Meruwat Kemalasan Membaca


Agus Riyanto, Relawan GBK Metro

 

Meruwat Kemalasan.Setidaknya ada tiga kata dasar dari judul tulisan ini yaitu kata-kata “Ruwat”, “Malas” dan kata “Baca”. Istilah ruwat bukanlah kata yang asing terdengar di telingan kita, lebih-lebih bagi masyarakat Jawa.

Kata-kata “meruwat” berasal dari kata “ruwat” yang berarti “terlepas (bebas) dari nasib buruk yang akan menimpa”. Budaya ruwat dalam kebudayaan Jawa ini dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari unsur-unsur negatif yang melekat pada sesuatu. Sehingga bisa kembali normal, tak mendatangkan bahaya atau bala’ (bencana).

Pengertian Ruwatan adalah suatu upacara atau ritual yang bertujuan untuk mengusir nasib buruk atau kesialan yang ada pada seseorang. Upacara adat Jawa ini masih sering terlihat, terutama di Jogja dan Jawa Tengah serta sebagian besar Jawa Timur. Dipercaya bahwa setelah adanya ritual ini, maka kehidupan seorang yang diruwat akan menjadi lebih baik, lebih sejahtera dan lebih beruntung.

Apa kaitan atau korelasinya antara budaya ruwat atau meruwat dengan kemalasan membaca seseorang ? Mengapa orang malas membaca mesti di ruwat ? dengan cara bagaimana meruwatnya ? Apa tujuan meruwat kemalasan membaca. Tulisan yang singkat ini di kandung maksud sebagai pemantik diskusi dan obrolan kecil dalam masyarakat, sehingga kita secara bersama dapat merawat ruh literasi pada diri, keluarga dan masyarakat.

Meruwat dalam konteks obrolan ini, dimaknai sebagai upaya mengembalikan ruh, semangat dan perjuangan disaat awal-awal seseorang belajar untuk bisa membaca. Kita semua merasakan betapa kuat semangat dan perjuangan kita waktu itu, dimulai dari bagaimana kita menghafal huruf-huruf dari A sampai Z. Bagaimana kita menggabungkan huruf per huruf agar kemudian menjadi sebuah ejaaan, lalu belajar kata perkata, kalimat demi kalimat, yang sampai pada akhirnya kita bisa membaca dengan baik dan lancar. Jerih payah untuk bisa membaca ini berkat pendampingan orang tua di rumah dan guru yang sabar membimbingnya di sekolah. Betapa bangga dan senangnya kita disaat disuruh membaca di depan kelas dengan gagah berani bercampur grogi sekalipun masih terbata-bata membacanya.

Bagaimana dengan sekarang ? Setelah kita sudah lancar bahman fasih membaca. Apakah kita terus membiasakan membaca setelah kita bisa ?. padahal kita sudah berjuang semaksimal mungkin dalam waktu yang lama untuk itu. Pada realitasnya kita tidak mampu merawat semangat dan kemampuan kita membaca untuk terus membaca dalam rangka menambah wawasan dan pengetahuan. Menukil hasil penelitiannya UNESCO tahun 2012 bahwa prosentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca, sedangkan indek minat baca bangsa Indonesia berada di posisi 60 dari 61 negara yang disurvei.

Fakta Inilah yang memberi alasan yang kuat mengapa kita perlu diruwat atau meruwat diri karena “kemalasan membaca”. Dengan meruwat diri di kandung maksud agar kita kembali ke semangat dan perjuangan saat kita masih belajar untuk bisa membaca. Membaca itu penting sebagaimana pentingnya belajar untuk bisa membaca. Membaca itu mampu menambah keluasan dan kedalaman ilmu dan pengetahuan kita terhadap sesuatu. Membaca juga menjadi bagian dari memenuhi perintah agama yang tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq : 1-5, wahyu yang pertama kali diturunkan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW diawal kenabian.

Strategi Meruwat
Cara meruwat kemalasan membaca kita adalah mesti meruwat nilai-nilai ideologis keagamaan kita yang sudah lama tidak diamalkan, meruwat ruh dan semangat untuk belajar sepanjang hayat (life long education) dengan terus membaca dan belajar sampai ajal menjemputnya, meruwat semangat dan ruh menuju kehidupan yang lebih berkemajuan dan bermartabat atau dengan kata lain “Supayaning Urip Ana Urupe”, dan seterusnya.

Membaca itu perkara mudah karena memang kita sudah bisa membaca yang sulit itu mengobati dan menghilangkan penyakit kemalasan membaca, membaca itu kan persoalan kecil, yang menjadi persoalan besar itu adalah persoalan lemahnya kemauan untuk membaca, sebetulnya kita juga semua sudah tahu bahkan paham bahwa membaca itu adalah kebiasaan orang-orang hebat, yang sulit itu menggerakkan kebanyakan orang untuk menjadi orang hebat dengan membiasakan membaca. Nampaknya dengan survei UNESCO di atas masih banyak jamaah/kafilah yang perlu diruwat.

Dengan cara apa kita meruwatnya ? Meruwat kemalasan membaca bukan hal yang mudah, butuh perjuangan panjang, perlu menyiapkan energi lebih, butuh menyusun banyak strategi dengan berbagai problem yang terjadi, dan yang terpenting adalah butuh komitmen yang kuat dan berkelanjutan untuk terus mengedukasi masyarakat agar keluar dari “jeratan kemalasan membaca”.

Gerakan mengedukasi masyarakat untuk giat membaca butuh stratregi yang sistematis, terorganisir dan masif sebagai upaya meruwat kemalasan membaca yang mewabah secara massal di tengah masyarakat. Membangun kesadarannya mesti dimulai dari basis-basis terkecil masyarakat yaity dari keluarga, dari satu lingkungan RT (Rukun Tetangga), komunitas, lalu menjadi gerakan bersama masyarakat dalam satu kampung/desa/kelurahan.

Meruwat kemalasan membaca juga mesti diimbangi dengan penyiapan sarana dan prasarana membaca seperti tersedianya buku-buku yang disediakan/dipinjamkan/dibagikan secara gratis untuk dan dari rumah ke rumah, menginisiasi dan memperbanyak sanggar/taman/griya baca atau belajar warga. Tanpa adanya penyediaan fasilitas membaca terutama buku-buku maka bagaimana bisa meruwat kemalasan membaca kalau bahan bacaan saja tak tersedia/terfasilitasi. Selain kita harus terus mengedukasi/memotivasi semangat membaca kepada masyarakat secara luas secara kontiyu dan berkelanjutan.

Meruwat untuk Merawat
Merawat ruh dan semangat membaca itu mungkin lebih sulit dan susah dibandingkan merawat fasilitas publik seperti perpustakaan- perpustakaan yang dimiliki sekolah, perguruan tinggi dan pemerintah. Walaupun mereka kesulitan juga untuk merawat ruh dan semangat dalam menyemangati masyarakat untuk giat membaca di perpustakaan.
Ini bukan bermaksud menyindir sekaligus banyak pula benarnya. Sekalipun mereka punya personil SDM pustakawan, pegawai sesuai tupoksi pembidangan, anggaran tersedia, fasilitas tersedia, dan sebagainya.

Meruwat dan merawat ruh dan semangat membaca mesti lahir dari alasan ideologis yang kuat dan mengakar dalam-dalam, agar pohonnya memberi keteduhan dan berbuat kemanfaatan. Tanpa ideologi yang kuat dan mengakar maka pasti ada kejenuhan, putus asa dan tak berkelanjutan (berumur seumur jagung) apalagi kalau niatnya cuman gagah-gagahan, berkacak pinggang, berharap sesuatu yang sangat duniawi. Butuh keikhlasan dan pengorbanan baik jiwa maupun harta benda. Merawat ruh dan semangat apapun program dan gerakan mesti dilandasi nilai-nilai ideologi dan keihklasan dalam berjuang. Selain strategi-strategi taktis dilapangan untuk gerakan literasi yang akan dan sedang dibangun/dilakukan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *