Mendekap Impian Indah di Bulan Ramadhan


Oleh. W. Yono (Penggiat di Rumah Baca Cahaya)

Impian bagi kebanyakan orang dimaknai sebagai khayalan dan angan-angan. Karena memang demikianlah makna yang diberikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bagi kami –pegiat dan relawan Rumah Baca Cahaya- juga demikian. Kami belum berani menyebutnya dengan cita-cita. Terlalu mewah. Karena kami masih takut untuk menentukan tanggalnya seperti kata Mario Teguh, CITA-CITA ADALAH IMPIAN YANG BERTANGGAL. Jika Anda memiliki cita-cita, segera tetapkan tanggal pencapaiannya.

Kami memang belum mampu menetapkan tanggal pencapaiannya. Tapi kami memiliki tanggal yang kami tulis di hati dan tekad kami. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki, kami berusaha menampakkan “tanggal” dari hati dan tekad kami dalam aksi nyata. Meski kecil dan sederhana.

Salah satu impian Rumah Baca Cahaya adalah menghadirkan orkestra kemanusiaan yang bisa dinikmati dan dicecap manfaatnya oleh siapa saja tanpa sekat gender, suku, ras dan agama. Berbagi dengan orang lain atas dasar kerelawanan itu merupakan tindakan yang tidak sia-sia. Ditengah sikap elit bangsa ini yang mendedahkan “kemewahan” di pusaran arus ketidakpastian masa depan bangsa ini perlu tindakan-tindak kecil dan sederhana dari generasi milenia untuk mau berbagi empati dan kesadaran dengan sesama. Di tengah serudukan berita-berita tentang kepongahan dan ketidak sensitifan elit bangsa ini dengan “menghamburkan” ratusan juta rupiah untuk kerja sekelompok orang yang tidak jelas manfaat yang bisa dirasakan kebanyakan rakyat kecil ini, perlu kisah-kisah keteladanan yang jujur dan sederhana dari generasi muda bangsa ini. Coba bayangkanlah ! seseorang yang sudah malang melintang di dunia hiburan musik –meski baru tingkat regional- yang keahliannya bermusik bisa menghasilkan berlembar-lembar rupiah mau berbagi keahliannya dengan mengajarkan memainkan alat musik di tengah-tengah khalayak tanpa imbalan materi apapun.

Berbekal dua gitar akustik dan satu biola, dia mengorbankan waktu dan tenaga serta keahliannya untuk berbagi dengan anak-anak muda yang mempunyai minat di bidang musik. Dia bukan dari kalangan yang membanggakan titel kesarjanaan berderet. Dia juga bukan dari kalangan yang mulutnya senantiasa menghamburkan segala macam teori yang membusa tapi minim aksi nyata. Bukan pula dari golongan kaum yang mendewakan segala jenis atribut kejayaan diri. Dia hanya orang biasa yang punya keahlian bermusik. Tapi dia mau berbagi. Panjang umur mas Ainur Wafiq dan Polyponic Music Studionya !

Beberapa bulan yang lalu, salah satu kawan masa kecil yang sekarang waktu dan hidupnya dihabiskan untuk mengemban amanah mencerdaskan anak bangsa di kota apel Jawa Timur, bersantai di lokasi Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong Lamongan. Dia liburan bersama keluarganya menikmati suasana keramaian di pinggir pantai. Dia mendapati kerumunan anak muda yang khusuk menggauli buku-buku yang digelar. Dia mendapati dalam kerumunan itu salah satu keponakannya yang bergiat menjadi relawan di Rumah Baca Cahaya. “lho….kamu kok punya kegiatan seperti ini ? Siapa yang mengelola ini ?” tak lama kemudian saya datang saling menyapa dan bertukar kabar. Saya tahu dia ini orang yang bergiat di dunia literasi. Sudah banyak tulisan-tulisannya yang dibukukan. Sering mengisi acara-acara workshop di gedung-gedung mewah dan ber AC. Sering “keluyuran” dari satu kota ke kota lain menjemput ilmu. Tanpa pikir panjang saya tawari dia kesempatan berbagi ilmu di “emperan”. Yup ! jadilah sore itu ajang pembelajaran bagi anak-anak muda. Berbekal satu papan kecil dan spidol dia mencorat-coreti papan. Entah apa yang diajarkan. Yang jelas tentang hal ikhwal tulis menulis. Diikuti sekitar lima atau enam orang dia memberikan PR tulisan yang akan dia tagih kelak kalau pulang kampung. Entah kapan. Sehat terus Om Panjilmo Putro, kedatanganmu sudah ditunggu untuk menyetorkan PR.

Seminggu yang lalu, kisah berbagi juga mewarnai rentang perjalanan RBC. Bertajuk acara Jagongan Sore seorang Dosen rela menempuh perjalanan menembus hutan dan melewati beberapa desa “hanya” untuk berbagi ilmu. Dosen yang juga penulis buku ini mau duduk bersila lesehan dan dilingkari anak-anak muda untuk membagi ilmu dan pengalamannya. Dia menularkan dan mengobarkan semangat Iqra’. Semangat membaca, menulis dan berbagi. Karena sampai malam tentu saja pulangnya dia harus membelah kegelapan. Maju terus Cak Maslahul Falah, kami rindu berteduh di rerindangan pohon pengetahuan bersamamu !

Kisah-kisah berbagi seperti itu akan terus diupayakan untuk menjadi deru dan degup jantung kehidupan RBC dan mileunya. Kedepan akan diadakan short course English for Kids. Seorang ibu guru di SMP Muhammadiyah 7 Blimbing Lamongan sudah menyiapkan waktunya untuk berbagi ilmu bersama anak-anak. Dia yang waktunya dihabiskan untuk mondar-mandir sekolah dan pasar. Mengajar dan “kulakan”. Maklum, selain mengajar dia juga pedagang. Pedagang online dan offline. Dia sangat menikmati kehidupannya. Menikmati kulinernya. Menyisihkan waktunya berjam-jam untuk berbagi ilmu itu luar biasa. Karena baginya, waktu itu bisa digunakan untuk mengembangkan dagangannya. Meski baru niat, dia sudah mengkapling kebaikan. Tentu kebaikan itu akan beranak pinak bila niat dilaksanakan menemui takdirnya. Sukses terus Bu Guru Wida Idianingsih, ditunggu kapan saat itu akan menjadi nyata !

Tentu di Bulan Ramadhan ini –Bulan Berbagi- tidak hanya berbagi ilmu juga berbagi buku dan makanan yang tidak bisa saya sebut satu-persatu. Aneka jenis makanan untuk berbuka senantiasa menemani kami melewati sore selama melapak di Bulan Ramadhan kali ini. Mulai aneka jenis gorengan, kue nastar yang dibuat sendiri oleh salah satu relawan, nasi kotak, buah dan entah apa lagi.

Masih banyak impian-impian yang masih hangat kami dekap. Entah kapan impian itu bisa kami tetapkan tanggalnya. Disisa bulan Ramadhan ini kah ? atau dihari-hari lain. Semoga !

Edisi Minggu Ramadhan, 3 Juni 2018


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *