Menggerakkan Pengetahuan, Menggerakkan Peradaban


Menggerakkan buku adalah salah satu kegiatan penting di berbagai peradaban unggul di berbagai belahan bumi. Menggerakkan buku sejatinya telah diidentikkan dengan menjadikan pengetahuan memiliki nilai guna dan daya ubah di hadapan persoalan hidup manusia itu sendiri. Ada dimensi fisik yang dapat diselesiakan dari pengetahuan, ada dimensi spiritual dan magis atau kebatihan yang juga dapat dibangun dari infrastturktur pengetahuan. Tak ada yang meragukan kekuatan buku, kedahsyatan pengetahuan itu. Kita yang berada di buritan zaman sedang menyemai imajinasi masyarakat berdaya, kuat, otonom, dan memiliki kemampuan spektakuler merawat dan memperkokoh peradabannya di hadapan cengkraman persoalan zaman.

Dalam bingkai sejarah peradaban Islam, fajar keemasannya dimulai pada masa khulafaur rasyidin. Berawal dari masa ini perkembangan dan perluasan Islam bisa melampaui tempat kelahirannya, Arab, hingga akhirnya Islam runtuh seiring dengan jatuhnya Dinasti Abbasiyah pada 1258 yang dalam histogiografi Islam dianggap sebagai berakhirnya masa keemasan Islam yang ditandai dengan kehancuran Baghdad yang menjadi pusat peradaban Islam waktu itu.
Selanjutnya, pasca kehancuran Baghdad, pusat peradaban Islam kurang jelas markasnya karena kemudian disusul masa kemunduran dunia Islam. Kekurang jelasan itu terus berlanjut hingga masa modern saat ini. Dalam kondisi seperti itu, Indonesia ditengarai banyak tokoh intelektual berkaliber internasional, semisal Fazlur Rahman, Arkoun, Alisjahbana, dan lainnya, sebagai negara yang sangat berpeluang menjadi fajar baru Islam, seperti yang terjelaskan dalam buku Fajar Baru Islam Indonesia karya Mujamil Qomar.
Syafi’i Maarif menegaskan, Indonesia setidaknya dengan wawasan Islam yang luas dan tajam, cukup berpotensi untuk memimpin kebangkitan Islam dalam maknanya yang begitu besar pada masa-masa yang akan datang (hal. 184). Selain itu, Mulyadi Kartanegara berpendapat, masyarakat Indonesia sebetulnya telah memiliki aset yang sangat potensial, dilihat dari keterbukaannya terhdap informasi dan pemikiran apa pun yang datang dari luar. Hampir tidak ada negara Muslim yang menempuh kebijakan yang sangat inklusif terhadap informasi dan pemikiran seperti Indonesia ini (hal. 185).
Sampel kecilnya seperti lewat buku-buku yang bebas masuk ke Indonesia, termasuk buku-buku yang mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah sekalipun, buku-buku radikal, buku-buku liberal, buku-buku berbagai aliran yang berkembang di Barat maupun di Timur. Hal seperti inilah yang juga tercermin pada masa keemasan Islam masa Abbasiyah dulu, di mana waktu itu terjadi ketersedian buku-buku yang diterjemahkan dari berbagai bahasa; Yunani, Persia, dan sebagainya, hingga akhirnya terhimpun di perpustakaan Baitul Hikmah, yang menjadi ikon keilmuan Islam.
Sebagai strategi untuk mewujudkan harapan di atas, Mujamil Qomar dalam buku ini merumuskan beberapa strategi yang harus dibangun bangsa Indonesia. Pertama, membangun pemikiran inovatif-konsruktif. Dalam artian, suatu pemikiran baru yang tidak hanya bersifat pembaruan, tapi sekaligus membangun. Tegasnya lagi, pemikiran ini akan tercapai jika Indonesia berani mengubah dunia “Islam hafalan” menjadi “Islam pemikiran”, di mana “Islam pemikiran” sebagai simbol dinamika aktif sedangkan “Islam hafalan” sebagai simbol stagnasi (hal. 207).
Kedua, membudayakan tindakan kreatif-produktif. Strategi yang kedua ini merupakan action dari strategi pertama, karena sehebat apapun suatu pemikiran jika hanya berupa wacana hanya akan bersifat abstrak dan bahkan kadang kabur tanpa meninggalkan bekas sama sekali. Untuk itu, sebuah wacana dibutuhkan pasangan dan sambungan yang keduanya harus bergerak sinergis, yaitu aksi dan tindakan riil (hal. 216).
Ketiga, menciptakan kebijakan strategis-transpormatif. Dalam artian pemerintah sebagai penghasil kebijakan harus mengambil peran aktif untuk memprakarsainya, dengan dukungan riil dari berbagai pihak, baik pemikir, masyarakat, pengusaha, dan praktisi (hal. 227).
Keempat, melaksanakan pembangunan secara kolektif-sinergis. Konsep ini merupakan upaya mempertahankan kekuatan bangsa ini yang telah merdeka dan diperjuangkan oleh nenek moyang terdahulu. Sekarang ini giliran kita berjuang mempertahankan kemerdekaan hakiki dengan melawan keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, kenistaan, dan dekadensi moral dalam bingkai mengisi pembangunan sebagai amanat yang dibebankan kepada generasi penerus (hal. 238).
Empat strategi di atas sebagai upaya pengembangan dari kelebihan-kelebihan yang dimiliki Indonesia dan meminimalisasi kelemahan-kelemahannya, hingga akhirnya harapan fajar baru Islam akan muncul dari Indonesia betul-betul terjadi.
Sebagian besar tulisan ini berasal dari sumber: http://lingkaran-koma.blogspot.co.id/2013/06/indonesia-menuju-fajar-baru-islam.html