Menyemai ide literasi, menyemai kegembiraan


Oleh Roynaldy Saputro
Guru dan pegiat literasi

 

Tak sengaja di satu waktu saya melihat story WA terdapat postingan alamat website yang berisi tulisan seseorang. Tulisan tersebut ternyata dari salah satu pegiat literasi kudus. Bahkan bisa disebut salah satu pendiri “Pustaka Jalanan Kudus”. Dia adalah abdul ghofur, mahasiswa semester 6 IAIN Kudus yang tahun ini juga di amanahi sebagai ketua umum IMM Komisariat Adz-Dzikr IAIN Kudus.

Dalam tulisannya, saudara ghofur membahas tentang tangga idealisme mahasiswa. Tulisan tersebut dibuka dengan kutipan Victor Serge Bolshevik, yang terdapat pula dalam salah satu buku karya Eko Prasetyo. Isi tulisan tersebut sendiri, menjelaskan 4 karakteristik kepribadian mahasiswa dalam kampus. Yaitu mahasiswa akademis, mahasiswa romantis, mahasiswa hedonis, mahasiswa organisatoris.

Tidak salah memang, ghofur menjelaskan perihal demikian. Karena tulisan tersebut memang di tujukan kepada mahasiswa baru IAIN Kudus. Tulisan yang dimuat oleh salah satu lembaga pers mahasiswa IAIN Kudus itu diharapkan mampu memberi gambaran kehidupan mahasiswa kepada mahasiswa baru. Harapan yang setidaknya menjelaskan bahwa mahasiswa mempunyai 4 karakteristik demikian.

Bagi saya isi dari tulisan tersebut sudah bagus, akan tetapi pengalaman yang saya temui, dalam memudahkan menjelaskan kepada mahasiswa baru yang rata-rata belum mengenal dunia kampus. Alangkah lebih baiknya menggunakan diksi yang lebih populis dalam contoh 4 karakteristik tersebut. Sebagaimana yang pernah saya temui, ada beberapa singkatan yang bisa menggambarkan kehidupan mahasiswa. Yaitu kura-kura ( kuliah rapat kuliah rapat ), kupu-kupu ( kuliah pulang kuliah pulang ), dan kuker ( kuliah kerja ).

Lebih lanjut, alangkah lebih baiknya tulisan tersebut memberi gambaran umum tentang sejarah menjadi mahasiswa. Menjelaskan pula apa arti mahasiswa tersebut. Apa perbedaannya mahasiswa dengan siswa ?. Terlebih perlu juga menjelaskan bagaimana seharusnya menjadi mahasiswa ditengah-tengah pelemahan gerakan mahasiswa oleh situasi kondisi bangsa sekarang ini. Sistem pendidikan yang hanya sedikit memberi ruang gerakan-gerakan mahasiswa perlu dicontohkan. Kriminalisasi terhadap gerakan mahasiswa perlu dihadirkan. Seperti kasus-kasus gerakan mahasiswa bersama rakyat melawan P.T. RUM. Pergerakan mahasiswa dengan rakyat di Kulon progo serta gerakan mahasiswa yang menyebarkan virus-virus literasi.

Apalagi ketika tulisan tersebut bisa menghadirkan contoh dan menjelaskan bagaimana fungsi mahasiswa. Pasti tulisan tersebut akan lebih komprehensif. Fungsi mahasiswa sendiri adalah sebagai agen of change yaitu agen-agen pembawa perubahan. Social control yaitu fungsi mahasiswa sebagai penengah antara kebijakan pemerintah dan suara rakyat. Guardian of Value yaitu fungsi mahasiswa sebagai manusia-manusia yang mencari kebenaran. Dan iron stock yaitu fungsi mahasiswa sebagai generasi pengganti kepemimpinan dikarenakan mahasiswa adalah cadangan generasi penerus terbaik.

Terlepas dari masukan saya. Saya merasa bersyukur karena literasi di kudus sendiri sudah berkembang. Dari sekadar membuka lapak dan berdiskusi di pinggir jalan ketika CFD ( red : Car Free Day ). Sekarang sudah beranjak dalam hal tulis menulis menyampaikan gagasan.

Bagi saya, ini adalah buah dari menyemai ide dan kegembiraan literasi.

Penyemaian ide memang bukan langkah jangka pendek tetapi langkah jangka panjang. Bagaimana waktu dulu ide hanya kita bisa nikmati dari buku dan diskusi, sekarang bisa kita hadirkan / sajikan untuk semua orang. Gagasan yang bermula dari ide-ide sederhana yang pernah dibaca atau didiskusikan bisa menjadi kegembiraan dalam ber ekspresi literasi.

Akhirnya selamat menikmati buah proses literasi, jikalau dahulu kita bergembira dengan menghadirkan gagasan orang lain melalui lapak “baca buku grstis” dipinggir jalan, mendiskusikan gagasan orang lain di rumah perkaderan yang sepi dari hingar bingar perkotaan. Maka sudah saatnya kita menghadirkan gagasan kita sendiri dengan tulisan-tulisan. Kemerdekaan berfikir akan kita capai dalam melewati proses kegembiraan literasi ini.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *