Menyelamatkan Negeri Dari Kehancuran


Oleh: David Efendi)*

Keberanian seorang pemuda adalah keberanian mengelola hidup, kemauan memperbaiki, dan ketangguhan untuk menata kehidupan yang hancur lebur menjadi lebih bermartabat. Gambaran ini dilukiskan sangat baik oleh Gabriel Garcia Marquez (2003) dalam bukunya serratus tahun kesunyian, novelis Amerika Latin ini seorang penulis kelas dunia yang diganjar dengan hadiah nobel sastra. Di dalam alam kehidupan yang liar, buas, brandal, bengis, dan kejam kadang itu prakondisi untuk melahirkan sosok pemimpin yang berkarakter kuat, berani, berpihak, pro orang miskin, dan menempatkan pengabdian sebagai suatu tanggung jawab moral intelektual. Medan juang yang penuh resiko juga seringkali menjadi awal mula habitat manusia manusia yang penuh dedikasi, pengorbanan, kemuliaan. Pemimpin yang tidak ingah ingih dan kagetan tidak pernah dilahirkan dari alam yang biasa-biasa saja. Kalau di desa ini hanya menampakkan situasi yang datar dan biasa biasa, tidak pernah konflik, tidak penuh dengan kegentingan, pada umumnya hanya akan mencipta sebuah kepemimpinan yang biasa-biasa. 

Di dalam pentas politik nasional dan global, di tengah eforia disrupsi internet dan revolusi industry 4.0 atau 5.0 di Jepang, misalnya, justru ada kebenaran yang diam-diam diamine banyak orang bahwa keadaan dunia ini sudah hancur lebur. Negara negara arab saling bunuh, negara Amerika menghancurkan negeri orang lain tanpa ada sanksi dan definisi penjahat perang. Keadaan yang sangat kacau dan tidak ada jalan keluar.Ini adalah keadaan yang orang-orang Yanuani akan berkata: O tempora, o Mores. 

Hal ‘yang biasa’ tidak selalu buruk, banyak psikologi kejiwaan manusia manusia yang menempatkan ‘yang biasa’ sebagai zona nyaman. Tahun 1995-1998, ada ekspresi anti status que dan anti kemapanan yang sangat besar hingga berakhir pada kejatuhan simbol Orde Baru,Soeharto (tapi, orde baru sebagai Teknik berpolitik sesungguhnya tak pernah mati bahkan terus dihidupi dalam alam demokrasi sekarang).  Satu tahun terakhir, kita menyaksikan ada gelombang arus balik yang justru lebih suka mempertahankan kekuasaan ketimbang agenda mengganti dan mengoreksinya. Jokowi dengan segala macam antek-antek patologis atau kroni olirakhi justru mendapatkan dukungan dari masyarakat luas yang notabene punya historis: anti mesin politik status que

Sekarang kita coba sedikit mengobrolkan keadaan politik di level pedesaan.  Di Indonesia terdapat 800 ribu desa. Dari sekian banyak desa, ada yang maju, ada yang kreatif, ada yang berkemajuan, ada yang keren, ada yang babak belur, ada yang kepala desanya tersangkut korupsi, ada warna warni tata kelola manusia dan alam yang berbeda. Keberagaman potendi, capaian, sekaligus problematika sebagai sunnatullah. Tapi ada hal-hal bernilai yang tentu saja yang diperjuangkan dengan penuh kesungguhan oleh manusia di dalam ekosistem sosial politiknya. 

Pertama, politik harapan. Pasca reformasi adalah perjuangan sosial politik untuk menciptakan suasana demokratis. Anti militerisme, anti penindasan, anti kesewenangan sebagai tematik perjuangan. Berkelinan juga, seruan seruan demokrasi langsung (direct electoral), pengadilan terhadap kejahatan hak asasi manusia, partisipasi publik, tolak segala bentuk KKN, dan juga upaya menjaga lingkungan hidup dari petaka skema pembangunanisme. Kita lihat, anak-anak muda yang berani mencalonkan diri sebagai caleg, bupati, dan kepala desa diberbagai daerah. Ini signal yang positif bagi agenda pembangunan infrastruktur dan supra struktur demokrasi. Panen raya demokrasi ini secara idealitas telah dimimpikan oleh Muhammad Hatta dalam Demokrasi Kita. Hanya saja, demokrasi ini masih meninggalkan banyak lubang hitam dan memerlukan koreksi secara serius, sistematis, dan terstruktur.  Tanpa koreksi yang radikal, demokrasi kita mewujud sebagai praktik legalisasi kejahatan politik—dan menjadi bukti ketakutan para filosof terdahulu bahwa sistem demokrasi adalah sistem terburuk jika gerombolan yang mendapat mandat/amanah adalah gerombolan oligarki dengan menjadikan rakyat bodoh menjadi pemilihnya yang dalam jangka waktu tak lama akan membunuh subtansi nilai-nilai demokrasi. Ketakutan ini telah dibuktikan dalam buku How Democracy Die yang ditulis Stevel Levistky dan Daniel Ziblatt baru baru ini. Amerika, kampium demokrasi melegalkan penghancuran manusia demi demokrasi—demokrasi dibunuh secara demokratis oleh orang yang dipilih secara demokratis dalam pemilu. 

Tidak adanya oposisi, matinya proses check and balancesdi dalam kehidupan politik termasuk dalam level desa mengakibatkan kecenderungan munculnya pemerintahan yang demagog—tidak peduli kritik, bahkan marah dan bengis menghadapi para pengkritiknya. Ini semakin banyak dan sering kita jumpai. Lahirnya raja raja kecil di zaman demokrasi yang seolah bekerja melayani rakyat tetapi gagal sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Kalaupun ada dimensi kerakyatan, kadang hanya bersfifat artificial alias pencitraan. Inilah pekerjaan Rumah bagi kaum muda yang merasa memiliki masa depan. Revolusi mental yang konsepnya surgawi kadang jauh panggang dari api. Kita renungkan, revolusi mental itu ada gerakan Indonesia melayani, gerakan Indonesia bersih, Indonesia tertib, Indonesia mandiri, dan gerakan Indonesia bersatu. Faktanya, kita melihat keterbelahan bangsa, ketergantungan impor, masih lekatnya korupsi sebagai praktik kepemerintahan yang lemah (ungovernability), dan banalnnya perlakuan pemegang kekuasaan kepada lawan-lawan politiknya.  

Kedua, agenda politik kesejahteraan. Revolusi industri 1 sampai 4.0 bahkan Jepang sudah 5.0 sebagai upaya teknikalisasi persoalan. Ada anggapan bahwa semakin melek teknologi masyaraat semakins sejahtera. Semakin banyak dan kuat jalan di beton, Gedung-gedung besar akan bedampak bagi kebaikan manusia. Tidak semua salah, tapi banyak yang tidak beres. Perlombaan membangun infrastruktur meninggalkan persoalan serius karena pembangunan manusia-nya ditinggalkan. Dalam konteks nasional, kelompok pemodal kaya yang paling diuntungkan dari skema pembangunan di berbagai daerah yang dibayar dengan hutang. Pasar bebas, akan minta bayaran tuntas: kemiskinan sebagai dampaknya, hancurnya sektor pertanian, rusaknya ekosistem lingkungan, pengangguran lokal akibat impor tenaga ahli dan kasar, dan seterusnya. 

Optimism yang dibangun kaum muda generasi milenial haruslah optimism yang rasional dan berdaya tahan lama. Gerakan membangun desa, gerakan pro aktif untuk masyarakat tidak hanya slogan yang dibangun di atas falsafah: hangat hangat tahi ayam, tapi barangkali hasrat kolektif membangun ini bisa mengikuti falsafah rubuh-rubuh gedang. Untuk lebih kongkrit, benar bahwa semua permulaan Nampak sulit. Namun gerakan anak muda harus berani melawan keterbatasan dan hambatan. Setidaknya ada lima hal komitmen yang hendak dibangun kaum muda di mana pun berada. Pertama, memperkuat partisipasi politiknya di ruang ruang kenyataan sebagai wujud keduaulatan kaum progresif di desa. Setidaknya 20 tahun kedepan adalah sejarah kaum muda, jadi harus aktif mulai sekarang. Kaum muda harus menadi agensi tangguh memastikan negara berbuat benar, bijak dan bajik. Kedua, mendorong praktik pemerintahan yang terbuka/transparan. Banyak uang rakyat, banyak skema pembangunan yang anak muda harus terlibat dan berperan. Ketiga, menegakkan moralitas autentik di masyarakat. Keempat, keadilan dan perbaikan orientasi pembangunan semesta.  Banyaknya disorientasi pembangunan membuat malapetaka. Banyak banjir sampah di desa-desa, banyak kehancuran lingkungan akibat salah diagnose. Sumber daya pangan yang asli lokal tak dikembangkan dan tergantung kepada pangan di luar sana akibatnya kerawanan pangan semakin mengancam. Kesejehteraan tidak bisa hanya dipenuhi oleh material, tetapi ketersediaan alam yang sehat, lingkungan air yang bersih, udara segar adalah menjadi penentu keberlangsungan kehidupan. 

Kehebatan kaum muda adalah keakrabannya dengan piranti canggih. Dari sana lah diharapkan inovasi manusia terus tumbuh menjawab kebutuhan ummat. Dari kesungguhan berhidmat, kemampuan SDM yang terus diperbaharui, energi perjuangan yang tak pernah padam sebuah bangsa dan menata dan menyelamatkan negerinya dari kehancuran. Membangun dari reruntuhan rezim yang rusak akibat sistem totalitarian butuh tenaga dan sumbangsih besar kaum muda. Kata Vaclav Havel, Presiden pertama Cekoslovakia, jika mau membangun pastikan kita percaya bahwa setiap manusia punya kekuatan dan kekuasaan (the power of powerless), ketika mampu mengkonsolidasikan semua kekuatan ini, sebuah agenda reformasi bahkan revolusi akan menjemput takdir baiknya. Asal kita tahu, Muhammad Amien Rais telah paripurna mengamalkan keyakinan ini tahun 1998 puncaknya, entah apakah akan terjadi gelombang berikutnya. Wallahu a’lam bishawab. 

)*Pegiat Taman Pustaka


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *