8 menit waktu baca

Muhammadiyah itu Tidak Pancasilais!, benarkah?

Oleh : M. Rizky Kurniawan

 

Sering kali hal ini terdengar oleh banyak pihak yang se-akan akan ingin memojokan Muhammadiyah, hanya untuk ingin Muhammadiyah mengatakan bahwa dirinya Pancasilais, cinta NKRI, NKRI Harga Mati, dan lain sebagainya. Tentu hal ini menjadi senyuman belaka bagi Kader Muhammadiyah yang paham sejarah tentang berdirinya NKRI atau awal mula terbentuk nya Pancasila, dan bukan menjadi prioritas utama bagi Muhammadiyah untuk mensample kan dirinya paling pancasila jika tak sesuai dengan perbuatan, karena banyak pihak yang mengatakan hal serupa namun tak sejalan dengan nilai-nilai dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Peran Muhammadiyah dalam Pembentukan NKRI

Berbicara Peran Muhammadiyah dalam sejarah Bangsa Indonesia, tentu nya akan muncul nama-nama yang mempunyai peran sangat besar dan menjadi tokoh pergerakan seperti Soekarno, Jenderal Soedirman yang menjadi Presiden Pertama dan Panglima Pertama Republik Indonesia. Siapa yang tak mengenal dua tokoh tersebut, yang sampai hari ini tidak bisa luput dari ingatan Generasi Muda dan Bangsa Indonesia.

Soekarno bersama Mas Mansur pada waktu itu sebagai Ketua PP Muhammadiyah menjadi anggota Empat Serangkai bersamaaan juga dengan Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara yang merintis prakarsa persiapan kemerdekaan Indonesia terutama dengan pemerintahan balatentara Jepang. Bukan hanya itu Tiga tokoh penting Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo, Prof. Kahar Mudzakir, dan Mr. Kasman Singodimedjo bersama para tokoh bangsa lainnya merumuskan prinsip dan bangunan dasar negara Indonesia sebagaimana keterlibatannya di Badan Persiapan Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Demikian hal nya Panglima Besar Jenderal Soedirman selaku Kader Muhammadiyah yang aktif di Hizbul Wathan, membuktikan peran strategisnya dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan keabsahan Indonesia Merdeka. Soedirman menjadi tokoh utama perang gerilya dan kemudian menjadi Panglima Tentara Nasional Indonesia. Insinyur Juanda Tokoh Muhammadiyah yang menjadi pencetus Deklarasi Juanda tahun 1957, yang menjadi tonggak eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menyatukan laut ke dalam kepulauan Indonesia, sehingga Indonesia menjadi negara-bangsa yang utuh.

Bahkan di dalam Film Nyai Dahlan yang tayang perdana pada Agustus 2017 silam, menunjukan peran dimana detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia, Jenderal Soedirman meminta nasihat kepada Nyai Dahlan sekaligus meminta restu untuk dirinya berangkat ke Jakarta menemui Soekarno untuk segera membacakan text Kemerdekaan Indonesia, maka Nyai Dahlan pun memberikan nasihat peran apa yang harus ia lakukan sekaligus memberikan nya restu untuk menyegerakkan diri menemui Soekarno dan me desak dirinya untuk segera mengumumkan Kemerdekaan Indonesia.

Nyai Dahlan atau yang bernama asli Siti Walidah adalah istri nya KH Ahmad Dahlan sang Pendiri Muhammadiyah dan Nyai Dahlan adalah salah satu Pendiri Organisasi ‘Aisyiyah yang menjadi gerakan khusus perempuan Muhammadiyah, serta menjadi pelopor pertama di dalam Kongres Perempuan Indonesia pada tahun 1928 yang menjadi cikal bakal Gerakan dan Kebangkitan Perempuan Indonesia.

Baca juga:  Muhammadiyah, Politik Identitas, dan Pilpres

Muhammadiyah memaknai Nilai-Nilai Pancasila

Sebagai organisasi terbesar di Indonesia dan memiliki usia lebih dari Satu Abad, tentu nya kiprah dan peran Muhammadiyah sudah tidak diragukan lagi bahkan Presiden Ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan bahwa “Muhammadiyah ini bagaikan Negara di dalam Negara” bagaimana mungkin sang Presiden bisa berbicara sedemikian kalau tidak melihat bagaimana kiprah yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah yang setiap saat selalu berperan Aktif dalam melakukan Ta’awun terhadap kondisi Bangsa Indonesia, dalam perspektif Presiden SBY melihat bagaimana kerapian struktur dan jenjang organisasi Muhammadiyah, dari tingkatan atas sampai ke bawah, kepengurusan yang begitu banyak dan sangat tertib dengan Administrasi juga Amal Usaha yang begitu melimpah yang membuat Muhammadiyah bisa berdiri kokoh bahkan bertahan sampai hari ini, tentu nya dibalik itu semua ada orang-orang Hebat yang berjuang keras dan ikhlas dalam membesarkan dan mempertahankan Muhammadiyah.

Namun, Muhammadiyah bukan lah type organisasi yang cepat memiliki rasa puas dan bangga diri terhadap apa yang telah dilakukan untuk Indonesia, banyak pujian yang datang kepada Muhammadiyah namun tidak menjadikan Muhammadiyah sebagai Organisasi yang riya’ apalagi takabur, sungguh itu bukanlah type Organisasi modern seperti Muhammadiyah, karena Prinsip Muhammadiyah adalah tidak mudah berbangga diri apalagi menyombongkan sebagai organisasi yang paling banyak pengaruh di negeri ini.

Banyak pujian pasti nya juga banyak cacian yang dirasakan dan dilalui oleh Muhammadiyah yang sudah berjalan selama 107 Tahun, dari dikatakan Organisasi Sesat, anggota yang tidak jelas, sampai dengan menjadi organisasi yang berbeda sendiri apalagi kalau persoalan Praktek Ibadah, namun semua cacian yang di rasakan oleh Muhammadiyah sama sekali tidak menggentarkan dan menggoyahkan langkah kaki Muhammadiyah untuk terus maju, bergerak dan mencerdaskan Bangsa.

Ketika Organisasi yang lain menganggap dirinya Pancasilais, Pro NKRI bahkkan sampai-sampai membuat slogan NKRI Harga Mati, namun bagi Muhammadiyah hal sedemikian bukanlah suatu hal yang sangat di kedepankan, karena hal yang harus dikedepankan adalah bagaimana Muhammadiyah bisa menghadirkan pencerahan, pencerdasan dan kemaslahatan untuk Ummat dan Bangsa. Hal itu sudah Muhammadiyah contohkan lewat Pendidikan, Kesehatan, Pelayanan Sosial dan banyak hal lainnya.

Jika kita akumulasikan Jumlah Pendidikan Muhammadiyah hari ini tentu nya sudah puluhan Ribu, dari jenjang TK sampai Perguruan Tinggi, bahkan data terakhir yang di lansir dari media instagram Muhammadiyah yaitu @lensamu menunjukan bahwa Jumlah PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) sebanyak 165, lebih banyak dibandingkan PTN (Perguruan Tinggi Negeri) dengan jumlah kurang lebih 130 yang dimiliki oleh Pemerintah, belum lagi TK/PAUD berjumlah 30.125, SD/MI, 2.766, SMP/MTs 1.407, SMA/SMK/MA berjumlah 1.407 dan Ratusan SLB serta Pondok Pesantren Modern, belum lagi Amal Usaha Muhammadiyah seperti Rumah Sakit, Panti Asuhan yang berjumlah ratusan serta Masjid dan Mushola dengan jumlah paling banyak yaitu 20.000 lebih. Apakah hal ini masih belum bisa dikatakan bahwa Muhammadiyah itu yang paling Cinta NKRI atau Pancasilais? Tentu hal ini menjadi teguran bagi mereka yang masih mengukur letak kesetiaan Muhammadiyah kepada Indonesia! Karena Muhammadiyah tidak pernah meminta perhatian di dalam melakukan pekerjaan, namun Bangsa ini bisa merasakan hasil yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah dan bermanfaat serta berkhidmat sehingga menjadi keberkahan bagi Bangsa Indonesia.

Baca juga:  Media Penerang Umat, Kreasi Pelajar Muallimaat

Apakah Muhammadiyah tidak pernah capek melakukan hal-hal seperti ini, apakah Muhammadiyah sudah merasa cukup dengan torehan yang telah diberikan kepada Indonesia? Tidak! Karena kalau kata Prof. Haedar Nashir, Muhammadiyah akan senantiasa berjuang untuk memberikan yang terbaik kepada Indonesia dan tidak akan pernah lelah untuk terus bergerak dan mencerdaskan anak Bangsa, bahkan suatu hari Pak AR Fachruddin ketika menjabat sebagai Pimpinan Tertinggi Muhammadiyah pernah ditanya oleh seseorang, kapan Muhammadiyah akan mati/bubar? Maka pak AR pun menjawab “Muhammadiyah itu akan bubar dan hilang dari peradaban apabila orang-orang yang ada di dalamnya tidak lagi bekerja secara ikhlas dan tanpa pamrih apalagi jika hanya menjadikan Uang sebagai tolok ukur dalam mengurusi Muhammadiyah”.

Muhammadiyah lah yang paling Pancasilais

Sebenarnya bisa saja Pimpinan Muhammadiyah melegalitaskan diri seperti hal sedemikian, mengapa tidak? Toh, dulu nya Tokoh-Tokoh Muhammadiyah sangat berperan Aktif dalam melakukan upaya kemerdekaan Indonesia bahkan dibulan November 2019 kemarin lagi-lagi Tokoh Muhammadiyah yaitu Prof. Kahar Muzakir dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional yang berjasa dalam perumusan dasar negara Pancasila, jadi lengkap sudah 4 Tokoh Muhammadiyah yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena perumusan dasar negara pancasila.

Bahkan di dalam buku Api Sejarah karangan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara dijelaskan bahwa 3 Tokoh penggagas/perumus Pancasila yang sangat berpengaruh yaitu Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodibedjo dari Muhammadiyah dan KH Hasyim ‘Asyari dari Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri NU, bahkan di jelaskan di halaman lain bahwa Tokoh Muhammadiyah yaitu Abdul Mufti lah yang mendesak Soekarno untuk segera membacakan text Kemerdekaan Indonesia “atau kalau tidak sekarang, maka kita akan menunggu 300 Tahun lagi Indonesia akan merdeka” ujar Abdul Mufti dengan tegas. Maka, setelah mendengar perkataan tersebut, Soekarno besoknya membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada hari Jum’at bertepatan dengan 17 Ramadhan.

Baca juga:  CORONA: DARI KONSPIRASI, HOAX, SAMPAI MITOS

Membaca dan mengulas sejarah memang begitu penting bagi Generasi Muda hari ini, bahkan Presiden Pertama Indonesia yaitu Soekarno pernah mengatakan “Jas Merah, Jangan Pernah Melupakan Sejarah” ini menunjukan begitu penting nya memahami dan belajar sejarah karena sejarah begitu erat kaitan nya untuk keberlangsungan sebuah negara, Ust. Haikal Hassan dalam video ceramah nya pernah mengatakan satu diantara dua untuk menjajah sebuah bangsa yaitu “putuskan anak muda dari mata rantai sejarah” dengan begitu akan lebih muda bagi sekelompok orang untuk menjajah atau merebut suatu Bangsa.

Ini juga menjadi cerminan bagi seseorang yang mengatakan dirinya paling Pancasilais dan mengganggap orang tidak pancasilais, perlu merefleksikan kembali agar benar-benar dan berhati-hati dalam mengatakan sesuatu karena dampak tersebut bisa menjadi persoalan baru bahkan menambah kegaduhan di negeri ini, apa lagi saat ini apabila seseorang tersinggung dengan suatu statment langsung dilaporkan dan dibawa ke ranah hukum.

Implementasi Pancasila ditengah Pandemi Covid-19

Sejauh ini Muhammadiyah telah membuktikan kesetiaan dan ketulusan nya terhadap Indonesia, apa lagi jika melihat kondisi Dunia terkhusus Indonesia hari ini yang terserang wabah Covid19. Sudah banyak peran yang Muhammadiyah lakukan, dimana pada saat awal Indonesia kedatangan Virus Corona, Muhammadiyah segera membentuk Tim Khusus untuk penangan Covid19 yang bernama Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) yang diketuai oleh dr. Corona dan tak lama kemudian diangkat menjadi Staff Khusus Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia,  ini menunjukan suatu prestasi bagi lembaga khusus yang baru dibentuk Muhammadiyah artinya sangat berpengaruh untuk keberlangsungan dalam menangani Covid19 sampai-sampai ketua MCCC yang baru diangkat pun langsung ditarik menjadi stafsus BNPB Indonesia.

Belum lagi, Rumah Sakit Muhammadiyah yang menjadi rujukan untuk penanganan dan perawatan pasien Covid-19 sebanyak 77 Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah, bahkan tak tanggung-tanggung pengeluaran dana Muhammadiyah per 26 Mei 2020 untuk bantun dampak Covid-19 sebanyak Rp.149.121.734.496 (100 Miliar hampir 500 Juta Rupiah) dengan jumlah penerima manfaat sebesar 2 juta lebih. Begitu besar pengaruh Muhammadiyah dan manfaat nya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, begitu aktif dan responsif nya ketika negeri ini sedang dilanda masalah, bahkan tak jarang bahwa Muhammadiyah menjadi Garda Terdepan dalam memecahkan masalah di negeri ini. Begitulah organisasi yang di dirikan oleh seorang ulama’ dan juga saudagar yaitu KH Ahmad Dahlan, keteladanan dan pesan-pesan nya tersampaikan bahkan teraplikasikan di setiap hari nya, dan kehadiran Muhammadiyah selalu memberikan perubahan yang baik untuk Bangsa Indonesia.

Terima kasih Muhammadiyah!

 

 

* Ketua Umum PC IPM Ilir Timur 1 Palembang

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...