Mencipta Alam Berpikir di sekitar kita


Irvan Shaifullah
(Pegiat Ransel Pustaka dan Taman Baca Kusuma)

Manusia adalah makhluk multidimensional, memiliki insting, berkarakter vegetatif seperti tumbuh tumbuhan. Tumbuh untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Namun tidak berhenti sampai disitu, karena daya jangkau indra yang bersifat superfisial, indra tidak bisa mengetahui karakter segala sesuatu dan tidak dapat mengetahui hubungan logis segala sesuatu, maka bagi manusia bahan mentah tidak dianggap sebagai barang jadi, melainkan suatu bahan yang harus dijadikan. Ada dimensi intelektual (Intelligence Quotient ) yang dengannya ia membangun budayanya secara kreatif progresif, bermodel spiral yakni semakin hari semakin maju dan selalu tampil unik di setiap zamannya.

Lapisan neokorteks dalam anatomi otak menghadiahkan padanya suatu potensi intelektual yang seakan nyaris “tak terbatas”. Neokorteks itu secara anatomis hanya dimiliki oleh species manusia saja. Susunan sel sel neokorteks betul betul khas milik manusia, lapisan cortex bagian depan akan berperan mensistematisasi konstitusi pribadi dan wadah moral seseorang. Psikoanalisa terkemuka Erich Fromm mengatakan” keniscayaan agama dan ajaran ajaran luhur hanya dimungkinkan dengan keberadaan neokorteks ini”. Manusia mampu mengungkap segala rahasia alam materi dengan potensi diri yang dimilikinya, tapi perhatian manusia juga melampaui hal hal yang bersifat non material. Manusia merupakan makhluk yang membutuhka nilai, norma, keluarga, kedamaian, keserasian, kesetiaan, ketentraman, dsb yakni ruang ruang psikologi yang begitu luas di dalam batin(Emotional Quotient).

Dan atas semua itu, manusialah mahkluk yang jauh di lubuk hatinya merindukan sesuatu yang agung, tinggi, suci, benar, absolut, eternal, hakiki dan abadi selamanya sebagai wujud makhluk berdimensi ( Spiritual Quotient ). Meski spiritualitas adalah wilayah asing dalam khazanah eksistensi kita yang tak sepeenuhnya dapat kita pahami, namun alangkah tepat yang dikatakan seorang ilmuwan, Tielhard De Cahrdin bahwa “ Kita ini bukan manusia yang punya pengalaman spriritual, tapi kita adalah makhluk spiritual yang punya pengalaman manusiawi.”

Alex Shobur (2003:207) juga menuliskan secara utuh dalam bukunya Psikologi Umum, beruntung bagi yang membaca seruan tajam dan gamblang yang mengajak berpikir dalam Al Qur’an ;

“Katakanlah : Sesungguhnya Aku hendak memperingatkanmu suatu hal saja, yaitu agar kamu menghadap Allah, baik dalam keadaan berdua maupun sendiri, kemudian engkau pikirkan (tentang Muhammad) teman kamu, sedikit pun tidak berpenyakit gila, tak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum kamu menemui azab yang dahsyat.(QS 34 :46)

Ayat inilah, menurut Yusuf Al Qardhawi (1991), yang mendorong Abbas Al Akkad mengeluarkan sebuah buku yang diberi judul At Tafkiru Faridlatan Islamiyatun (Berpikir kewajiban dalam Islam). Sebuah ungkapan yang sahih.

Dalam Islam, seruan berpikir, memperhatikan, dan mengetahui, tidak dikhawatirkan akan membawa dampak negatif yang bertolak belakang dengan kebenaran agama. Sebab Islam beranggapan : kebenaran agama tidak akan beertentangan dengan kebenaran rasio.

Pada hakikatnya, berpikir merupakan ciri utama bagi manusia untuk membedakan antara manusia dan mahkluk lain. Dengan dasar berpikir ini, manusia dapat mengubah keadaan alam sejauh akal dapat memikirkannya. Akal merupakan salah satu unsur kejiwaan manusia untuk mencapai kebenaran, disamping rasa untuk mencapai keindahan dan kehendak untuk mencapai keindahan dan kehendak untuk mencapai kebaikan. Dengan inilah, manusia dapat berpikir untuk mencari kebenaran hakiki.

Dengan buku dan bergiat dengan literasi adalah bagian dari ikhiar berpikir tersebut. Karena berpikir adalah kewajiban dalam islam, maka buku dan taman baca ibarat gelas dan air jernih, dan pikiran sendiri adalah rasa haus. Taman baca harus sesuai porsi orang yang menikmatinya, dibuat semenarik mungkin agar orang memilihnya. Buku (air jernih) adalah hal yang harus ada untuk mengobati rasa haus, baik dicampur dengan kopi, teh dan marimas . Tak ada buku berarti tak ada peradaban dan orang orang akan mengalami kemarau intelektual.

Sedang aktifitas membaca adalah aktifitas berpikir yang menarik, meloncat loncat, menghubungkan satu kata dengan kata yang lain, menerlukan daya kreatif baru dan tidak membuat penikmatnya merasa terbebani.
Selamat hari pendidikan,
Salam Cinta Tanah Air,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *