Muhammadiyah-NU, Kakak-Adik Satu Atap


Oleh : Fikri Fadh*

 

Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah. Sebuah desa di kaki gunung Sindoro. Kenapa saya memilih menyebutnya desa, bukan kota kecil atau semacamnya? Bagi saya, menyebut sebuah desa sangatlah “romantis”, dan pasti ada kisah-kisah yang sangat sayang untuk tidak di abadikan.

Dalam kesempatan yang sangat sempit, saya bisa menghirup udara segar yang bermunculan, dari sela-sela tanaman tembakau yang baru saja tumbuh. Hal itu sangatlah menyenangkan. Tolak ukur menyenangkan bagi setiap orang berbeda kan ya?

Ada sebuah kisah yang menarik menurut saya. Sebuah kisah yang dituturkan oleh sahabat yang saya temui di rumahnya, di sela-sela saya terjun ke lapangan untuk riset. Beliau dan keluarga menyambut hangat kedatangan saya malam itu. Memang angin kemarau cukup dingin disini. Saya seorang kader Muhammadiyah. Beliau dan keluarga adalah warga NU. Dalam candaan kami, “Sang Surya dan Ya Ahlal Wathan” sangat indah jika dilantunkan bergantian.

Obrolan kami yang ingin sekali saya catat adalah, saat anak sahabat saya ini ikut nimbrung dan menjabat tangan saya. “kelas berapa dik?”, saya bertanya kepada anak tersebut, supaya dia nyaman dengan kehadiran saya. “masih RA mas”, jawab ibunya yang turut ngobrol dengan kami di ruang tamu. “nah, kalau kakaknya MIM”, lanjut ibunya. “Disini itu, Raudatul Athfal Muslimat dan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah satu gedung mas”, bapaknya yang beliau ini adalah sahabat saya ikut menjelaskan. “Weh, bagaimana itu ceritanya mas, Muhammadiyah dan NU bisa satu gedung?”, saya bertanya dengan sangat antusias. Inilah asyiknya riset di lapangan, bahkan mutiara keilmuan yang bukan sedang kita gali bisa di temukan.

Bagaimana ceritanya?

IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Temanggung yang mengawali perintisannya.Tetapi mengalami kendala dan terbengkalai dalam pengelolaannya, untuk Madrasah Ibtidaiyah-nya. Namun untuk yang RA tetap berjalan sebagaimana mestinya dibawah asuhan Muslimat NU. Akhirnya untuk pengelolaan MI diambil alih oleh Muhammadiyah Ngadirejo.

Sejak berdirinya, nama untuk RA dan MI Muhammadiyah pun sama. RA Al-Falah dan MI Muhammadiyah Al-Falah. Dilihat dari beberapa bangunan yang terlihat, kira-kira sudah sejak tahun 80an.

RA Muslimat lanjut ke MI Muhammadiyah.

“Jadi, rata-rata setelah dari RA, para siswa melanjutkan ke MI Muhammadiyah semua?”, saya melanjutkan pertanyaan, karena masih penasaran. “Rata-rata anak-anak sini memang seperti itu mas, meskipun disini juga ada SD Negeri”, jawab sahabat saya tadi.

Secara kultur keagamaan warga disini, banyak yang warga NU. Mungkin itu yang melatar belakangi untuk memilih MI dari pada SD Negeri. Secara MI untuk komposisi pelajaran agamanya lebih banyak.

Saya bermalam di rumah teman saya. Pada pagi harinya saya terbangun bukan karena adzan subuh, melainkan lantunan puji-pujian khas Masjid atau Langgar yang dikelola oleh warga NU. Bagi saya, terbangun oleh sesuatu yang indah selain suara adzan subuh itu menyenangkan. Kemudian membuat catatan ini.

Hubungan kakak beradik yang indah.

Menurut penuturan sahabat saya, hubungan antara warga Muhammadiyah dan NU disini baik-baik saja. Harmonis, bahkan berbagai peran dalam hal pendidikan formal. Berarti dalam keseharian juga terjalin iklim sosial yang baik.

Saya tidak mau memilih diksi bahwa Muhamadiyah dan NU berkoalisi dalam bentuk lembaga pendidikan formal. Tidak juga memilih Muhammadiyah dan NU berkolaborasi. Koalisi bisa bubar, dan kolaborasi bisa berhenti. Namun, jika kakak beradik, itu adalah gambaran dari sebuah persaudaraan. Bisa saudara kandung atau bukan. Yang namanya kakak beradik itu saudara.

Hubungan saudara yang indah di bawah satu atap. Tidak merasa diri terhebat untuk menjadi penyangga atap. Bersama-sama mendidik generasi bangsa dari paling bawah. Alangkah indahnya pemandangan di bawah kaki Sindoro ini. Jika di tempat lain ada hal semacam ini, saya masih memiliki keyakinan bahwa Indonesia mendatang masih baik-baik saja.

Sebenarnya saya mau menengok aktivitas pembelajaran disana, dan menyapa beberapa guru yang pasti luar biasa. Namum niatan itu tidak bisa saya lakukan. Sekolahan libur. Besok sudah masuk bulan Ramadhan. Hari ini agendanya adalah ” padusan “, jadi siswa diliburkan, dan saya harus bertolak ke Jogja.Tabik.

____________
*Founder Komunitas Literasi Janasoe dan penyusup di Serikat Taman Pustaka MPI PP Muhammadiyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *