Mengabarkan Dari Dalam


Oleh Roni Tabroni)*

Kalau wartawan bikin berita biasanya terbuka. Keberadaanya sebagai wartawan mudah diketahui. Selain melakukan proses wawancara atau penggalian data, wartawan juga melakukan aktivitas yang dimafhumi keberadaannya.

Selain sedang melakukan investigasi yang bersifat tertutup, pada banyak kasus bahkan wartawan harus mengenalkan identitasnya kepada narasumber. Lebih khusus wartawan juga bisa jadi meminta kesediaan narasumber atas pernyataan tertentu untuk dipublikasikan.

Jika ada hal yang sifatnya tertutup, baik itu belum pasti falidnya sebuah data atau karena dianggap berbahaya jika dipublikasikan, maka narasumber umumnya akan menyampaikan pernyataan off the record. Semua wartawan paham, di antara keseluruhan pernyataan, ada penggalan tertentu yang tidak boleh dipublikasikan.

Ini etika umum di dunia pers, sebab tidak semua yang diketahui jurnalis akan dipublikasikan. Dengan beberapa pertimbangan, informasi-informasi tertentu hanya berakhir di catatan pribadi jurnalis.

Tapi fenomena ini hanya berlaku di dunia jurnalis dengan pendekatan media maenstream. Sedangkan di zaman digital, di mana media semakin meluas dengan massifnya media sosial, memungkinkan setiap konten apapun masuk ke dalamnya. Kemudian, abad digital juga memungkinkan setiap orang menggantikan peran-peran jurnalis.

Ada peluang yang sangat lebar dimana kini menjadi media darling tidak perlu menunggu wartawan untum mewawancaranya, setiap orang bisa merekam dirinya sendiri untuk publish di media sosial. Setelah itu di share dan viral. Atau setiap peristiwa dari yang terkecil hingga besar tidak perlu menunggu wartawan datang, cukup dengan merekamnya menggunakan gadget maka jadilan berita itu.

Yang menjadi soal di tengah kemudahan publik menyebarkan informasi adalah bertumpu pada minimnya etika. Jika masalah tata bahasa, mungkin bisa dimaklumi. Tetapi jika sudah mengabarkan hal-hal sensitif yang sebenarnya tidak boleh dikabarkan, maka dampaknya menjadi buruk.

Bagi netizen, terkadang tidak mengenal off the record. Mereka akan mengabarkan apa saja yang mereka lihat dan dengar. Ketika ada di sebuah tempat, menemukan hal janggal, akan segera mengeluarkan senjata (mart phone). Langkah cepat semua peristiwa bisa terekam, baik difoto bahkan video. Hebatnya, tanpa edit, sedetik kemudian peristiwa itu akan diupload dan beredar di media sosial.

Sebuah peristiwa belum selesai, rekaman itu akan menjalar ke seantero dunia dan terus mengular sampai ke tangan orang-orang yang ada dipelosok bumi. Muncul komentar, apresiasi, bahkan cacian.

Yang sering kali terjadi, proses mengabarkan dengan cara-cara seperti ini masuk pada wilayah privat. Pembicaraan di ruang keluarga bisa bocor karena direkam, kemudian tiba-tiba tetangga marah-marah karena obrolan santai itu rupanya membicarakan tetangga yang usil.

Alat perekam hadir di ruang rapat kantor-kantor. Berada di gedung-gedung tinggi, di lembaga-lembaga sosial, agama, dan gedung-gedung pemerintahan. Istana presiden pun bukan hal mustahil akan menjadi bagian dari sasaran perekaman ini.

Khutbah para ustad dan kyai, para pastur dan pendeta, para guru dan dosen, bahkan para aktivis HAM dan aparat. Semuanya menjadi ruang yang tidak lagi sembunyi. Setiap orang yang hadir dalam forum apapun, baik yang serius maupun santai di warung kopi, bisa menyadap semua pembicaraan dan peristiwa. Dan para penyadap ini tidak beridentitas, tidak mengenal latar belakang, pendidikan dan status sosial. Bisa saja anak ingusan yang usil. Asal dapat mengoperasikan smart phone, semua orang bisa melakukannya.

Akhirnya kita tidak akan menemukan lagi ruang privat dimana kita akan membicarakan hal krusial tentang agama, sosial-budaya, politik dan ekonomi. Semua pembicaraan kini menjadi transparan dan bernuansa ruang publik.

Bahkan ruang paling sakral di muka bumi bagi ummat Islam sekalipun misalnya, kini menjadi sangat mudah ditemukan di media sosial. Menghampiri ka’bah dulu orang khusyu ibadah, kini menghampirinya untuk swa foto, begitupun makam nabi dan lain sebagainya.

Mengabarkan sesuatu bagi publik kini bukan hal baru, tanpa banyak aturan yang ribet setiap orang dapat menjadi pahlawan. Tetapi di saat yang sama, setiap orang kini bisa menjadi sumber masalah, bisa membakar emosi publik, bisa menjadi sumber konflik dan perseteruan opini.

Penyebabnya tiada lain, tidak bisa membedakan dimana ruang privat dan publik. Dikira setiap yang terdengar bisa dipublikasikan, setiap yang terlihat bisa disebarkan. Disinilah kita akan melihat bagaimana abad digital (sebagai keniscayaan) ini menjadi sebuah peluang dan disaat yang sama menjadi ancaman. Yang menentukannya adalah kemampuan pengguna smart phone untuk memilah-milah mana objek yang bisa disebarkan dan tidak. Itu saja

)*Penulis adalah Dosen Jurnalistik USB YPKP dan UIN SGD Bandung


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *