Mencintai itu utuh, kepada hati, kepada raga dan resikonya


 

Judul buku : Dawuk “Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu”
Penulis        : Mahfud Ikhwan
Penerbit      : Marjin Kiri
Tahun          : Juni, 2017
Halaman     : 181 halaman
ISBN            : 978-979-1260-69-5

Karya ini benar-benar berada di tangan saya setelah cetak ulang untuk yang ke-dua kalinya. Dan, karya ini menjadi peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, tahniah Mas Mahfud. Biasanya saya menuntaskan sebuah karya sastra, yang tebalnya tidak lebih dari 200 halaman hanya beberapa kali duduk saja. Bukannya saya penganut pembaca cepat, tapi memang mudah larut dalam sebuah karya sastra. Namun, berbeda dengan kisah dawuk ini. Setiap kali membukanya saya tidak lebih menuntaskan 3-4 bab saja per-harinya. Sebuah karya sastra yang menggunakan bahasa yang mudah dipahami, namun mampu mengaduk perasaan dan emosi pembaca. Fikiran pembaca diajak seolah-olah kenal dengan dawuk. Bahkan, saya pernah merenung, andai aku adalah dawuk.

Dia adalah Muhammad Daud, atau warga Rumbuk Randu menamainya Mat dawuk. Saya tidak menulis “memanggilnya Mat dawuk”, karena memang sejak kecil sampai sudah dewasa, tidak pernah ada masyarakat yang memanggilnya. Tidak banyak orang yang mau bertegur sapa dengannya. Bahkan cenderung menjauhinya. Bukan tidak ada alasan, wajahnya yang buruk rupa dan ayahnya pun benci padanya. Dia adalah penyebab kematian ibunya, saat melahirkannya. Kecuali Ina. Dia adalah Inayatun, seorang primadona Rumbuk Randu. Tapi Inayatun mau menyapanya, bahkan pada akhirnya mereka menikah pun bukan hal yang indah. Berbeda dengan kisah cinta yang lain.

Kisah pertemuan mereka saat Ina menjadi TKI di Malaysia. Meskipun mereka se kampung, seorang Ina tidaklah kenal dengan Mat dawuk, hanya tahu namanya. Bahkan cerita-cerita tentang kengerian rupa Mat dawuk lebih dia kenal, dan terkenalnya dia sebagai pembunuh bayaran saat di Malaysia. Mat Dawuk menyelamatkan Ina saat akan menjadi korban penyiksaan oleh laki-laki yang mencintainya. Mat dawuk berkelahi membela Ina, memberikan tempat yang aman, dan yang terakhir adalah membunuh laki-laki yang mencintai Ina. Laki-laki itu kasar, sehingga Ina menderita jika bersamanya. Itu harus segera diselesaikan, menurut cara Mat dawuk.

Mat dawuk menikah dengan Ina tanpa restu dari orang tua Ina. Namun mereka tetap hidup bersama dan menjalani hidup dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Meskipun kebahagiaan yang tidak pernah dibagikan kepada yang lain. Tidak hanya orang tua Ina yang tidak setuju, melainkan pemuda-pemuda yang jatuh cinta pada kecantikan Ina. Mereka berencana mencelakakan Mat dawuk, bahkan sampai pada keputusan membunuhnya. Semua resiko mencintai dan melindungi Ina secara utuh siap diterima oleh Mat dawuk, bahkan fitnah pembunuhan terhadap istrinya.

Karya Mahfud ini juga menyuguhkan tentang sebuah kebahagiaan. Mengajarkan makna kebahagiaan kepada para pembaca. Sedikit saya kutip, “lihatlah kopi ini”. Ya, inilah kebahagiaan. Seperti kopi, cepat atau lambat ia akan habis. Kita menikmatinya saat panas-panas. Sehingga tidak terasa sudah tandas. Atau belum sempat kita menikmati kopi yang tersaji, ada yang menyerobot secangkir kenikmatan yang dihadapan kita. Bisa jadi karena ulah kita sendiri, cangkir kopi menjadi tumpah, sehingga tidak tersisa lagi secangkir kebahagiaan untuk kita.

Kisah ini juga sedikit berlatar belakang situasi politik Orde Baru. Meskipun tidak terlalu banyak menceritakan dinamika perpolitikan. Justru, imbas dari perpolitikan itu dirasa sampai sebuah kampung ditengah hutan, Rumbuk Randu. Kejelian Mahfud dalam menggunakan data-data Orde Baru, menjadikan kisah ini begitu dekat dengan kita. Terutama yang tinggal disekitar jalan dari Anyer-Panarukan.

Bagi seorang penulis yang masih baru, karya sastra ini cocok sekali menjadi sebuah guru. Gaya bahasa yang renyah serta kepiawaian pemilihan kata-kata menjadikan setiap bab dalam tulisan ini menjadikan pertanda kekayaan kesusastraan bangsa Indonesia. Pembaca sastra atau prosa modern pun akan tidak bosan. Ada banyak hikmah yang tersirat jika pembaca jeli. Sepertinya si penulis tidak suka menggurui akan kebaikan-kebaikan dalam hidup ini.

Pembaca akan diajak memahami makna kebahagiaan, cinta dan segala resiko yang mengiringinya. Namun, bukan berarti karena ada banyak resiko dan konsekuensi, lantas kita tidak boleh mencintai. Cintailah secara utuh, dengan segenap kebahagiaan dan bertanggung jawab atas rasa itu. Warto Kemplung yang menceritakan padaku tentang kisah Mat dawuk ini. Semoga pembaca tidak terbuai oleh bualan Warto kemplung, karena saya sudah terbuai olehnya. Dasar kemplung!!!