Menggerakkan buku adalah investasi akhirat


Oleh: Irfan Syaifullah

Hari ini bapak ibu tampak gelisah.  Setelah aku bertanya, ternyata keduanya sedang bersedih.  Bukan karena tokonya sepi,  tapi sudah lama warga dan anak anak tidak terlihat berkumpul di taman baca.

“Tambah suwe kok tambah gak ono seng moco cong, aku sakno bukune,” ungkapnya

“Ngeh buk,  tapi Alhamdulillah konco2 IPM (Ransel Pustaka) tasik bergerak buk, “jawabku

” Alhamdulillah nek ngunu aku elu seneng,  “sambung ibuk

Percakapan singkat itu begitu teringat betul dikepalaku.  Apa gerangan yang membuat seorang bapak dan ibuku,  yang belum beruntung mendapatkan pendidikan tinggi begitu sangat mencintai buku.  Bahkan tanah disebelah toko,  yang seharusnya bisa digunakan untuk pengembangan toko dibangun nya taman baca,  dibuatkan almari besar,  disekitar nya dibuat rimbun dan kursi permanen untuk pembaca.  Taman baca kusuma namanya.  Ada banner besar didepan warungnya.  Jadi tak sulit menemukan nya,  apalagi ditengah tengah kota.  Taman baca kusuma dibangun setelah mendapat hibah atas nama ransel pustaka oleh perpusnas dan Serikat Taman Pustaka.  Dimaksud kan untuk menghimpun buku sebagai jujukan aktivis aktivis muda ransel pustaka awalnya.  Tapi berkembang dengan didukung ibu ibu PKK setempat.

Kegelisahan itu agaknya sangat wajar.  Beliau berdua mungkin khawatir bahwa buku ini akan sia sia tak terbaca.  Anak anak lebih suka ‘mobile legend’ dan game game lain daripada membaca.

Sesekali saya tanya,  “Buk bekne dipasang wifie sek akeh arek rene,”

“Arek arek iku tambah game an cong,  gak moco tambahan, “jawabnya

Jadilah toko,  atau warung kecil itu hanya menyediakan fasilitas seadanya untuk membaca dan bercengkrama. Dan beberapa tanaman obat dan kebutuhan sehari hari rumah tangga.

Tiba tiba bapak datang dan berkata,” Mene tambak nak mburine toko,  nek iwake wes gede gede engko digawe hadiah, ”

” Pripun pak niku, “tanyaku

” Warga warga iki kan senengane mancing, arek arek cilik ya seneng mancing.  Barang siapa yang membaca buku ditaman baca kusuma selama 10 kali,  diperbolehkan mancing secara Gratis, “jawabnya mantap.

Belum aku menyanggah.  Ibuk sudah ke duluan menyela, saya kira beliau menolak nya. ” Setuju pak, buat investasi akhirat, ”

Jleb bukan main.  Aku hanya tertegun sambil menggelengkan kepala dan refleks bertanya,” Pal buk,  niki tenan nopo mboten, ”

” Tenan toh, “jawab mereka berdua.

 

Bapak lalu mendekati saya dan berkata,” Standar kelulusan kui ikhlas pengabdian. Ikhlas itu bunder,  ra kene digripisi.  Nek ikhlas kudu bulat,  kudu mantap sekabehane.

Lantas aku yang sudah lulus S1 hanya bisa nyeruput kopi sambil mendoakan kebaikan buat mereka.

Salam dari anak lanang

Ransel pustaka dan TB Kusuma

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *