“Mocone Geser Nang Jepara”: Kisah Pergerakan Pengetahuan Dari Kudus


Oleh: Darul AR, Pegiat Literasi

Catatan ini dituliskan di Jepara, 03 Maret 2018 untuk menceritakan salah satu peristiwa literasi di Indonesia.Puji syukur kami panjatkan atas kehangatan acara lapak baca gratis yang pada malam minggu kemarin geser/pindah ke jepara. Acara ini sebenarnya di Inisiasi oleh kawan kita dari Gubuk warna dan mengajak kawan komunitas Omah Aksi dan Pustaka Jalanan Kudus dalam rangka guyub moco geser nang jeporo. Tulisan ini juga hendak memperkenalkan kegiatan lapak baca yang kami asuh bersama ini dimulai 19.00 s/d 23.05 WIB. Sepertinya tidak banyak perpustakaan jalanan yang buka di malam hari. Kami dari pusjal kudus berangkat bakda ashar dari kudus bergeser menuju Jepara. Sampai lokasi di Jepara pukul 18.30 WIB.

Dan Alhamdulillah sambutan serta partisipasi dari masyarakat jepara cukup hangat, yang mana pada kesempatan malam minggu di Alun-alun jepara ini masyarakat terlihat cukup antusias mulai dari hanya sekedar mendekati buku sampai mengajak kawan-kawan komunitas kudus untuk berdiskusi. seperti yang di ucapkan madun warga Jepara sekaligus juga pegiat literasi di desanya mengatakan; kegiatan seperti ini “sebenarnya sudah tak tunggu-tunggu , karena membaca adalah sudah menjadi kebutuhan dan membaca adalah budaya positif yang sebaiknya kita lestarikan bersama”.

Sebenarnya menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan. Manakala masyarakat Jepara, masyarakat yang daerahnya pernah didiami oleh pahlawan nasional R.A. Kartini tidak mengerti sejarahnya. Tidak mengerti perjuangan pahlawannya. Padahal R.A Kartini dengan semangat pendidikan literasinya, membasmi buta huruf dan membuka sekolah gratis. Akan tetapi kenyataannya sekarang sangat berbeda. Jepara yang di gadang2 menjadi kotawisata, menjadi kota yang tak terarah karena masyarakatnya mengejar material semata. Oleh karena itu budaya literasi sengaja dihadirkan ketengah-tengah masyarakat untuk mendorong daya pengetahuan rakyat lebih tumbuh.

Disisi lain, saat ini minat akan membaca di karesidenan pati dinilai menunjukan prosentase yang tidak begitu memperlihatkan angka yang tinggi namun malah terkesan masih kurang begitu diminati, sehingga adanya kegiatan lapak baca yang bergeser ke daerah Jepara ini juga diharap terus memberi semangat untuk masyarakat bahwa hidup tak selalu soal perut namun juga otak. “Sebagai malam minggu bukan selalu yang identik dengan kegiatan yang bernilai negatif namun bermalam minggu pun bisa diisi dengan membaca buku, berdiskusi lalu outputnya ke aksi,” ucapnya salah satu pegiat, Gewol dari Gubuk Warna.

harapannya untuk kegiatan seperti ini lebih sering lagi diagendakan bersama komunitas-komunitas di kudus dan telebih juga mengajak komunitas-komunitas di karesidenan pati, sehingga kegiatan yang dinilai positif bukan hanya kita yang dapat merasakan namun masyarakat luas pada umumnya.