUnesco menjadi perhatian publik. Alasannya sederhana, bahwa narasi gerakan literasi telah berubah dari kampanye peningkatan minat baca menjadi aspirasi kewargaan atas hak pendidikan. Mereka menolak klaim rendahnya minat baca karena mengaburkan persoalan. Sebagian besar narasi gerakan literasi yang digagas oleh warga sipil menekankan arti penting bahan bacaan sebagai simbol hak pendidikan. Tagar #LawanUnesco adalah satu dari ribuan narasi simbolik yang memberi makna kehadiran gerakan literasi.

Musim Semi Gerakan Literasi
Di beberapa tempat, komunitas-komunitas literasi didirikan sebagai respon atas lambannya pemerintah membuka akses yang luas terhadap bahan-bahan bacaan. Diperparah dengan klaim rendahnya minat baca yang membuat warga merasa dipojokkan dalam narasi pembangunan. Di Yogyakarta, dalam dua puluh tahun terakhir komunitas-komunitas literasi terus tumbuh dengan bermacam-macam bentuk. Saya ingin menyebut beberapa di antaranya; I-Boekoe, Becak Pustaka, Pustaka Keliling Adil, dan RBK On the Street. I-Boekoe atau yang dikenal sebagai Gelaran Buku dikembangkan sejak tahun 1999. I- Boekoe saat ini menjadi salah-satu gerakan literasi yang melakukan pengarsipan dokumen, penerbitan, dan radio buku. Becak Pustaka adalah angkutan roda tiga yang dilengkapi dengan rak buku. Becak pustaka dirancang oleh Mbah Sutopo sebagai perpaduan antara kendaraan berbasis sepeda dan rak buku portabel. Saat ini ada banyak model kreasi rak buku portabel yang dihubungkan dengan kendaraan bermotor atau sepeda. Sebelumnya warga Yogyakarta mengenal almarhum Dauzan dengan Perpustakaan Mabulir (Majalah Buku Bergilir). Sejak tahun 1990an, Mbah Dauzan berkeliling mengendarai sepeda ke kampung-kampung menawarkan pinjaman buku. Pustaka Keliling Adil adalah representasi umum dari gerakan literasi di Yogyakarta yang dicirikan dengan aktivitas pinjam buku gratis. RBK On the Street atau perpustakaan jalanan RBK dimulai pada tahun 2012 dengan konsep perpustakaan tanpa ruang. Perpustakaan jalanan ini memberi akses gratis bahan bacaan di Alun-Alun Kidul Yogyakarta. Saat ini telah menjadi agenda umum di berbagai tempat untuk membuka perpustakaan jalanan. Konsep-konsep ini sekarang dikenal luas sebagai strategi alternatif mendirikan perpustakaan komunitas berbasis ruang publik.

Ada banyak konsep gerakan literasi yang tersebar di Indonesia. Kuda Pustaka misalnya ada di Manokwari, Sumba Timur, Purbalingga, Bekasi, dan Lebak Banten. Kuda Pustaka adalah platform lain dari rak buku portabel selain becak atau motor. Konsep perpustakaan bergerak (portable library) muncul sebagai strategi keruangan baru untuk mengatasi berbagai hambatan seperti mahalnya biaya pembuatan gedung perpustakaan. Perpustakaan bergerak sebetulnya telah dikenal lama oleh pegiat literasi. Pada awal tahun 2000an, Dauzan Farook mengatakan tentang pentingnya strategi “jemput bola” bagi pengelola perpustakaan. Kemunculan perpustakaan keliling milik pemerintah yang biasanya menggunakan mobil dianggap terlalu menghabiskan sumber daya besar. Apalagi perpustakaan keliling dalam bentuk mobil menjadi pekerjaan tambahan yang melelahkan bagi pustakawan di perpustakaan milik pemerintah. Meskipun dalam dua tahun belakangan ini, perpustakaan mobil keliling pemerintah memperoleh manfaat besar dari hadirnya perpustakaan bergerak inisiasi warga sipil sebagai mitra baru.

Alasan lain munculnya perpustakaan portabel disebabkan oleh daya tarik konsep ini bagi masyarakat pembaca. Perpustakaan bergerak yang berkeliling kampung menawarkan peminjaman buku gratis dianggap menyelesaikan persoalan kebutuhan bahan bacaan. Inisiasi semacam ini terasa sangat mudah dilakukan dan tanpa harus melewati proses birokrasi. Misalnya seseorang ingin menginisiasi perpustakaan keliling dengan mengontak perpustakaan pemerintah, mereka biasanya akan dihadapkan pada berbagai persyaratan yang belum tentu bisa dipenuhi. Tapi jika mereka melakukannya dengan kendaraan bermotor pribadi atau mendesain rak portabel untuk becak, maka mereka tidak perlu melalui surat izin. Mbah Sutopo tentu saja tidak membutuhkan surat izin untuk menambah rak buku di becak yang dikayuhnya sebagai sarana mata pencaharian.

Demokrasi dan Teknologi
Apa yang membuat gerakan literasi dalam pengertian sebagai keagenan atas pembentukan modal kultural masyarakat dapat terjadi? Mengapa gerakan literasi saat ini menjadi demikian sepadan dengan perkembangan sosial? Mengapa gerakan yang bersandar pada berbagi akses bahan bacaan ini tidak hilang begitu saja di era keterbukaan informasi? Jawabannya terletak pada dua hal. Pertama, gerakan literasi adalah wujud lain dalam proses demokrasi. Kedua, gerakan literasi justru sangat cocok dengan kehendak melek (the will to literacy) yang menjadi penanda era keterbukaan informasi. Sebabnya tentu saja karena iklim politik demokratis memberi peluang bagi peran-peran kelompok warga sipil berbagi akses literasi. Mbah Dauzan Farook dan Mbah Sutopo adalah contoh tepat. Mereka mengandalkan sumber daya pribadi untuk membangun perpustakaan yang mereka idealkan. Mbah Sutopo mengatakan bahwa dirinya memang gemar membaca. Sejak kecil dia berharap bisa membaca banyak buku. Almarhum Mbah Dauzan juga demikian. Mbah Dauzan dibesarkan oleh keluarga yang menghargai betapa pentingnya buku. Mbah Dauzan menyisihkan uang pensiun untuk memperbanyak koleksi perpustakaan Mabulir. Sejak wafat tahun 2007 hingga kini, banyak orang mengenang Mbah Dauzan Farook sebagai seorang pegiat literasi.

Iklim demokrasi sangat berpengaruh bagi sirkulasi pengetahuan masyarakat. Transisi demokrasi pada tahun 1998 membuka peluang penulis, penerbit, dan pembaca yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang sensor rezim Soeharto. Bahkan saat ini, berbagai material digital berupa video dapat digunakan secara bebas untuk mengemukakan pendapat. Berbagai kolom opini, ulasan sastra, dan puisi di koran dan majalah kembali bergairah dalam pengertian yang sesungguhnya. Sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer akhirnya dapat menikmati kembali pengakuan publik terhadap karya- karyanya. Setelah tiga puluh tahun karyanya dibredel. Penulis-penulis Indonesia yang dilarang kembali tampil memperbaiki iklim kebudayaan Indonesia. Kegairahan baru ini telah memberi semangat penerbit-penerbit indie untuk kembali menggarap pasar perbukuan. Melimpahnya sebaran buku tanpa ada kekhawatiran untuk disita telah menandai iklim demokratis ini. Meskipun bentuk-bentuk pelarangan, razia, dan pembubaran diskusi masih terjadi. Tapi ini bukan tampilan sehari-hari di Indonesia yang baru.

Pada tahun 2017, Majalah Rolling Stones dan Majalah HAI diumumkan berhenti merilis format cetak. Disusul pada tahun 2018 dengan berhentinya penerbitan Tabloid Bola. Internet telah mengubah konsumsi informasi secara keseluruhan. Kejayaan media cetak dianggap sedang menuju senjakala. Jaringan toko buku terbesar di AS, Borders Group akhirnya pailit, meninggalkan hutang mencapai US$ 1,293 miliar. Pada tahun 2018, bisnis toko buku ritel seperti Aksara juga ikut menutup jaringan penjualan di dua tempat di Jakarta. Toko buku ritel terbesar di Indonesia, Gramedia juga menyiasati penurunan daya beli buku dengan menjual produk fesyen dan kebutuhan sekolah. Internet telah menjadi tantangan besar bagi gerakan literasi di belahan dunia mana pun. Kendati demikian, dorongan untuk membaca buku cetak masih ada. Internet dan digitalisasi tidak benar-benar membunuh gairah membaca sama sekali, kecuali mengubah cara orang mengakses informasi. Inilah yang menyebabkan gerakan perpustakaan komunitas justru meningkat jumlahnya.

Di Indonesia terdapat empat jejaring besar komunitas literasi;Pustaka Bergerak, Taman Baca AsmaNadia, Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM), dan Serikat Taman Pustaka Muhammadiyah. Setiap jejaring terdiri dari ratusan hingga ribuan komunitas literasi atau gerakan pustaka. Setiap jaringan komunitas ini tidak dapat dipisahkan. Satu hal penting yang dapat dimaknai dari besarnya jaringan komunitas literasi ini adalah problem harga buku, ketersediaan bacaan bermutu, dan tidak seimbangnya rasio buku di perpustakaan dengan jumlah penduduk. Banyak perpustakaan umum dan daerah bahkan di pulau Jawa yang mengoleksi buku kurang dari 30 ribu eksemplar dengan jumlah penduduk mencapai 900ribu orang. Bandingkan dengan perpustakaan komunitas yang dapat mengoleksi 7 hingga 10 ribu buku untuk 80 ribu penduduk kecamatan. Perpustakaan daerah sangat bergantung dari APBD. Kebanyakan dari perpustakaan daerah ini hanya memperoleh anggaran kurang dari 100 juta untuk memperbarui koleksi buku setiap tahunnya. Perpustakaan daerah menutupi celah kekurangan ini dengan mengadopsi teknologi sistem informatika yang canggih. Hanya saja, inti dari fungsi perpustakaan sebagai infrastruktu literasi tidak berjalan maksimal. Sebagai contoh kebanyakan perpustakaan daerah hanya mengoleksi 3ribuan buku digital. Jumlah ini bahkan sangat kecil jika dibandingkan dengan material digital yang dimiliki oleh I-Boekoe di Yogyakarta atau oleh Rumah Baca Komunitas. Gerakan literasi tidak saja mampu menangkap perkembangan konsumsi informasi di era internet, mereka juga sangat siap dengan peralihan zaman.

*Penulis adalah kurator di Rumah Baca Komunitas.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *