3 menit waktu baca

Jalan Moderasi Indonesia: Sekilas Jejak Pemikiran Haedar Nashir

Oleh Iwan Setiawan*

Jalan panjang sebagai akademisi mengantarkan sosok Haedar Nashir (DR H Haedar Nashir Msi) menjadi Profesor dalam Ilmu Sosiologi.

Haedar Nashir diberi amanah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Kota Makassar tahun 2015. Lahir di Desa Ciheulang, daerah Ciparay, Bandung Selatan, sebuah desa yang dimasa DI/TII pimpinan Kartosuwiryo menjadi perebutan pengaruh antara DI/TII dan TNI. Lahir 25 Februari 1958 dari pasangan Haji Ajengan Bahrudin dan Hajah Endah binti Tahim. Haedar Nashir adalah anak ragil dari 12 bersaudara, wajar bila Haedar kecil menjadi anak yang disayang orang tuanya.

Berkaitan dengan didikan keislaman, ayahnya Haji Ajengan Bahrudin menerapkan disiplin yang ketat. Guyuran air akan menimpanya bila tidak segera bangun untuk sholat subuh. Begitu juga sambitan selendang haji akan melecutnya saat ia salah membaca Al-Quran.

Pendidikan Islam yang pertama berasal dari ayahnya. Selain itu didikan Pondok Pesantren Cintawana,Tasikmalaya Jawa Barat juga juga menjadi modal dalam memahami Islam di kemudian hari. Didikan Agama dari sang ayah dan belajar di pesantren menjadikan Haedar Nashir akrab dengan dunia santri sejak kecil. Setelah lulus SMA Haedar Nashir merantau ke Yogyakarta sampai hari ini.

Minat Haedar Nashir pada studi sosial dan keagamaan yang mengantarkannya untuk Studi Sosiologi di Pascasarjana UGM (S2,1998) dengan tesisnya berjudul Perilaku Elite Politik Muhammadiyah di Pekajangan dan Studi Sosisiologi di Program Doktor di UGM (S3,2007) dengan Disertasinya Islam Syariat:Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia.

Selain itu Haedar Nashir menulis lebih dari 10 buku yang berisi pemikirannya tentang Muhammadiyah. Hajriyanto Y Tohati, mantan Wakil Ketua MPR RI menujuluki Haedar Nashir sebagai Ensilopedi berjalan Muhammadiyah.

Baca juga:  Museum Muhammadiyah untuk Bangsa

Haedar Nashir adalah ideolog Muhammadiyah:
Hampir semua pemikiran Muhammadiyah yang tertuang dalam keputusan resmi Muhammadiyah menjadi pijakan utama dalam tulisan berserinya di Suara Muhammadiyah.

Bagi Haedar Nashir Muhammadiyah memiliki jati diri sendiri dalam pemikiran keislamannya. Tidak perlu latah terhadap pemikiran keagamaan yang bersliweran dalam kehidupan kemasyarakatan. Jadi orang Muhammadiyah adalah menjadi teladan umat, berjuang di Muhammadiyah sama artinya dengan berjuang di jalan Islam.

Moderat, Kultural dan Berkemajuan:
Dalam Buku Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah, Haedar Nashir memahami alam pikiran Muhammadiyah dapat digali dalam dua level, yakni pemikiran tokoh Muhammadiyah dan pemikiran adhoc organisasi.

Pemikiran tokoh Muhammadiyah seperti Kyai Ahmad Dahlan, Mas Mansyur,Kyai Hadjid, Buya Hamka, AR Fakhrudin, Ahmad Azhar Basyir, M Amin Rais, Kuntowijoyo,Buya Syafii Maarif dll bisa menjadi kompas dalam mencari penyelesaikan atas masalah aktual pada masanya. Sedangkan pemikiran kolektif yang tertuang dalam keputusan resmi Muhammadiyah merupakan dasar pijakan dalam menemukan alam pikiran Muhammadiyah yang normatif dan doktriner.

Ada sebagian orang yang menganggap Haedar Nashir adalah liberal, yang dihadapkan dengan Yunahar Ilyas yang lebih puritan. Kalau kita membaca pemikiran keagamaan Haedar Nashir tidak ada ajakan untuk menjadi sekuler,liberal dan pluralis.

Haedar Nashir mengajak kepada umat Islam untuk paham dengan semangat zaman. Pemurnian Islam yang ditawarkan Haedar Nashir adalah pemurnian Islam yang luwes, pemurnian pembaharuan.

Sebagai sosiolog Haedar Nashir selalu menghadirkan konteks masalah yang sedang dihadapi dan memberi tawaran penyelesaian yang didasarkan atas semangat wahyu Al-Quran dan Sunnah Maqbullah dengan reinterpretasi kekinian. Islamnya Haedar Nashir adalah Islam yang progresif, Islam yang mencerahkan.

Haedar Nashir ingin membawa Persyarikatan yang didirikan oleh Kiai Dahlan ini sebagai gerakan Islam Modern yang memiliki pilar moderat,kultural dan menawarkan Islam yang mencerahkan dan berkemajuan.

Baca juga:  Kilau-kilau Cahaya Ramadhan

Moderat berarti Islam yang pertengahan/washatiyyah yang tidak ke kanan dan tidak ke kiri.

Kultural adalah yang berjuang dalam wilayah kemasyarakatan dan bukan dalam bidang politik.

Berkemajuan adalah Islam yang tidak mandeg, Islam yang mampu menyesuaikan dengan dinamika zaman dengan memberi soluasi dengan pikiran-pikiran yang maju dan mencerahkan.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...