MPM PP Muhammadiyah dan RBK: Merayakan Kurban, Menuai Kegembiraan bersama Keluarga Difabel


Oleh: Sri Lestari Linawati)*

Kurban bersama difabel rutin dilaksanakan oleh MPM (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) PP Muhammadiyah. Tahun ini kurban bersama difabel MPM PP Muhammadiyah kembali digelar di Kanoman, Banyuraden, Gamping, Sleman, DIY. Gading atau gabungan difabel Gamping dan Bangksp mandiri (ngaglik) hadir sebagai keluarga dampingan MPM PP Muhammadiyah, Kali ini kegiatan ini dikolaborasikan dengan Rumah baca Komunitas (RBK) untuk berbagi dan bergembira dalam proses belajar bersama. Kolaborasi ini dimaksudkan untuk membangun solidaritas dan berbagi kegembiraan bersama di hari raya.

Difabel Gamping dan Ngaglik berkumpul di forum ini merayakan Idul Adha 1440 Hijriyah. Tentu saja kehadiran mereka satu per satu cukup menyentuh batin kita, terutama bila keseharian kita tidak pernah berurusan dengan difabel. Ada yang datang naik motor diboncengkan, ada yang diantar naik mobil, ada yang naik motor roda tiga khusus difabel, ada pula yang berjalan dengan bantuan krek atau kursi roda.

Fenomena itu mengingatkan kita adanya ayat Al-Qur’an tentang proses penciptaan manusia. Bahwa ada manusia yang diciptakan sempurna, ada pula yang tidak sempurna kejadiannya. Itu semua kehendak Allah, agar Allah jelaskan kepada kita tentang ujian keimanan, juga tentang adanya Tuhan Allah Sang Pencipta.

Adalah mas Ma’ruf, pengurus MPM PP dan dosen UMY, yang menghubungi saya untuk handel kegiatan anak-anak difabel. Ya, tentu anak-anak difabel membutuhkan kegiatan tersendiri. Ayah ibu mereka sedang melakukan proses penyembelihan binatang kurban berupa sapi dan kambing. Tidak sempat saya menghitungnya karena saya segera fokus ke kegiatan anak difabel. Koordinasi dengan Bu Yuliana, ketua Gading, juga dengan teman-teman RBK.

Di antara dua kegiatan kurban, yaitu di kampus dan kurban bersama difabel, akhirnya saya memilih untuk terlebih dahulu ke kegiatan anak difabel. Sederhana saja pertimbangannya. Kehadiran saya di kegiatan anak difabel lebih dibutuhkan. Saya bisa memahami kekhawatiran teman-teman RBK. Solusinya adalah saya tetap harus mendampingi dulu. Saya bertanggung jawab transfer ilmu pada mereka semua. Hal ini juga sebagai wujud kesungguhan saya mendampingi RBK. Pendampingan dilakukan mustilah dengan totalitas.

Bu Yuliana juga berkenan survey lokasi RBK, untuk mengukur kemampuan anak-anak difabel melakukan kunjungan. Teman-teman di RBK juga tampak sibuk menyiapkan sarana prasarana. Ada Kak Arief, Kak Dafrin, Kak La Halufi, juga Kak Sahrul. Koordinasi ringan dengan Pakde Muh dan Bude Atun tetangga RBK juga menjadi penting dilajukan. Ini upaya mengajak masyarakat welcome pada makhluk Tuhan yang bernama difabel.

Saya kembali menuju lokasi kegiatan “kurban bersama difabel” di mushala Al-Falah Kanoman. Mbak Sanny bersama saya pagi itu, sekaligus koordinasi tata laksana kegiatan anak nantinya.

Tiba di mushala Al-Falah, bertemu mas Ma’ruf, Bude Yanti, mas Aan, mbak Amel, dkk MPM PP Muhammadiyah. Koordinasi kembali kami lakukan. Mas Ma’ruf berpesan agar kegiatan anak difabel dibuat sedemikian nyaman dan menyenangkan untuk anak-anak difabel. Kita harus jaga betul perasaan mereka, pesan mas Ma’ruf. Dan Sanny pun segera dipastikan oleh mas Ma’ruf untuk fokus tugas pembuatan video dan dokumentasi kegiatan. Barakah silaturrahmi.

Acara anak difabel diselenggarakan di rumah almarhum mbah Kayat, sebelah mushala Al-Falah Kanoman. Segera saya mengajak Kak Arief untuk memasang nama para peserta dan kami semua. Saya menuliskannya di isolasi kertas, Kak Arief yang menggunting dan menempelkannya. Tahap ini dilakukan agar kami semua saling kenal dan memberi kemudahan untuk saling menyapa. Ternyata cukup menyita waktu juga. Hari beranjak siang.

Acara dilanjutkan perjalanan menuju RBK, sesuai dengan rencana, juga setelah diacc oleh mas Ma’ruf dan Bu Yuliana. Yang bisa jalan diajak berbaris. Adapun lainnya, disiapkan 5 kursi roda, baik milik komunitas difabel, maupun yang dimiliki oleh penyandang difabel. Beliau berkenan dipinjam kursi rodanya untuk anak-anak difabel jalan-jalan ke RBK. Beliau disediakan kursi di depan mushala untuk menyaksikan prosesi penyembelihan binatang kurban.

Cukup meriah juga perjalanan menuju RBK. Ibu-ibu dan bapak-bapak ikut mendampingi perjalanan anak-anak difabel. Raut muka bahagia dan ceria tampak tergambar jelas di wajah-wajah mereka. Saya sangat mensyukuri ini. Bahagianya saat kita bisa memberikan manfaat untuk kebahagiaan mereka.

Tak lupa anak-anak difabel bersalaman dengan Pakde Muh dan Bude Atun yang sedang duduk santai pagi itu di dekat taman bunga depan rumahnya. Bunga-bunga yang bermekaran merah, kuning, ungu, hijau dedaunan, sungguh sedap dipandang mata.

Pilih-pilih buku adalah tantangan menarik pertama saat memasuki RBK. Menggambar dan mewarnai adalah tantangan menarik kedua. Lagu dan senam adalah tantangan berikutnya yang cukup menarik buat mereka. Hla gimana enggak? Spontan anak-anak difabel ikut menyanyi dan senam penuh antusias. “Whuaaa… ahaaa…,” seru mereka sambil menggoyangkan kepala dan tangannya. Subhanallah, sungguh pemandangan indah saat mereka tampak sangat bahagia. Hatiku seakan berteriak memanggil Tuhan Sang Pencipta. “Ya Tuhan ya Rabb….,” seruku dalam hati sambil terus mengajak mereka menari mengikuti iringan lagu.

Saya lihat teman-teman RBK sudah aman terkendali membersamai anak-anak difabel. Saya ijin melanjutkan tugas kurban di kampus. Pamitan pada Bu Nurul Keperawatan UMY, Kak Arief, Cak David dan ibu-ibu pendamping. Di mushalla, pamitan pada mas Ma’ruf dan mbah Amir.

Ada sebuah kepuasan dan kebahagiaan bermain bersama anak-anak difabel. Terlalu banyak hal yang masih harus disyukuri dalam hidup ini. Benar kata para khatib Idul Adha bahwa kurban berdimensi ilahiyah dan insaniyah. Bukan daging dan darahnya yang sampai kepada Allah, tapi ketakwaanlah yang akan sampai pada Allah. Dengan berkurban, kita peduli pada sesama, karena kita sadar bahwa harta hanyalah titipan Allah.

Kurban juga mengingatkan kita pada keteguhan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim berani menyuarakan kebenaran, mengalungkan parangnya di patung terbesar yang disembah kaumnya. Pertanyaannya untuk kita saat ini, beranikah kita menyuarakan kebenaran sebagaimana yang diajarkan Nabi Ibrahim? Sejauh manakah kita memiliki kepedulian pada sesama manusia yang memang Allah ciptakan dengan berbagai keragaman, berbagai keadaan, berbagai kelebihan dan keterbatasan? Aktivitas yang terprogram, terarah, terencana, terukur tentu bukan kerja semalam. Dibutuhkan komunikasi, koordinasi, komitmen kita semua yang merindukan pertemuan denganNya. Yakin BISA.[]

Menara Kudus, 12 Dzulhijjah 1440 Hijriyah/ 13 Agustus 2019

)*Sri Lestari Linawati adalah pegiat literasi yang tinggal di Kanoman. Dosen Unisa (Universitas ‘Aisyiyah) Yogyakarta ini akrap disapa Lina. Diskusi, sharing atau sekadar sapa bisa dilakukan via email sllinawati@unisayogya.ac.id atau hp/WA 0856.292.8998.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *