Menulis Tanpa Beban, Tanpa Tekanan, dan Tanpa Hambatan


oleh Hernowo Hasim

Mimpi saya baru saja terwujud. Mendekati habisnya hari-hari di bulan November 2017, buku ke-38 berjudul Free Writing (B-first, Yogyakarta, 2017) akhirnya beredar di toko-toko buku di seluruh Indonesia. Sejak ingin bisa menulis—sekitar 20 tahun lalu—mimpi saya adalah bisa (mampu) menulis yang tanpa beban, tanpa tekanan, dan tanpa hambatan.

Saya benar-benar merasakan kebahagiaan dengan terbitnya buku Free Writing. Buku ini mulai saya susun pada Januari 2016. Perlu waktu setahun untuk menyempurnakannya menjadi buku yang strukturnya dapat dikatakan lengkap dan memenuhi syarat sebagai sebuah buku. Di dalamnya ada semacam studi kepustakaan, ada contoh atau model penerapannya, dan ada tujuan yang jelas.

Kemudian, setelah jadi buku utuh, perlu sekitar setahunan lagi untuk mendapatkan penerbit yang bersedia menerbitkannya. Dalam proses editing, muncul ide-ide spontan dan baru sehingga di sana-sini saya perlu menambahkan beberapa boks tambahan.

Oleh penerbitnya, buku terbaru saya ini diberi tambahan judul kecil “Menulis untuk Mengejar Kebahagiaan”. Saya sempat mengusulkan “Menulis Tanpa Beban, Tanpa Tekanan, dan Tanpa Hambatan”. Hanya, akhirnya penerbit memilih yang ada kata kebahagiaannya. Sejatinya, ketika menulis buku ini, saya memang merasakan apa yang disebut sebagai kebahagiaan itu.

Sebelum terbitnya buku Free Writing, saya sudah terbiasa berkutat di dunia tulis-menulis dengan konsep-konsep yang cukup rumit dan pelik: Ada “mengikat makna”, ada “quantum writing”, dan ada pula konsep yang mencoba memadukan kemampuan menulis dengan kemampuan berkomunikasi yang saya istilahkan—meminjam gagasan psikolog Mihaly Cszekmihaly—dengan “flow”.

Kini kerumitan dan kepelikan itu sirna sudah. Saya “bebas” menulis. Kata “bebas” ini perlu saya beri tanda kutip. “Bebas” dapat diartikan dalam dua makna. Pertama, bebas dalam arti sesuka hati atau “sakenake udele dewe” (bahasa Jawa), dan kedua, bebas dalam arti ya menulis tanpa beban, tanpa tekanan, dan tanpa hambatan. Makna bebas yang kedua ini perlu penjelasan lebih jauh. Begini.

Dahulu, sebelum saya berhasil membukukan (merumuskan) konsep free writing, setiap kali ingin menulis saya pasti merasa dihantui oleh keraguan, ketidakpercayaan diri, dan juga segala macam kegalauan yang mencekam diri saya. Meskipun sudah menggunakan “mengikat makna”, “quantum writing”, dan bahkan “flow”, saya tetap merasakan berbagai ketidaknyamanan itu.

Sekarang, kondisinya benar-benar berbeda 180 derajat. Setiap kali menulis, saya senantiasa merasa yakin bahwa yang saya tulis tentu akan memiliki sesuatu yang baru dan berbeda dengan sebelumnya. Merasa yakin ini sangat penting sekali. Rasa itu tidak begitu saja dapat dihadirkan. Ada proses panjang yang perlu saya lewati. Ada pertarungan emosi yang sangat melelahkan dan, kadang, berdarah-darah.

Sesekali saya memang masih berjumpa dengan kegiatan menulis yang penuh kehampaan (kosong melompong atau ketidakbermaknaan). Hanya, berkat free writing, keadaan yang hampa itu cepat sekali dapat saya atasi. Ini tentu saja sebuah keterampilan—mungkin bisa disebut sebagai salah satu writing skills—yang sangat penting.

Bagi saya free writing memang tak sekadar konsep atau teori. Free writing sejatinya adalah praktik. Pemahaman tanpa dibarengi dengan penerapan tidak akan berdampak apa-apa. Dalam kaitannya dengan pemahaman itu sendiri sudah tentu akan ada nuansa perbedaan—apalagi dalam penerapannya. Namun, inilah kiat—untuk tak menyebut sebagai “seni”—menulis itu. Mungkin. [ ]


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *