Menyalakan Api Literasi di Ruang Belajar

David Efendi

Ketua Serikat Taman Pustaka @pekerjaliterasi

 

_Judul Buku: Menghidupkan Literasi di Ruang Kelas_

_Penulis: Sofie Dewayani_

_Tahun Terbit: 2017_

_Penerbit: Kanisius, Yogyakarta_

 

Judul resensi ini saya bikin mirip dengan judul buku aslinya. Judul buku sudah pas dan tepat mewakili suasana kebatinan bangsa yang sedang membangun literasinya, mempersiapkan sembari memperbaiki takdirnya. Buku ini jelas menjawab kebutuhan berbagai kalangan yang berurusan dengan literasi di Indonesia. Urusan literasi telah meluas sedemikian rupa keluar dari yang konvensional: urusan membaca dan menulis. Literasi telah menjadi ruang tumbuh sekaligus proses yang terbarukan, digerakkan oleh ragam gagasan inovatif di dalam mendorong keberhasilan proses pembelajaran aktif di kelas dan ruang-ruang Pendidikan lainnya seperti pusat-pusat kegiatan masyarakat seperti taman baca, pustaka bergerak, dan rumah baca berbasis komunitas. Kelebihan buku ini sangat banyak, terutama pada kekuatan praktiknya seperti referensi mengenai cara mengoperaskan beragam bahan ajar dan bacaan yang dapat diakses dan dipelajari secara mudah oleh guru, fasilitator, pengelola kegiatan literasi.

Tidak banyak buku literasi yang memadukan hal akademik dengan hal praktis. Buku Sofie ini adalah salah satu buku yang kuat dalam teori-teori akademik sekaligus kaya dengan contoh penerapan praktis di ruang kelas. Karya Sofie Dewayani setebal 175 halaman yang dapat diakses online  di ipusnas ini juga dilengkapi beragam tips praktis untuk ‘menciptakan program literasi yang beragam, kontekstual, bermakna, dan berkelanjutan.’ Hal ini menjadikan buku ini sebagai buku referensi penting dan wajib bagi kalangan pegiat literasi yang ingin memperkuat dampak gerakannya.

Tantangan berat selama ini gerakan literasi adalah tidak integralnya aktifitas membaca menulis dan cara berfikir kritis sebagai bagian tak terpisahkan dari kegiatan Pendidikan dan peningkatan intelektualitas. Hal ini menjadikan program literasi Pemerintah lebih meriah dan marak pada festival kegiatan dan kurang subtantif. Tidak sedikit tenaga pendidik sekolah yang tidak mengerati tentang mengapa perlu kegiatan literasi di sekolah, apa tujuannya, bagaimana melaksanakan, bagaimana mengevaluasi dan contoh-contoh keberhasilan pelaksanaan literasi di ruang-ruang kelas. Kegiatan membaca rutin 15 menit di sekolah dipraktikkan hanya dengan kegiatan membaca masal di luar kelas dengan buku ala kadarnya sementara perpustakaan tidak memadai, ruang kelas tidak ada perpustakaan kecilnya, dan bahkan kesannya program ini hanya ramai diperbincangkan dan miskin inovasi. Ada pula, membaca 15 menit cukup diganti dengan membaca al-Qur-an saja untuk murid-murid dan tidak menambah bacaan lainnya. Program 15 menit ini sebenanya hanya salah satu upaya pembiasaan, masih ada sejuta cara lainnya.

Buku “Menghidupkan Literasi di Ruang Kelas” karya Sofie Dewayani selain mendapatkan momentum tepat di tengah kebangkitan gerakan literasi buku ini jelas sangat informatif dan dekonstruktif. Buku ini memberikan  berbagai pengetahuan yang baik kepada pembaca tentang literasi. Literasi bukan tentang melek Aksara saja sebagaimana zaman kolonial (hal. 9). Pertama dan utama, literasi harus sampai kepada pembentukan karakter dan sikap kritis terhadap informasi dan pengetahuan yang diterima. Dalam buku lainnya, Sofie memperkuat posisi aktifitas literasi sebagai praktik sosial yang disempurnakan dengan berjuta ragam peristiwa literasi yang akan membentuk habitus berliterasi.

Beberapa tesis utama buku Sofie ini adalah antara lain, pertama, kebiasaan membaca (literated) mempunyai hubungan relative kuat dengan  pencapaian akademik para siswa atau pembelajar (hal. 26). Peserta didik yang gandrung membaca mampu memahami teks bacaan matapelajaran dengan lebih baik dan lebih cepat. Kehadiran buku-buku non-mata pelajaran, baik yang fiksi maupun yang non fiksi membantu memberi kesempatan untuk menelaah keragaman bacaan sehingga memiliki nalar dan imajanasi yang produktif. Sejatinya, antara cara buku pelajaran dan buku non-matapelajaran sebagai bahan ajar yang saling menunjang satu sama lain. Kesatuan ini perlu dihadirkan dalam ruang kelas, ruang komunitas dalam bentuk sudut-sudut baca.

Tantangan pembiasaan membaca salah satunya adalah dunia digital sehingga  menurut Sofie program gerakan literasi yang hanya terfokus kepada bahan bacaan tercetak (printed material) bisa kurang berhasil karena sasarannya adalah anak-anak yang sudah akrab dengan media visual dan online. Jadi, fasilitator gerakan literasi anak milenial harus pandai-pandai mengemas program literasinya sehingga cocok dengan dunia peserta didiknya.. Sofie mencontohkan banyak sekali aktifitas yang menyenangkan misalkan sebuah kegiatan membandingkan foto iklan makanan dengan makanan itu sendiri misalnya dengan mendiskusikan mengapa iklan makanan selalu lebih menarik daripada aslinya (hal. 48).

Tesis berikutnya adalah, bahwa untuk menyelahkan api literasi di ruang kelas (hal. 99) sangat penting apa yang disebut dengan keteladanan (_role model_) yang akan membentuk ekosistem literasi anak sejak dini. Artinya pengajar harus menjadi contoh individu literated bagi para siswanya. Seorang guru haruslah tampil luar biasa dan berprestasi yang ditunjukkan bahwa semua itu akibat dari habitus membacanya dan kesukaan terhadap menulis serta sikap kritis. Fungsi guru juga untuk mengevaluasi capaian gerakan literasi dan juga pengeruhnya kepada penguasaan akademik serta karakter baik siswanya.

Selain buku ini perlu dilengkapi visualisasi yang lebih memadai untuk memberikan gambaran menarik bagi fasilitator kegiatan literasi, saya kira sangat perlu juga memperkaya diri dengan membaca buku refleksi gerakan literasi yang ditulis oleh Billy Antoro dengan judul “Gerakan Literasi Sekolah Dari Pucuk hingga Akar” (2017). Selamat berkarya untuk guru-guru se Dunia.

Leave a Comment