Menjemput Buku, Mengasuh Pengetahuan


Oleh : W. Yono (Pegiat di Rumah Baca Cahaya Lamongan)

Rumah Baca Cahaya merupakan salah satu komunitas yang mendapatkan bantuan hibah buku dari Perpustakaan Nasional sebanyak 4 paket dengan total 500 eksemplar. 2 paket sudah diterima dan sudah digerakkan dan dinikmati masyarakat. Sementara yang 2 paket lagi sudah tiba di jogja akhir bulan lalu. Biar bisa segera ‘dihisap’manfaatnya maka 2 paket itu harus segera diambil.
*

Siang itu, matahari sedang terik-teriknya. Panasnya menerobos pintu dan jendela. Sambil mengelap peluh yg melumeri badan, aku ambil kalender. Mataku nyalang memelototi angka-angka. Mencari celah. Adakah waktu luang yang tersisa diantara himpitan “tugas negara” ?. Aha… Ada angka merah yang menyembul di kalender. Itu artinya ada peluang untuk menjemput buku. Segera aku kabarkan rencana yang sudah kususun dengan skenario yang rapi.
*

Sehari sebelum waktu penjemputan tiba, skenario yang sudah tersusun di benak berantakan. Mobil ‘travel’yang sedianya dipakai mengangkut buku dengan trayek jogja-lamongan tidak jelas kapan berangkatnya dikarenakan sopirnya sedang kena musibah dan harus opname di rumah sakit. Namun karena tekad untuk menjemput buku terlalu kuat, keberangkatan ke jogja ditunda. Alasan berikutnya adalah karena sambil liburan bersama istri dan anak-anak hehehe. Berangkatlah kami berempat, saya, 1 istri dan 2 anak ke jogja, tempat paket-paket buku itu bersemayam. Rutenya : Lamongan – Kertosono dengan mengendarai motor. Ya. Motor. Motor yang sarat dengan penumpang dan barang. Ah sudahlah. Tidak usah kalian bayangkan muat tidaknya. Dilanjut Kertosono – jogja dengan moda transportasi publik. Dengan sedikit berdesakan sampailah kita di kota yang katanya berhati nyaman, jogja.
*

Tawa renyah anak-anak begitu merdu terdengar. Celotehnya berlompatan dari bibir mungil mereka. Keceriaan terpancar terang diwajah-wajah lugunya. Betapa! Mereka teriak-teriak geli manakala kaki-kaki kecilnya dicelupkan di sebuah kolam yang dihuni ikan-ikan kecil yang suka menggigiti daki dan kuman yang menempel. Geli-geli riang. Berlari. Melompat. Berkejaran. Berenang. Bermain air. Tak henti-henti. Memang untuk urusan bermain mereka, anak-anak itu, tidak mengenal kosa kata lelah dan capek. Bila lapar melanda, mampirlah di warung mie ayam. Oh ya, mengenai warung mie ayam ini perlu saya ceritakan sekilas. Warung mie ayam yang terletak di samping terminal bus ini tidak begitu besar. Tapi jangan tanya pengunjungnya, bejubel. Untuk mencecap semangkoknya saja harus rela dan ikhlas mengantre berjam-jam. Antreannya bisa meluber sampai di luar warung. Yang bikin rasanya tidak terlalu mengendap dalam ingatan adalah ketika mie sudah terhidang di atas meja dan untaiannya belum sempurna melewati rongga mulut, calon pelahap berikutnya sudah rapi jail mengantre di samping meja. Duh, nikmat cecapannya menguap di atas ubun-ubun. Berkejaran dengan waktu. Semakin cepat untaian mie melewati tenggorokannya semakin baik bagi calon pelahap hehehehe. Itulah pengantre buku dan pengetahuan harus iri dengan pengantre makanan.
*

“nanti ketemuan jam berapa ? ” tanya seorang teman sekampung yang sudah 2 tahun ini bermigrasi ke jogja. ” jam setengah 10 bisa ?” balasku. “OK”. Ketemulah kami. Selayaknya pertemuan teman sekampung di sebuah kota, yang satu mengabarkan kampungnya satunya lagi mengabarkan kotanya. Cerita sana cerita sini yang akhirnya harus terpenggal dan pindah di tempat lain karena ada teman se kos waktu menimba ilmu di bumi Sri Sultan ini belasan tahun silam, sudah menunggu di kedai kopi. Berlanjutlah cerita-cerita kami tentang masa-masa silam. Sambil menyeruput kopi tak lupa kami menanyakan kabar keluarga masing-masing. Kenangan-kenangan lama dihadirkan kembali. Kelucuan-kelucuan lama dihidangkan lagi. Teringat saat-saat kami kehabisan uang dan wesel kiriman dari kampung belum juga datang, bertebaranlah kami, para penghuni kos, ke segala penjuru kota mencari utangan heheh. Aih jadi Baper.
*

2 hari sudah aku dan keluarga bahagiaku diantar menyusuri Jogja oleh seorang yang rela menyediakan waktu sibuknya untuk memuaskan dahaga kami tentang kemacetan jogja, eksotisnya Bantul, menunjukkan tempat-tempat kuliner yang sudah viral, mulai sate klathak, bakmi jawa, gudeg Wijilan, sampai koling kopi keliling-. Untuk semuanya itu, terima kasih kami haturkan kepada pesilat tangguh di belantara literasi nasional. Sosok yang tak mengenal lelah mengasuh pengetahuan di mana-mana, Bung David Efendi. Ya. Bung Davidlah sosok yang mengantarkan aku dan keluargaku dari satu titik ke titik lainnya. Dari pantai selatan Bantul sampai lereng Merapi. dari titik nol sampai berapa kilometer. Entah.
*

Malam itu, dengan sisa-sisa energi yang masih menegakkan tulang belulang, aku diantar menjemput buku dari tempat peristirahatannya untuk selanjutnya di bawa ke tempat seharusnya, Rumah Baca Cahaya. Dua paket buku ditambah beberapa buku dari Rumah Baca Komunitas. Dua paket itu begitu berat. Tapi terasa ringan karena berisi buku-buku. Terbukti ketika memindah paket-paket itu dari bagasi mobil ke bagasi bus antar kota antar propinsi, dengan bersimbah air hujan paket-paket itu sekali nyegh langsung berpindah tempat. Meluncurlah buku-buku itu melewati tiga propinsi, DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menembus malam. Menyibak tirai hujan.
*

Pagi itu, ruang makan begitu ramai dengan santriwan dan santriwati mengambil jatah sarapan. Ada yang mengacungkan piring. Ada yang menyorongkan talam untuk dimakan ramai-ramai. Ada yang masih pakai sarung. Ada yang sudah memakai seragam sekolah. Saat itulah, 2 becak yang kami sewa tiba di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Ilmiyyah Kertosono. Satu becak membawa aku dan keluargaku. Satunya lagi mengangkut 2 paket buku. Oh ya. Buku-buku itu harus bermalam dan berhari di Pondok Pesantren tersebut sampai menunggu ada mobil rombongan wali santri yang akan mengangkutnya kelak. Aku dan keluargaku mlenjutkan perjalanan pulang dengan mengendarai motor. Sekali lagi jangan kau bayangkan muat apa tidak. Tepat menjelang asar, sampailah kami di rumah. Tempat kami menyandarkan letih dan penat. Dan ini adalah hari Minggu. Hari dimana kami, pegiat Rumah Baca Cahaya menggelar buku dan majalah. Hari dimana kami mengasuh pengetahuan bersama khalayak. Perjalanan menjemput buku dari Jogja memang lumayan berat dan melelahkan, tapi tidak seberat dan semelelahkannya kalau aku, kamu dan kita tidak menjadi anak asuh pengetahuan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *