Menggagas Rumah Kepemimpinan Mahasiswa Berbasis Masyarakat


Oleh: Sri Lestari Linawati

Kabarkanlah mimpimu, agar diamini oleh semesta. (Fatimah Azzahra)

Dalam sebuah diskusinya saat berkunjung ke Rumah Baca Komunitas Yogyakarta, sekitar empat tahun lalu, Fatimah Azzahra sempat menyampaikan ungkapan tersebut.

Bagi saya hal itu menarik. Itu sesuatu yang baru. Untuk meyakininya, saya harus menegakkannya dalam kehidupan saya. Dan itu sungguh tidak mudah. Mengapa?

Jawabannya jelas, yaitu karena saya tidak biasa melakukannya. Kalau punya mimpi, ya cukup saya pendam dalam hati dan lakukan pelan-pelan.

Sejak dengar ungkapan itu, sungguh saya butuh perjuangan dalam berlatih. Ada rasa malu, takut, khawatir dan seterusnya. Namun demikian, saat saya berlatih mengungkapkan mimpi saya, saya merasa seakan Tuhan mengirimkan pasukanNya dari berbagai penjuru. Inilah yang membuat saya tidak mampu berkata-kata. Ini mengajarkan pada saya untuk terus berjalan, terus ikhtiar tebar kebaikan mewujudkan mimpi-mimpi baik membangun kesadaran ummat.

Nah, kini saya punya mimpi yang seringkali mengusik hari-hari saya. Menggagas rumah kepemimpinan mahasiswa berbasis masyarakat.

Apakah itu?

Saya membayangkan mahasiswa itu nggak sekedar kos dan kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang. Apalagi jauh dari orang tua dan belum pernah hidup mandiri sebelumnya. Dampak yang terjadi adalah mahasiswa suntuk memikirkan disiplin ilmunya semata, merasa hampa hidupnya dan hanya tahu bahwa dia harus minta ini itu pada orang tua.

Kedua, adanya ketentuan kampus bahwa mahasiswa wajib lulus baca Alquran saat mau ujian skripsi. Saya kira ini kebijakan kampus yang baik dan butuh diupayakan sedemikian rupa. Pengajaran dan pendekatan yang digunakan mustilah memperhatikan kepentingan mahasiswa yang hendak menekuni profesinya. “Saya ujian empat kali tidak lulus, Bu.. Hla apa nanti saya harus jadi ustadzah seperti mereka? Bukankah nantinya saya jadi fisioterapis?” gerutu mahasiswa.

Saya terdiam mendengar curhat mahasiswa. “Mana harus bimbingan.. ujian ini.. ujian itu.. ini ujian baca Alquran tidak lulus-lulus juga.. _bete_ kan jadinya, Bu?” lanjutnya.

Hati saya langsung bergemuruh. Melayang angan entah kemana. Memikirkan sebuah metode dan pendekatan yang nyaman bagi semua. Lalu tiba-tiba ide itu menyeruak begitu saja. Tak tertahan minta segera dilahirkan. Bagai ibu bersalin, ini sudah buka 9. Satu lagi buka, bayi sudah lahir ke dunia.

Bagaimana dan apa tujuan rumah kepemimpinan mahasiswa berbasis masyarakat itu?

Dua point utama yang akan dituju, yaitu (1) mahasiswa lulus tepat waktu dan cumlaude, (2) mahasiswa pegang satu program pemberdayaan masyarakat.

Kenapa?

Tujuan satu sudah sangat jelas. Lulus tepat waktu dan cumlaude itu adalah harapan mahasiswa dan membahagiakan orang tua.

Tujuan dua, ini melatih mahasiswa untuk bertanggung jawab terhadap kelangsungan dan keberhasilan program di masyarakat.

Apa saja program yang bisa dipegang mahasiswa?

Ada banyak alternatif. Bisa mengajari baca Alquran di TPA, di SD, di TK, atau bisa meminjamkan buku-buku di kumpulan ibu-ibu dasawisma, RT, RW, kelurahan, Aisyiyah, di SD, TK dan masih banyak program lainnya.

Cuma gitu doang?

Iya. Satu program, kita pastikan berjalan, terpantau, terprogram, dievaluasi dan ada tindak lanjut. Nah, keberlanjutan itulah yang merupakan hal baru yang perlu kita bangun.

Apa mahasiswa bisa?

Insyaallah bisa karena waktunya kita pilih sesuai kesibukan masing-masing. Pendampingan itu akan dilakukan dengan intensif. Akan kita kaji dan evaluasi dinamika dan perkembangannya.

Apa untungnya bagi mahasiswa?

Kalau mahasiswa menebar kebaikan, melakukan hal-hal baik yang dibutuhkan masyarakat, ini akan menumbuhkan rasa percaya diri mahasiswa. Dia akan terpanggil oleh adanya kebutuhan masyarakat. Ini mengasah sensitivitasnya hidup bermasyarakat. Otomatis, masyarakat akan mendoakannya, “Semoga mas itu, mbak itu, bisa segera lulus dan berkarya lebih baik lagi bagi kami dan kehidupan bangsa ini..”

Biayanya?

Hanya untuk biaya kos atau kontrak rumah. Misal satu rumah seharga 7 juta/ tahun, ditempati 3 orang, maka biaya perorang sekitar 2,5 juta. Kalau sampai 15 juta/tahun dan ditempati 5 mahasiswa, masing-masing menanggung 3 juta/tahun.

Ah, mahasiswa itu selalu _cerobo_ (kata tetangga), tidak mau bersih-bersih.. jorok..

Inilah gunanya pendampingan. Kita akan mendampingi mahasiswa agar menerapkan pola hidup bersih dan sehat, sehingga rumah kosnya pun cantik dan sehat.

Pendampingan juga diperlukan agar pemilik rumah ikut berperan aktif bagi pencapaian dan keberhasilan program. Kesahajaan pengetahuan dibangun secara pelan dan bertahap, dari hal paling sederhana sekalipun. Ketika pemilik rumah berperan sebagai orang tua yang bijak, maka insyaallah mahasiswa yang kos/ kontrak pun akan betah dan melejit potensinya.

Siapa yang akan mengelola dan siapa pula yang akan menjadi mitra?

Ya, kami telah mengikrarkan diri untuk mengelola. Mitranya adalah semua pihak terkait di masyarakat, mulai RT, RW, Kesra, Lurah, Muhammadiyah Ranting, Aisyiyah Ranting, Nasyiah Ranting, Pemuda Ranting, SD, TK, PKBM, UKM, dst. Potensi masyarakat yang beragam itu perlu direkatkan dengan upaya-upaya keilmuan. Ya, kesahajaan pengetahuan perlu kita bangun bersama.

Itu belum pernah ada. Susah. Tidak mungkin.

Agent of change, para pelaku perubahan, musti berani tampil beda. Sekaranglah saatnya dimulai. Tak ada yang tidak mungkin selama kita berpegang pada kalimat Allah.

Lalu?

Mari bergabung dan rapatkan barisan. Kami mengundang siapa saja yang berkenan menguatkan mimpi dan menumbuhkan harapan baru. Kritik dan saran membangun bisa dikirim ke Lina di hp/WA 0856.292.8998 atau surel sllinawati@unisayogya.ac.id. Sebutkan minat Anda sebagai apa: mahasiswa yang akan tinggal di rumah kepemimpinan, ataukah mitra kerjasama, ataukah penyandang dana sosial. Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 17 Juli 2018.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *