Mengapa George Orwell Menulis dan Bagaimana kita?


Salah satu penulis yang saya kagumi adalah George Orwell. Saya kagum atas keberaniannya mengungkapkan kejujuran. Ia menulis apa yang ia pikirkan. Ia tak segan-segan mengkritik gagasan-gagasan besar yang selama ini sudah terlanjur dianggap kebenaran. Meski garang, namun karyanya tetap indah. Sebab kalimat-kalimat yang ia pakai sangat mudah dipahami dan tak membuat saya bosan untuk membacanya.

Penulis Inggris yang nama aslinya adalah Eric Arthur Blair ini menghasilkan beberapa novel dan beberapa esai yang sangat dihargai dalam khasanah sastra Inggris. Novel berjudul “Animal Farm” dan “Nineteen Eighty-Four” adalah dua karya novelnya yang diakui sebagai novel Inggris yang luar biasa. Selain menulis novel, George Orwell juga menulis esai dan kritik sastra. Buku ini adalah kumpulan esai dan kritik sastra yang dikumpulkan oleh Sonia Orwell dan Ian Angus yang terbit pertama kali pada tahun 1968.

Menarik untuk mengetahui apa alasan Orwell untuk menulis. “Saya menulis karena ada kepalsuan yang ingin saya ungkapkan (hal. 8). Memang benar bahwa tulisan Orwell adalah tulisan tentang pengungkapan kepalsuan-kepalsuan. Ia menelanjangi dominasi Inggris di India dan Burma, menelanjangi para intelektual yang bersembunyi pada paham nasionalis sehingga rela untuk berbohong. Ia mengkritik perasaan antisemitik yang tidak diakui oleh para terpelajar Inggris dan kejujuran para sastrawan yang sering terbelenggu oleh rezim (partai yang berkuasa). Itulah sebabnya ia menyampaikan bahwa “seorang penulis hanya dapat tetap jujur bila ia bebas dari label partai” (hal. 2).

Pasti ada banyak alasan mengapa seseorang menulis atau membunyikan suara jiwa. Saya mencoba menyelami lebih intim ihwal ini semua. Sudah seminggu lalu saya membaca buku George Orwell yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘mereka yang tertindas terbit tahun 1990. Karya terjemahan ini diterbitkan tahun 1968 di Inggris. Dia menyampaikan empat alasan mengapa George Orwell (1968)menulis. singkay cerita begini detailnya empat alasan tersebut. Pertama, Kepentingan diri sendiri. kedua, Kegairahan estetika. ketiga, dorongan sejarah dan terakhir adalah untuk tujuan Politik.

Sebagai pembaca saya setuju bahwa buku kumpulan esei ini benar-benar mengupas sisi gelap dan terang manusia, yang tertindas dan penindas, kedua jenis mahluk ini keduanya perlu membaca buku ini agar kelak tersadarkan bahwa mereka sama-sama manusia, mahluk yang dikarunia oleh akal budi dan hati nurani dan mampu mengubah keadaan masing-masing baik tertindas maupun penindas. Buku yang ditulis oleh penulis besar selalu saja penting dalam perjalanan saya,dan saya kira bagi banyak orang. Karakter Orwell adalah menulis secara jujur bahkan tentang dirinya sendiri, juga jelas terang dan membawa kita pada bunyi bunyi abjad yang hidup di dalam pikiran kita.

Buku ini berisi kumpulan esei yang mengupas secara mendalam sisi-sisi gelap dari kehidupan manusia. Yakni, manusia-manusia yang tertindas, baik mereka itu rakyat jelata, politisi, teknokrat, sastrawan, maupun kaum intelektual yang dibodohkan. Sebuah bacaan wajib bagi kaum penindas dan tertindas, agar mereka sadar bahwa diri mereka adalah makhluk manusia, mahkluk dengan akal-budi dan hati-nurani, dan tahu bagaimana seharusnya merombak posisi mereka.

Apa pandangan Orwell terhadap posisi sastrawan/cendekiawan terhadap suatu rezim yang berkuasa? Orwell tidak menolak para sastrawan/cendekiawan berkarya untuk sebuah rezim. Namun ia mengingatkan bahwa sastrawan/cendekiawan hendaknya tidak “dipakai” oleh rezim untuk alat propaganda. Ia menyampaikan bahwa: “Saya hanya mengemukakan bahwa kita seyogyanya menarik perbedaan yang lebih tajam dari yang telah kita lakukan sekarang ini antara loyalitas terhadap politik dengan loyalitas terhadap sastra” (hal. 195). Seorang sastrawan/cendekiawan tetap harus jujur pada tujuan kemanusiaan.

Membaca karya Orwell adalah membaca wajah yang muncul di setiap halaman karyanya. Wajah seorang setengah tua yang gelisah. Wajah dengan kening berkerut yang sedang memperhatikan detail-detail tingkah polah manusia yang terus menindas sesamanya. Wajah yang bibirnya berupaya keras menyingkirkan penindasan dengan kata-kata.

Judul: Mereka yang Tertindas

Judul Asli: The Collected Essays, Journalism and Letters of George Orwell

Penulis: George Orwell

Penterjemah: Masri Maris

Tahun Terbit: 1990

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Tebal: xii + 204

ISBN: 979-461-062-3


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *