Mencatat Sejarah Pergerakan


Setiap gerak langkah individu individu di setiap zaman adalah peristiwa sejarah. Pergerakan orang per orang dalam pengertian sosial mencipta pergerakan komunal. Jika semua orang menjadi sejarawan bagi dirinya dan lingkungan sosialnya maka kita akan panen karya sejarah lokal dengan ragam warna di dalamnya. Proses pendokumentasian sejarah itu dapat dimulai dari satu semangat: setiap warga adalah wartawan bagi dirinya, komunitasnya, dan masyarakat tempat dimana ia berinteraksi dan menjadi pelaku sejarah. Tulisan ini hendak menjadi sejenis pemantik mengapa kita perlu menuliskan sejarah lokal, menyajikan peristiwa secara kronologis dan kreatif tentang berbagai hal. Wabilkhusus, menuliskan sejarah pergerakan Muhammadiyah dan apa apa yang hidup, tinggal, tumbuh, besar di dalamnya atau di dalam lingkungan sekitarnya.

Ada optimisme besar akan menggeliatnya dan massifnya karya karya anak muda tentang sejarah lokal. Faktanya, ada banyak tantangan bagi siapapun yang mencoba melahirkan karya tulis bergenre sejarah lokal. Tantangan itu riil dan sebagian besar pemimpi buku sejarah lokal Muhammadiyah tak sanggup menangkal halang rintangan tersebut. Dari ribuan wilayah daerah, cabang, ranting dan AUM Muhammadiyah hanya hitungan jari jari jumlah buku yang dilahirkannya. Rahim karya sejarah seolah dibiarkan mandul tanpa upaya yang keras mengatasinya. Kesadaran pentingnya sejarah selalu datang terlambat. Perasaan semacam ini hampir merata di semua organisasi pergerakan. Ketakutan akan hilangnya fakta sejarah muncul, setelah semua berjalan jauh ratusan atau puluhan tahun setidaknya. Jumlah aktifis dan penulis sejarah tidak berjalan beriringan, tidak memggembirakan. Ibaratnya, jumlah aktifis pergerakan seperti deret ukur:294,8,16,32, sedangkan jumlah penulis sejarah tumbuh hanya seperti deret hitung: 1,2,3,4,5,6.

Kesadaran sejarah sebenarnya adalah kesadaran manusiawi. Banyak manusia takut kehilangan masa lalu dari pada ketinggalan masa depan. Mengapa? Masa lalu lebih dilihat sebagai kenyataan sedangkan masa depan adalah kegaiban. Sejarawan atau pencatat/ penulis sejarah di kalangan anak muda Muhammadiyah sangat minim jumlahnya. Prof Syafii Maarif pernah menuliskan, “orang Muhammadiyah yang berminat menuliskan sejarah itu sungguh sangat langka. Sebagian mereka, energinya telah tersedot oleh kegiatan amal usaha. Banyak tantangan dan masalah di dalamnya sehingga fikiran ke arah penulisan sejarah terlewatkan begitu saja.” Buya Syafii tepat sekali menyajikan fakta sejarah ihwal orang orang Muhammadiyah memandang pentingnya pencatatan sejarah. Dalam jangka waktu panjang, persoalan ini akan menggelincirkan para pemikir dan aktifis muda pergerakan kepada bentuk sekularisasi baru bahwa sejarah bukan ilmu, dan produksi buku sejarah tidak sama dengan memproduksi pengetahuan. Jika demikian, bangsa ini akan kehilangan pelajaran tentang kearifan dan kebijakan.

Dari pengetahuan sejarah kita tahu karakter karakter unggul bangsa ini. Sejarah lisan, sejarah tektual kontekstual, sejarah yang disajikan dalam beragam karya sastra kita tahu banyak unsur pembangun karakter manusia Indonesia. Dari buku tentang KHA Dahlan kita belajar api pergerakan islam, kita belajar dari biografi tokoh tokoh Muhammadiyah tentang pengabdian, ketulusan, dan militansi dalam memperjuangkan ummat. Buku catatan sejarah itu pelajaran berharga, bukan artefak warisan tanpa kekuatan atau daya ubah.

Mitos yang menempatkan sejarah sebagai karya tulis tengang angka, tahun, jumlah statistik, haruslah disudahi. Muatan itu dalam sejarah betul, tapi tidak benar sejarah hanya perihal angka angka yang membuat botak kepala jika dipaksa menghafalkan. Banyak ragam menuliskan sejarah yang menginspirasi, memperkuat agenda transformasi sosial. Kolonial Belanda dan Orde baru membuat bangsa ini tak mengerti kegunaan dan fungsi sejarah secara aktual. Saatnya kita harus meluruskan tuduhan buruk tentang buku sejarah.

*Mulai dari mana?*

Bertindaklah dalam hidup ini seperti seorang peneliti, seperti ahli sejarah amatir, atau seperti wartawan investigator, atau seorang yang selalu penasaran dengan sedikir nalar analitis atau nalar nakal tentang berbagai fenomena atau “kenyataan” sosial. Ditambah skill seni bertanya kepada siapa saja yang berpeluang sebagai narasumber atau informan. Dari sinilah, kerja membuka tabir kegelapan dimulai.

Perilaku ala ilmuwan di atas berguna bagi produksi catatan sejarah karena beberapa alasan penting. Pertama, seseorang akan menghargai arsip, notulensi rapat, leflet, poster, berita koran, kliping, dan dalam waktu yang sama ia akan melakukan kerja kerja dokumentasi yang kelak akan berguna bagi penyajian fakta sejarah secara sistematik dan atau kronologis. Seorang sejarawan ulung atau amatir sama gayanya: mereka tak pernah abai pada dokumen atau data (foto, gambar, video, rekaman, catatan, buku harian, buku agenda, undangan, presensi, alat alat kantor, dll). Semua hal akan membantu seorang sejarawan mengkisahkan peristiwa.

Kedua, sembari militan mengumpulkan data dan fakta haruslah ada keberanian untuk memulai menuliskan draft secara kasar, atau sekedar memberikan informasi secara berurutan, melakukan kategorisasi informasi, membuat caption masing masing gambar yang dicocokkan dengan cerita,dongeng, sejarah lisan informan, dan melakukan langkah apa saja yang membuat pencatatan lebih mudah.

Ketiga, mengikuti aliran penulisan sejarah Kuntowijoyo, seorang penulis sejarah lokal perlu mengembangkan nalar interpretatif dan kritis sehingga dokumen sejarah memiliki ruh dan menjadi bermakna serta dapat memicu penulisan sejarah yang lebih komprehensif. Taruhlah contoh sebuah topik sejarah mengenai hubungan Muhammadiyah dan PKI. Ada pertanyaan mengapa seolah PKI dan Muhammadiyah tidak terlibat konflik sangat intensif bila dibandingkan dengan NU. Apakah ini fakta sejarah? Bagaimana jika dikaji dalam sejarah lokal misalnya, Muhammadiyah di Jombang, Madiun, Tegal, dll dan keterlibatan mereka dalam peristiwa 1965. Semua informasi itu perlu disajikan secara runtut, berbasis data, fakta, dan logis. Penulis secara emosional dapat terlibat memberi nafas dalam karya tulis berhaluan sejarah. Terutama sekali, jika penulis sekaligus menjadi subyek sejarah. Misal karya jenis biografi.

Dengan demikian, sejatinya seorang sejarawan amatir telah membantu memberikan pencerahan melalui karya tulis bermuatan sejarah lokal.

Sebagai penutup, untuk membuat kerja pencatatan sejarah dapat dilaksanakan dengan mudah rasanya perlu penulis sampaikan bahwa topik tidak harus mainstream. Misalnya, Muhammadiyah pesisir, Sejarah Ranting Istimewa, Biografi pendiri Cabang Muhammadiyah Blimbing, sejarah Muhammadiyah Bangkalan, Muhammadiyah di Kampoeng Kristen, Muhammadiyah di Sarang Nu, dll. Ada juga topik sejarah lokal “kontemporer” sangat juga sangat banyak,misal: kiprah Universitas Muhammadiyah di Kupang, Perempuan Harus Pintar: Sekolah dan Guru Muhammadiyah di pedalaman, Ustadz Yono: Guru Ngaji penggerak literasi, biografi Hajjah Baroroh Barid, biografi politisi Aisyiyah, biografi Pemuda Penggerak Perpustakaan Keliling, dan masih banyak lainnya.

Semua potensi penulisan sejarah di atas menunjukkan gambaran bahwa kita bisa memulainya dengan kekuatan dan sumber daya yang dimiliki sejatinya melakukan pencatatan ini bukan pekerjaan sulit, hanya harus berani melawan ketakutan, rintangan, dan kemampuan melipatgandakan dukungan demi kelahiran sebuah karya yang berguna. Kemampuan teknologi hari ini perlu sekali digunakan sebesar -besarnya untuk melalukan akselerasi kerja pendokumentasian pengetahuan dan pada akhirnya mendorong beragam karya buku berbasis pengetahuan lokal. Lokalitas punya banyak dimensi keunggulan : asli, autentik, unik, menarik, belum banyak ditulis orang lain.

Sejarah dan tafsirnya harus direbut jika tidak mau menjadi korban penulisan sejarah karena sejarah bukan pengetahuan netral. Mengapa bapak pendidikan bukan KHA Dahlan? Mengapa tokoh emansipasi perempuan bukan Nyai Walidah? Itu karena sejarah adalah kekuasaan penulisnya. Jadi kedaulatan kita adalah soal kemauan kita menuliskan diri kita, pergerakan yang kita terlibat di dalam gelombangnya. Wabilakhir, selamat mencoba, selamat menangkal gangguan-gangguan di dalam ikhtiar penulisan sejarah[]

Perjalanan menuju Tegal, 17 Maret 2018