Mengistirahatkan Mata, Merawat Nalar dan Menenun Perjumpaan


Oleh : Fikri Fadh*

Di era telepon pintar dalam genggaman dan jodoh di tangan Tuhan, kita harus mampu mendisiplinkan diri. Terutama dalam hal mengkonsumsi informasi di media sosial. Konsumsi yang belerbihan tidak baik untuk otak (baca : nalar), sedangkan penggunaan telepon pintar yang terlalu berlebihan, juga tidak baik untuk kesehatan tubuh. Selain tidak baik untuk kesehatan tubuh, penggunaan yang berlebihan tidak baik juga hubungan sosial kita di dunia nyata. (entah ada penelitian secara ilmiah atau tidak, jika belum ada, apa yang saya sampaikan tadi diposisikan sebagai hipotesis saja).

*

Mengistirahatkan mata

Kita jangan hanya sekedar menggunakan mata untuk melihat. Onderdil pengelihatan kita juga perlu di rawat. Onderdil kendaraan bermotor saja jika menginginkan supaya awet ada perawatannya, apalagi onderdil yang sangat sensitif ini.

Belum ada KW 2-nya jika onderdil pengelihatan kita ini rusak. Kecuali kelak jika home industri di Cina, sudah mampu membuat onderdil pengelihatan yang mampu menggantikan onderdil orisinil kita ini. Kalau kelak ada, saya pesan yang bisa melihat dalam gelap, dan yang ada wiper-nya, biar kalau hujan ngga perlu ngelap muka.

Dalam merawat onderdil pengelihatan, kita bisa mengaturnya sendiri. Misalkan, setiap tujuh hari penggunaan onderdil pengelihatan, ada satu hari yang kita gunakan untuk istirahat. Selama tujuh hari kita ber-smartphone ria, kemudian satu hari kita alihkan. Bisa untuk membaca buku, membaca koran, melihat dedaunan, atau lebih hebat jika untuk melihat realitas sosial lingkungan hidup kita.

Bisa jadi karena sibuk melihat layar telepon pintar, kita tidak tahu kalau sebenarnya punya tetangga cantik. Nisa Sabian juga cantik, tapi ada yang lebih nyata kok malah mengharapkan yang jauh di sana. Nisa Sabian hanyalah semut di ujung lautan.

Bukankah mengistirahatkan mata bisa dengan tidur?

Ya memang itu adalah cara yang alamiah. Tapi supaya jangka waktu atau usia onderdil pengelihatan kita berfungsi lebih lama, tambahkan aktivitas merawatnya. Saya yakin bisa saja kok sehari saja untuk menahan nafsu untuk tidak melihat layar telepon pintar. Meskipun kalau onderdil pengelihatan kita bermasalah kemudian kita ke optik dan akhirnya kita menggunakan kaca mata, kalau itu dinganggap jadi fashionable, ya monggo-monggo saja.

*

Merawat Nalar

Nah ini juga tidak kalah pentingnya. Arus informasi yang tidak terbatas, kadang kala bisa membuat nalar kita menjadi kacau. Ya kalau kita tidak baperan, kalau iya? Bisa jadi kehidupan nyata kita, di setir oleh dunia simulacra (realitas semu).

Kehidupan kita terpengaruhi oleh realitas yang itu hanya terlihat flat. Foto-foto yang itu terlihat cantik, indah, dan memperlihatkan kemapanan, apakah itu benar adanya? Dan nyatanya seperti itu?

Jangan sampai, kita berusaha mati-matian hanya untuk “terlihat” mapan di dunia flat. Atau kita jangan baper kalau melihat kemapanan orang lain yang itu hanyalah realitas semu.

Nalar kita juga perlu di rawat menjelang pemilu legislatif tahun depan. Akan banyak bermunculan gambar simulacra. Akan banyak bermunculan gambar orang-orang “terlihat” berbuat baik dan bermanfaat untuk sesama, padahal realitanya perlu di pertanyakan.

Realitas semu tidak hanya kita lihat di layar telepon pintar kita, tapi juga di perempatan, pertigaan, bahkan sepanjang jalan. Saya bukan membahas strategi politik, tapi posisi saya sebagai masyarakat yang mengkonsumsi informasi, mengajak untuk merawat diri. Ya setidaknya supaya tidak mudah terbodohi oleh gambar-gambar yang terlihat heroik dan itu hanyalah realitas semu.

Apakah kita mau dipimpin oleh seorang pemimpin yang semu? Mikir. . .

*

Menenun Perjumpaan

Saat kita mengistirahatkan mata, dan merawat nalar, salah satu aktivitas yang bisa dilakukan adalah bertemu dengan sahabat-sahabat kita. Berjumpa darat, dan telepon pintar kita hanya digunakan untuk janjian ketemuan.

Pada saat bertemu, letakkan telepon pintar kemudian minumlah kopi bersama sahabat kita. Jalin obrolan yang berfaedah, apalagi masih bisa ketawa ngakak bersamanya. Lebih asyik lho itu. . .

Sudah-sudah, tulisan ini sudah terlalu panjang. Jika anda sudah membaca sampai sini, segera sudahi. Letakkan telepon pintar kalian. Buka itu Al-Qur’an atau buku mu.

Bisa juga segera buat janji ketemu dengan sahabat mu, siapa tau dapat bumbu rujak dan saat ketemu diajak makan ikan Manyung yang terkenal kelezatannya. Kalau masih mau ber-smartphone ria, ya sudah, makan tu hape!!!

_____________

*founder komunitas literasi janasoe


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *