Menjaga kebaikan Imajinasi


Oleh Roynaldy Saputro
Guru dan Pegiat Literasi

Suatu pagi saya sedikit terkejut dengan postingan teman kuliah yang sudah menjadi guru di salah satu sekolah dasar di Surakarta. Postingan di grup WA tersebut adalah tentang soal matematika yang beliau belum mampu menjawabnya sehingga meminta bantuan kepada teman kuliah di grup se-angkatan di jurusan pendidikan matematika.

Kurang lebih soal matematikanya seperti ini:
Dua kapal laut yaitu A dan B berlayar dengan waktu yang sama dan tempat yang sama. Kapal A berlayar ke utara dengan kecepatan 15 Km/jam. Sedangkan kapal B berlayar ke barat dengan kecepatan 20 Km/jam. Setelah 2 jam keduanya berhenti karena kapal A rusak, maka kapal B harus menyusulnya. Berapakah waktu yang dibutuhkan kapal B menuju kapal A ?

Sempat saya jawab dalam grup tersebut, apa yang membuatmu bermasalah/kesusahan dengan soal tersebut. Terus beliau belum menjawab, hingga akhirnya salah seorang teman inisial H menjawab 2,5 Jam waktu yang dibutuhkan kapal B untu menuju ke Kapal A. Tapi teman H ini tidak menyebutkan bagaimana caranya. Terus saya membalas, iya kapal B balik arah. Ada juga teman saya yang menjawab bahwa isinya 2,5 jam dengan cara rumus pithagoras karena kapal A ke utara 30 Km dan kapal B kebarat 40 Km. Maka sisi miring dari tempat kapal B ke kapal A adalah 50 Km sehingga tinggal di bagi dengan laju kecepatan kapal B, maka ditemukan 2,5 Jam. Memang ketika guru dan anak-anak tidak berimajinasi terhadap permasalahan matematika maka akan sedikit kebingungan dan kesulitan dalam menyelesaikan masalah atau menjawab tipe masalah seperti diatas.

Maka obrolan grup berlanjut lebih seru ketika saya melanjutkan tentang pendapat saya mengenai empati saya terhadap permasalahan imajinasi anak-anak. Soal matematika realistik tersebut memang bisa dihitung secara logika akan tetapi membutuhkan imajinasi. Hal yang saya cermati beberapa hari terakhir ketika mengajar siswa menengah atas dan kejuruan, bahwa semakin anak-anak tumbuh dewasa semakin sedikit demi sedikit imajinasi mereka menghilang dan tergantikan dengan hal-hal yang bersifat realistis. Saya pernah mengamati bagaimana siswa SMA ketika dikasih instruksi menggambar pemandangan oleh salah seorang guru, hal pertama kali yang dibenak mereka adalah pemandangan gunung dengan jalan raya ditengah lalu ada matahari dan awan serta sawah di pinggir jalan. Bagi saya ini menjadi masalah serius manakala imajinasi siswa terjebak pada imajinasi masa lalu yang tidak berkembang. Lantas pertanyaannya apakah memang pembelajaran kita sekarang sangat minim untuk mengembangkan imajinasi ?

Salah satu teman yang ber inisial H berpendapat bahwa imajinasi siswa harus diarahkan ke hal-hal yang bersifat rasional. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan memberikan ke jalan imajinatif yang irrasional, sehingga dalam perjalanan masa depan dia akan berusaha membuat imajinasinya menjadi rasional dan diwujudkan dalam bentuk material.

Sesuatu hal yang tidak rasional dimasa sekarang, bisa jadi dimasa depan bisa menjadi rasional.

Saya sepakat dengan kondisi tersebut, hal itu sudah berlangsung di pendidikan luar negeri, bagaimana pendidikan memang diselenggarakan guna membebaskan peserta didik untuk ber ekspresi sesuai imajinasinya. Lantas pendidik mengarahkannya dan memberi jalan ke ranah rasional ataupun irrasional. Tidak menghambat atau mematikan nalar imajinasinya.

Diluar negeri, banyak karya tercipta dari pemikiran-pemikiran yang awalnya irrasional pada zamannya, akan tetapi di zaman masa depan malah menjadi rasional dan populis. Salah satu contoh adalah tentang adanya lampu. Zaman dahulu sebelum ditemukannya lampu manusia menyinari kegelapan dengan api. Akan tetapi setelah ditemukannya listrik Thomas Alva Edison menemukan lampu. Sebelum menemukan lampu, pemikirannya ditertawakan, dicaci maki bahkan tidak diakui, akan tetapi setelah diwujudkannya lampu dalam bentuk materi baru manusia bisa menerima.

Albert Einstein bahkan sempat mengemukakan bahwa Imajinasi lebih penting daripada ilmu pengetahuan. Begitulah kata eisntein yang mau tidak mau kita harus bisa menerima bahwa kecerdasan yang dia punya diawali dari imajinaso-imajinasi yang dianggap orang lain sebagai kegilaan.

Era sekarang pun sama, mungkin 30 tahun yang lalu kita tidak berfikiran bisa saling berkomunikasi dengan tatap muka, terhubung antar negara, akan tetapi lihatlah hari ini. Semua bisa, dengan pemikiran awal yang disebut imajinasi.

Sebuah generasi haruslah dijaga kebaikan imajinasinya sehingga generasi tersebut mampu membuat imajinasi tersebut menjadi nyata.

Maka saya berkesimpulan bahwa guru / pendidik tidak hanya mengejar kemampuan siswa berdasarkan logika kognitif, afektif dan psikomotorik serta aturan-aturan standar kemampuan siswa yang dibuat oleh pemerintah. Akan tetapi menjaga kebaikan imajinasi siswa sehingga siswa mampu ber-ekspresi dalam menghadapi kehidupannya dimasa yang akan datang secara out of the box.


1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *