Menulis Bagi Ali Audah


Oleh: Dede Dwi Kurniasih

Bagi Ali Audah, menulis serupa memasak. Mudah saja baginya bercerita ngalor ngidul dari tentang sopir fakultas kedokteran yang berbisnis kuliner, sampai ceritanya bersama soulmate berkelana kemana saja demi mengisi masa muda yang penuh bunga. Buku Chef Academica sangat pas saya baca sambil naik transjogja bila transit dari 3B ke 2B tanpa terlewat halte. Buku ini meramu dengan baik segala isi kepala Ali audah, baik itu tentang filsafat – keluarga – sampai nada emosinya tentang tulisan yang digunakan untuk menebar kebencian. Bagi Ali, menulis adalah menulis. Titik. Alih alih peduli pada sistematika, Ali memilih mencurahkan segala isi pikirannya dengan hal unik yang begitu dekat dengan seluruh manusia, lalu diisi dengan pendekatan filsafat dan ditutup dengan paragraf manis tentang dinamika rumah tangga biasa : menjemput istri, bercengkerama dengan anak, dan aktivitas keluarga lain yang membuat saya sadar bahwa nasib relasi yg buruk hanya milik filsuf Socrates dan Xanthippe.

Dibagian lain, Ali mengatakan bahwa kata-kata serupa tanaman pertanian. Sebagai seorang anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga dengan bertani padi dan sistem bagi hasil – saya agak merinding disko dengan opini Ali. Bukan perkara setuju atau tidak setuju, kita semua tahu bahwa metafor apapun bagi aktivitas apapun di negara ini begitu suram mengingat dengan banyaknya penduduk semua hal baik bisa belok menjadi buruk dan berdampak jauh lebih buruk. Chef Academica tidak menawarkan optimisme, pun pesimisme. Buku ini menawarkan sudut pandang lain dari segala hal yang terjadi dalah hidup kita. Jika selama ini saya melihat dasein dasolen adalah monopoli filsafat, Ali memangkas seluruh batasan itu. Baginya batasan itu tidak ada. Isu super fenomenal seperti kemiskinan bisa selesai dengan sedekah, menjedakan pikiran dengan aroma gorengan udang dari Maguwo. Sungguh penutup yang manis bagi isi pikiran yg njlimet.

Sebagai orang yang asing dengan Robandian, tulisan ini menghadirkan banyak kepingan yang gagal saya susun. Mungkin karena terlalu banyak micin dan video tik-tok yang saya konsumsi. Tapi sepanjang saya membaca Chef Academica, saya sangat setuju bahwa buku ini gurih dan renyah dibaca bahkan sejak kata pengantar. Ajaibnya, saya jadi paham bahwa silent readers merupakan metode baca tertentu. Selama ini saya menganggap istilah ini hanya milik pengguna sosmed yang maunya baca tanpa respon, padahal sebagaimana peserta tanwir atau muktamar—ia punya hak bicara dan suara. Tapi peserta grup WA ini memilih sebagai peninjau saja – yang hanya punya hak bicara, itupun tak digunakan. sebagaimana manusia lain yang memiliki masa lalu, Chef Academica kerap menceritakan kembali peristiwa bombastis itu dengan sangat biasa saja – ciri khas penggemar filsafat. Bagi Ali, peristiwa bahagia dan bombastis dalam hidupnya adalah tentang bunda Nazilah dan Prof Iman Robandi. Sebagai orang yang saat ini ingin mengabdi pada negara, saya tersentil pada tulisan identitas diri. Sebalnya lagi, tulisan berjudul dedikasi makin membuat saya galau memutuskan akankah melanjutkan proses pendaftaran atau tidak. Sekejap saja, saya ingin setiap orang membaca tulisan ini dan menggalau bersama sebab sedih sendiri merupakan marabahaya.

Ali Audah mengingatkan sejak awal bahwa buku ini memang untuk siapapun dengan profesi apapun, usia berapapun, dan tingkat pendidikan apapun. Taburan istilah filsafat mungkin membuat kita menjeda sebentar saat membaca. Namun kalimat selanjutnya mampu mengurai jeda ini dengan baik. Bagi seorang yang sejak awal meyakini menulis adalah sebuah kenikmatan, hampir seluruh tulisan dengan fenomena sederhana ini selalu tampak intelek. Saya setuju dengan Dr. Srie yang membubuhkan kalimat ini di sampul belakang : membaca buku ini dapat mengacak-acak alam pikir dan rasa. Saya nggak sampai acak acak sih, cuman ya tatanan otak saya lumayan kecampur tapi enak dan segar semacam es buah Gerjen yang delapan ribuan.

*ditulis untuk diskusi pada acara #NgajiLiterasi


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *