Mencatat Sejarah Muhammadiyah, Mendokumentasikan Amal Sholeh


SLAWI, Pustakamu.id – Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Tegal menyelenggarakan Pelatihan Menulis Sejarah Muhammadiyah, Ahad (18/3). Kegiatan tersebut dihadiri puluhan peserta yang terdiri dari perwakilan PCM, Amal usaha Muhammadiyah se-Kabupaten Tegal dan perwakilan Ortom serta peserta dari luar kota Tegal.

Ketua Koornas Syarikat Taman Pustaka Muhammadiyah MPI PP Muhammadiyah, David Efendi hadir sebagai pembicara. Menurutnya, terdapat dua sumber dalam menulis sejarah Muhammadiyah, yaitu sumber primer dan sumber sekunder.  “Sumber yang dibuat pada saat peristiwa terjadi, seperti dokumen laporan kolonial atau organisasi disebut data primer. Sumber primer dibuat oleh tangan pertama. Sedangkah sumber sekunder, merupakan sumber yang menggunakan sumber primer sebagai sumber utamanya. Jadi, dibuat oleh tangan atau pihak kedua, contohnya, buku, skripsi, dan tesis” tutur David.

Ia melanjutkan, tanpa adanya sumber sejarah, sejarawan akan mengalami kesulitan menemukan jejak-jejak sejarah dalam kehidupan manusia. “Untuk sumber lisan, pemilihan sumber didasarkan pada pelaku atau saksi mata suatu kejadian. Narasumber lisan yang hanya mendengar atau tidak hidup sezaman dengan peristiwa tidak bisa dijadikan narasumber lisan” imbuhnya.

Selain itu, David menjelaskan bahwa penggalian pemikiran para tokoh/sesepuh juga merupakan upaya untuk menyebarluaskan informasi dan transformasi nilai-nilai organisasi yang sejak dulu dipegang. “Semangat, kegigihan, keistiqomahan, dan keikhlasan para tokoh sesepuh bisa menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya. Sebab, pada dasarnya nilai-nilai tersebut tak lekang oleh waktu,” tambah David. Selain itu ia menegaskan bahwa kerja pencatatan sejarah merupakan kerja untuk mendokumentaiskan amal sholeh sebuah komunitas.

Kemudian, David mengungkapkan siapa saja yang pernah melihat maju pesatnya peradaban tentu akan menghargai khazanah perbukuan dan dunia literasi. “Watak berkemajuan Muhammadiyah sejak kelahirannya telah konsisten menjunjung tinggi pengetahuan untuk memajukan bangsanya dari keterpurukan akibat penjajahan atau akibat kejumudan. Perpustakaan adalah ladang mengasah kekuatan kemandirian suatu bangsa” tandasnya.

Sementara itu, Ketua MPI PDM Tegal, Hendra Apriyadi mengatakan para sesepuh Muhammadiyah Tegal adalah pahlawan yang telah menorehkan tinta dalam sejarah. Para tokoh tersebut yang punya peran besar dalam mengembangkan Muhammadiyah. “Gerak dan pemikirannya dapat menjadi acuan bagi generasi berikutnya dalam melanjutkan tongkat estafet perjuangan. MPI Muhammadiyah Kabupaten Tegal sedang produksi penulisan sejarah Tokoh Muhammadiyah yang menginspirasi“ papar Hendra. (MPI PDM Kab Tegal/rizq)