Mengukur Peradaban Kota dan Desa


Oleh: Al Bawi*

Sejak Nabi Adam ada di muka bumi, kita sebagai spesies makhluk hidup yaitu manusia memulai peradaban. Spesies manusia ini berkembang dengan signifikan mengikuti bagaimana roda kehidupan terus muncul dan terus berkembang biak dalam rentang waktu yang terus berkelanjutan. Peradaban manusia yang hari ini hanya memilik satu spesies yaitu homo sapiens atau disebut kera genius mentransformasikan diri dari setiap waktu selama beradab-abad lamanya. Perubahan ini dikarenakan akal yang terus di tempa dalam kurun waktu yang sangat lama bahkan hingga sekarang.

Melalui akal ini pula Ibnu Sina membagi empat level yaitu pada level pertama disebut sebagai akal material (al-aql’ al-huyulani) yang merupakan sifat bawaan dari lahir manusia untuk mengenal indra dan bahasa yang bersifat mendasar. Yang kedua, akal terlatih (al-‘aql bi al-malakah) merupakan lanjutan dari akal material,bahwa dalam prosesnya akal manusia mulai mempelajari prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan. Yang ketiga, akal aktual (al-‘aql bi al-fi’l) sebuah respon atas prinsip dasar tersebut sehinggak menagktifkan nalar intelektualnya menjadi pengetahuan lebih lanjut dan yang terkahir merupakan puncak dari rekonstruksi akal teresebut yang merupakan segmen tertinggi yang para Nabi-nabi mampu melampaui akal ini yang didalamnya mekanai semesta wujud  dalam diri manusia menjadi tiruan dari dunia yang dapat dipahami, akal ini disebut akal perolehan (al’aql- al-mustafad).

Melalui proses akal ini dapat kita tarik bahwa manusia berkembang tidak hanya secara anatomi tubuh tetapi relung semesta akal yang tumbuh dan berkembang, sehingga dari sebuah akal dan perkembangan manusia mengalami perubahan yang membuat seuatu kebudayaan dan lebih tinggi lagi yaitu membangun peradaban sehingga meningglakna artefak sejarah sebagai eksistensi manusia di muka bumi.

Sebuah peradaban menurut Spengler ialah tingkat kebudayaan ketika telah mencapai taraf tinggi dan kompleks dan lanjutnya lagi bahwa peradaban ialah tingkat kebudayaan ketika tidak lagi memiliki aspek produktif, beku dan mengkristla. Adapun kebudaan pada suatu yang hidup dan kreatif. Intusi manusia untuk mengembangkan peradaban merupakan hal mutlak karena kita semua tahu bahwa manusia sendiri adalah makhluk sosial yang bergantung kepada makhluk hidup yang lain sehingga secara ekosistem bukan menjadi penguasa absoulut atau antroposentris.

Manusia Kota VS Manusia Desa

Manusia sejatinya adalah sama (egalitarian), bahwa sejatinya manusia mempunyai kedudukan yang sama dimuka bumi yang membedakan derajat keimanan dan ketaqwaanya karena Allah maha melihat atas segama umatnya dimuka bumi.

Namun semenjak adanya ekspoitasi dan ekporasi kapitalis yang tinggi sehingga ada derajat manusia yang meninggi yaitu ego. Bahkan Islam sendiri hadir untuk mematikan peradaban penindas bahwa budak harus dibebaskan karena kedudukan manusia adalah sama, bahkan bagi socrates manusia adalah makhluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar.

Manusia perkotaan, cenderung menganggap bahwa strata sosial mereka adalah paling tinggi sehingga memandang Manusia di pedesaan adalah terbelakang, karena Manusia pedesaan masih memandang  mobil adalah barang paling mewah dan menakjubkan, sedangkan bagi masyarakat perkotaan menggap mobil adalah barang biasa yang merupakan kebutuhan. Sedangkan manusia pedeasaan meanggap manusia perkotaan adalah ranah miskin karena banyak yang menjadi gelandangan dan tidak bisa makan, hal ini berbanding tebalik dari apa yang dilakukan manusia pedesaan yang mereka bisa makan tiga kali sehari dengan banyak sayur dan buah yang mereka tanam sendiri melalui bertani, berkebun hingga berternak yang meruapakn hal dasar yang harus di miliki manusia. Karena masyarakat pedesaan tidak memerlukan uang karena bahan mereka tercukupi atas nikmat alam yang berlimpah.

Gagal paham

Penting untuk dipahami bahwa ketimpangan kelas sosial ini berdampak kepada seluruh aspek yang menjadi tulang punggung kehidupan. Dari “kegagal pahaman” ini bahwa yang terbaik adalah perbaikan infrasturtur untuk perbaikan ekonomi secara makro, tetapi dalam hal ini yang menjadi korban adalah masyrakat pedesaan karena untuk mengalirnya dan pembangunan ini sudah dipastikan akan menggusur para warga desa yang mereka bergantung hidup pada alam.

Di Kalimantan Selatan pernah mengalami kejadian demikian tepatnya disalah satu kabupaten ada orang bedasi memberikan motivasi bahwa tanah kalau menjual lahan sawah mereka, para warga akan sejahtera karena mereka akan menjadi pekereja yang gajinya akan tetap, yaitu perusahaan sawit. Yang pada akhirnya mengalami permasalahan yang besar di tempat tersebut hampir 80% adalah air karena dekat sungai dan rawa akibatnya air disana tercemar, tumbuhan yang lain tidak bisa tumbuh, masyarakat makin melarat dan terus digantikan oleh orang luar desa tersebut. Dari hal ini ada skeptisasi dalam kata “sejahtera” menurut versi peradaban kota.

Dari gagal paham ini pula eksplorasi terhadap Lingkungan hidup mengalami keruntuhan peradaban, bahwa tindakan ekologis mengalami kehancuran dalam rentan waktu yang semakin parah. Bahkan negara maju mulai dari Protokol Kyoto, Paris Agreement, hingga kepada COP 25 Madrid. Negara maju enggan melakukan penurunan gas kabron, alih-alih ingin menurunkan malah mereka menkapitalisasi gerakan ini yaitu dengan mempromosikan produk perusak lingungan mereka melalui iklan bahwa kalau membeli barang tersebut akan menyelamatkan lingkungan dan yang menjadi korban adalah negara berkembang sebagai lahan mereka untuk menanam dan mereka terus melakukan inflasi karbon di udara terus menerus.

Sudah saatnya peradaban kota tidak menjadi dominan atas realitas peradaban, karena tolak ukur kesejahtraan bukan dari seberapa kaya tetapi seberapa tinggi ketaqwaan dan derajat kecerdasan kita terhadap Tuhan dan sesama manusia.

*Pimpinan Pusat IPM & Kader Hijau Muhammadiyah Yogjakarta

Facebook Comments