Musafir Pena dan Surat Kecil Titipan Tuhan


Oleh: Mia Sarmiasih
Pegiat literasi di Rumah Baca Komunitas

Pemuda adalah pengerak perubahan. Saya sepakat dengan pendapat Yona Primadesi yang menulis buku dongeng panjang literasi Indonesia “Membaca itu masalah minat, motivasi, dan kebiasaan”. Dari minat tidak semua orang mau menerima sesuatu yang disuguhkan kepadanya tanpa didasari oleh keinginan kebutuhan pribadinya.

Begitu juga dengan motivasi seseorang tidak langsung tumbuh dan sadar mau melakukan hal yang positif dan bermanfaat untuk masa depannya tanpa didasari minat. Sementara kebiasaan inilah yang akan saya komentari, membangun kebiasaan(habbit) seseorang tidak serta seperti mengubah telapak tangan. Sama halnya mengerakkan buku-buku sebagai surat kecil titipan Tuhan. Tidak semua orang mengerti dan menyadari bahwa untuk beramal itu banyak jalannya termasuk membagikan pengetahuan.

Kali ini saya akan membagikan cerita pemuda rantau yang selalu kusebut musafir pena. Melangkahkan kaki menuju tempat persinggahan dalam melapakkan buku sebagai surat titipan Tuhan. Awalnya ada sebuah keraguan dan rasa malas yang aku fikir memang itu bisikan setan. Saat seperti ini saya selalu berprinsip dipaksa, terpaksa dan terbiasa. Langkahku terus berjalan menuju Alun-Alun sebagai pusat aktivitas masyarakat kota di hari libur. Ternyata benar kedatanganku bersama teman-teman merupakan kebahagian untuk orang lain. Bagaimana tidak sapaan hangat dari tamu mahasiswa UMY dan UGM yang selalu ingin berdiskusi dengan kami para pegiat literasi muda, dan beberapa masyarakat yang selalu mengetahui aktivitas mingguan kami membuat hari ini semakin penuh warna, bahkan konsep inovasi serta metode pendidikan literasi pun sempat mewarnai diskusi. Saya benar-benar merefleksikan betapa indahnya berbagi kebahagiaan.

Seketika teringat juga pesan Pak Eko Priyo Purnomo salah satu dosen UMY yang selalu mengatakan Buku, Wisata dan Cinta. Buku itulah yang akan memberikanmu sebuah pencerahan atas sempitnya kerangkeng pehamahanmu dalam menafsirkan suatu hal, sementara wisata merupakan bagian dari aktivitas kami termasuk saat ini kami berada ditengah-tengah tempat iconic Kota Yogyakarta sebagai ruang publik yang selalu didatangi masyarakat dalam mengahabiskan waktu pagi untuk berolahraga dan bermain bersama orang terdekat.

Cinta, untuk saat ini kami diajarkan untuk mencintai apa yang kami lakukan. Termasuk mencintai buku-buku sebagai sahabat masa depan.