Menuangkan Ide dengan Menulis


Oleh: Ubay NA

Aktivitas menulis sudah kita semua alami sejak kecil. Mungkin sejak kita duduk di Taman Kanak-kanak (TK) sedikit-banyak mulai diajarkan menulis, bahkan sebelum itu mungkin kita telah didorong oleh kedua orang tua kita untuk belajar menulis. Berbagai hal yang ada di benak, kita tulis, corat-coret pada segala macam media, bukan cuma di buku, di tembok dan lantai pun banyak terukir tulisan-tulisan masa kecil kita.

Mengarang sebuah tulisan hasil pengalaman ataupun hasil pemikiran kita biasanya sudah diajarkan ketika kita masuk bangku SD, SMP, hingga SMA melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kita diajarkan membuat puisi, pantun, prosa, cerpen, naskah drama, resensi buku, dan sebagainya.

Kita semua sebagai orang Indonesia, faktanya mata pelajaran ini (Bahasa Indonesia) dalam UN (Ujian Nasional) seringkali mendapatkan nilai yang ada di bawah mata pelajaran lainnya. Kita sendiri sebagai orang Indonesia tidak paham betul dengan Bahasa Indonesia.

Mungkin sudah barang wajar, bukan menjadi hal yang tabu di kalangan siswa, bahkan mahasiswa sekalipun, dalam berbagai pelajaran selalu bergelut dalam teori A sampai Z dengan segala “tetek bengek”-nya, tapi sangat minim praktek. Jika ada tugas pun, solusi singkat nan praktis yang akrab kita sebut copas (copy-paste) atau menyalin pun sudah jadi hal lumrah.

Kita mengangkat bahu, meletakkan jari di atas tombol CTRL dan C lalu dilanjutkan dengan tombol CTRL dan V sudah sangat lumrah dan akrab dengan aktivitas belajar (pendidikan) kita, demi mendapat nilai dari para guru dan dosen.

Kenapa saya menggunakan kata “kita” disini sejatinya adalah sebagai bentuk koreksi diri ini. Tapi kenapa bukan dengan kata “aku” atau “saya” ? Saya meyakini bahwa hal tersebut telah menjadi rahasia umum dan kita semua tau, maka tulisan ini diharapkan sebagai sarana refleksi, membaca diri kita, sarana koreksi.

Akhirnya, aku pribadi sangat bersyukur bilamana belakangan ini tumbuh semangat untuk menuliskan buah pengalaman dan pemikiran maupun pendapat dan imajinasi “liar”-ku, sebelum hak menghirup oksigen ini dicabut oleh Sang Khalik.

Aku sibuk mengetik suatu pikiran dalam tulisan, lalu menghapusnya karena merasa itu “jelek”. Merasa terlalu perfeksionis dalam membuat tulisan. Satu per satu huruf kupaksa nampak di layarku. Kubaca satu persatu buku yang cocok untuk dimuat dalam rujukan wacanaku, tetapi bingung dengan menyatukan wacana-wacana dalam suatu tulisan.

Yang ada kemudian malah bukan suatu karya pemikiran atau sebuah wacana baru yang terbuat, tapi kepala ini seperti bergeser karena ledakan pikiran sesaat. Mungkin ini pertanda “awak” butuh istirahat.

Sambil termenung dan melamunkan angan-angan jika aku menjadi si A, si B, jika aku bisa begini, begitu, dan lain sebagainya.

Seketika terlintas nasihat Kakanda Pradana Boy dalam salah satu tulisannya yang memotivasi para penulis “newbie”, yaitu Think Big, Start Small, and Act Now. Berpikirlah, bermimpilah tentang sesuatu yang besar, memulailah dari hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan itu, dan segera lakukan ketika itu pula, jangan menunda-nunda.

Nasihat yang juga kerap disampaikannya dalam beberapa pertemuan selalu berputar-putar di pikiran dalam peristirahatan. Kata-kata itulah yang menjadi pendobrak kenapa harus belajar menulis dengan baik dan benar.

Seringkali aku berpikir tidak mendekati permasalahan sekitar dengan metode dan bahasa ilmiah.
Mengarang tanpa arah jelas, ibarat kapal yang mengarungi samudra tanpa nahkoda yang lihai, akan menabrak karang dan tenggelam bak film drama romansa Titanic tahun 1998 lalu. Kapal itu bagaikan gagasan luar biasa yang kemudian menghilang dalam lautan lepas.

Setiap orang pasti menginginkan aktivitas dan kegiatan berdasarkan apa yang ingin mereka pelajari, yang mereka minati, yang mendekatkan mereka menggapai tujuan dan keinginan mereka, bahkan seluruh kehidupan manusia adalah aktivitas dan usaha untuk menggapai keinginan itu bukan ?

Jika anda bertanya kepada saya ataupun kepada yang lain, “mengapa anda belajar menulis ?” Bisa jadi masing-masing tujuan antara saya dengan yang lain berbeda, namun pada dasarnya semuanya menginginkan kebahagiaan dari mereka sendiri, tetapi kesengsaraannya jauh jelas berbeda lagi. Dan yang jelasnya lagi tidak ada seorang pun (termasuk saya) yang melakukan serta kegiatan dan aktivitas dengan tujuan untuk memperoleh kesengsaraan.

Bukankah Al-Qur’an sendiri menyatakan bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” Dan pada ayat lain disebutkan, “Tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik.”

Allah menciptakan alam semesta laksana buku untuk menulis dan karya yang menuai hasil. Apakah yang saya nantikan dari buku kosong itu ? Semoga bukan sekedar lamunan kuliah gratis, pekerjaan santai tapi mewah, dan sebagainya.

Beberapa waktu lalu aku menyimak dengan seksama uraian Much. Khoiri, seorang pengelola pusat literasi di salah satu PTN di Surabaya. Beliau sangat produktif menelurkan karya-karya tulisannya, puluhan judul buku telah diterbitkan, luar biasa kataku.

Ia mengungkapkan bahwa menulis harus dilakukan dalam tiga tahapan, yakni pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Pembiasaan artinya butuh setidaknya bagi kita untuk memaksa pribadi kita untuk menulis, ibarat kata, berawal dari tidak bisa, dilakukan hingga terbiasa, akhirnya terbiasa dan menyatu dalam hidup kita.

Pengembangan dan pembelajaran berarti bahwa kita tetap harus terus mengembangkan tulisan kita. Jadi, jika untuk pembiasaan kita cenderung hanya menulis “semaunya”, maka dalam pengembangan kita harus memperbaiki kualitas tulisan kita dengan lebih sering bersinggungan dengan dunia literasi, banyak membaca dari berbagai rujukan, dan terus mengembangkan pemikiran dan tulisan-tulisan kita.

Maka itu, penting bagi kita untuk mulai menulis, berbagai hal dapat kita tuangkan dalam tulisan untuk melatih diri ini (pembiasaan) sambil terus menggali dan mengembangkan kualitas tulisan kita.

Pradana Boy di usianya masih terbilang cukup muda telah menghasilkan banyak karya, seorang Much. Khoiri di usianya yang menginjak 52 tahun telah menerbitkan puluhan karya dan gagasan, itulah contoh orang terdekat kita.

Mas Boy, begitu biasa kusapa beliau, menulis paling tidak di tiap pekannya, bahkan dalam momen tertentu beliau meningkatkan intensitas menulisnya. Pak Khoiri pun demikian, ia berujar bahwa hampir setiap usai subuh beliau menyempatkan waktu untuk menulis.

Kita ambil contoh lain orang-orang yang terdahulu akan lebih “mengerikan”, lihatlah sosok para ilmuwan dan tokoh islam di era Abbasiyah, beribu karya, ide dan gagasan lahir di era itu sebagai era emas ilmu pengetahuan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *