Mencatat Sejarah Gerakan Sosial Untuk Penulis Muda


Penulisan sejarah (historiography) secara umum dikenal sebagai bagian dari pekerjaan mengumpulkan informasi masa sebelumnya, yang menjadi pijakan bagi eksisnya peristiwa di masa sekarang. Penulisan sejarah dengan demikian memiliki posisi penting bagi proses memahami realitas aktual, temporal, ataupun prediktif bagi manusia. Oleh karena itulah penulisan sejarah seringkali merupakan bagian dari proses menemukan kembali ingatan bersama (memori kolektif). Terdapat empat prinsip mendasar dari dorongan penulisan sejarah. Pertama, berkaitan dengan pemahaman bahwa sejarah merupakan masa lampau, yang hadir ataupun terkubur dalam ingatan manusia, artefak, anekdot, ruang geografis, norma-norma, kebudayaan, tradisi, ataupun teknologi. Kedua, penulisan sejarah bisa berarti mencatat peristiwa yang sudah terjadi, atau sedang berlangsung, atau membuat peristiwa yang layak dicatat sebagai sejarah. Muhiddin Dahlan, seorang pegiat dokumentasi dan pengarsipan di Yogyakarta menyatakan bahwa proses bekerja dengan bahan-bahan sejarah, berfungsi untuk “menghidupkan peristiwa”. Dalam pemahaman yang lebih radikal, sejarah, menurut Dahlan, adalah apa yang terjadi mencakup di masa lampau sekaligus masa sekarang. Dahlan memperkenalkan istilah “membuat peristiwa arsip” yang berarti bahwa penulisan sejarah tidak melulu berkenaan dengan peristiwa yang sudah terjadi, melainkan bagaimana menciptakan peristiwa yang dapat ditulis sebagai “sejarah”.

Ketiga, penulisan sejarah merupakan proses menghubungkan imajinasi, membuktikan keterikatan diskursus masyarakat/komunitas dengan kejadian-kejadian transformatif, serta mengadvokasi peristiwa-peristiwa di masa lampau tersebut sebagai cara membangun solidaritas di masa kini. Penulisan sejarah bukan sekedar memindahkan pengetahuan mengenai masa lampau, atau sekadar mencatatnya sebagai analisa kronologis, melainkan melampaui syarat teknis semacam itu untuk mendorong kebaikan bersama di masa kini. Menulis sejarah harus mengambil posisi emansipatif dalam proses pembebasan belenggu-belenggu di masa kini. Keempat, penulisan sejarah dapat berarti “pemadatan” dan perangkaian peristiwa, alam, dan manusia. Hal ini memberi dampak mengenai sifat holistik sejarah. Penulisan sejarah yang baik adalah yang memperlihatkan tautan antara tiga hal tersebut; peristiwa, alam, dan manusia. tidak ada sejarah yang terjadi karena pengaruh satu faktor, katakanlah karena manusia saja. Sebab, peristiwa sejarah tidak untuk mengglorifikasi peran absolut salah-satu dari tiga tautan tersebut, misalnya manusia saja. Selalu ada kelindan dari ketiga tautan, dan sejarah, persis terjadi dalam lingkup semacam itu.

Penulisan sejarah membuat orang di masa kini mengerti tentang hal-hal yang pernah dilalui situasi, peristiwa atau masyarakat di masa lampau. Fungsinya tentu saja adalah memberi inspirasi—meminjam klaim Hannah Arendt—membawa “terang” bagi “kemuraman” hidup di masa sekarang. Hal ini jugalah yang membuat pencatatan sejarah menjadi terlampau penting untuk diabaikan. Kehidupan manusia adalah siklus untuk memahami perubahan atau mendorong perubahan. Sejarah memainkan perannya dengan memberi peringatan apa yang terjadi, apa yang semestinya diperhatikan, dan bagaimana merefleksikan semuanya ke dalam kerangka hidup manusia sekarang.

Beberapa Penulisan Sejarah Gerakan Sosial

Pencatatan sejarah gerakan sosial di Indonesia pada dasarnya memiliki perkembangan yang unik. Penerbit-penerbit di Indonesia juga menjadi faktor penting perbaikan kualitas historiografi gerakan sosial. Tema-tema sejarah makin dianggap penting. Selain itu, tema-tema sejarah pada dasarnya memang selalu menarik untuk ditulis dalam konteks negara-negara dunia Ketiga. Buku Di Bawah Tiga Bendera (2015) karangan Benedict R. O’G. Anderson, merupakan salah-satu contoh historiografi gerakan sosial yang cukup memadai. Benedict Anderson menggunakan pendekatan unik dalam menjelaskan suatu konteks sejarah mengenai gerakan anarkisme di antara mata rantai negara-negara Asia, dan negara-negara koloni. Peloporan penulisan sejarah seperti yang dilakukan oleh Benedict Anderson termasuk yang tidak lazim dalam pakem historiografi (atau malah bukan merupakan contoh historiografi?). Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, kelindan kompleks antara aktor, pengetahuan, konteks geografi berhasil dirakit Benedict Anderson menjadi jalan untuk memahami sejarah asal-muasal imaji anti-kolonial yang menginspirasi gerakan-gerakan pemberontakan sesudahnya. Benedict Anderson dan beberapa ilmuwan sosial lainnya terutama berasal dari Cornell University seperti George Kahin, dan Takeshi Shiraishi mempelopori terobosan-terobosan penting dalam kajian sejarah gerakan sosial di Indonesia. Kahin meneliti mengenai gerakan nasionalisme, sedangkan Shiraishi meneliti dinamika gerakan sosial di awal abad 20. Termasuk di dalamnya juga disinggung mengenai Muhammadiyah.

Apa yang membuat kajian menarik Kahin, Benedict Anderson, dan Takeshi Shiraishi? Ketiganya menulis sejarah seolah-olah punya hubungan erat dengan apa saja yang terjadi hari ini. mereka membuktikan apa yang dipikirkan oleh orang-orang hari ini juga dialami oleh orang-orang di masa lampau. Terpautnya waktu yang teramat jauh ternyata punya benang dimensi yang terikat dan terhubung. Sebaiknya sejarah memang ditulis dalam semangat untuk menunjukkan betapa hidupnya sejarah di masa lampau. Orang-orang yang membaca sejarah menemukan sisi-sisi praktis yang bisa direfleksikan berdasarkan kondisi-kondisi hari ini.

Dari bagian Manakah Sejarah Bisa Ditulis?

Aspek-aspek sejarah apa saja yang bisa ditulis dan membuat sebuah pekerjaan pencatatan dan penulisan sejarah menjadi demikian penting? Paling tidak terdapat beberapa aspek sejarah yang signifikan dan selalu menjadi pusat perhatian penulisan sejarah.

Pertama, aspek sejarah mengenai penemuan-penemuan gagasan yang telah dicapai dan memberi pengaruh bagi kehidupan yang lebih baik di masa sekarang. Misalnya aspek sejarah mengenai penemuan gagasan filantropi Muhammadiyah di awal abad 20. Bagaimana konteks penemuan gagasan filantropi di bawah pengaruh kebijakan-kebijakan kolonial? Bagaimana daya-tahan yang dialami oleh aktivis Muhammadiyah dalam menggerakan gagasan filantropi? Imaji semacam apakah yang melatarbelakangi pemikiran mengenai filantropisme Muhammadiyah di masa itu? Melalui media semacam apakah gagasan filantropi itu digerakkan, disebarkan, dan mengundang simpati? Terakhir, latar belakang konteks ekonomi-politik semacam apakah yang mengkonstruksi gagasan filantropi?

Kedua, aspek sejarah mengenai aktivitas-aktivitas dan proses kehidupan di masa lampau. Dalam kasus penulisan sejarah mengenai biografi seseorang (misalnya aktivis/pegiat Muhammadiyah) penelusuran melalui aktivitas-aktivitas akan membantu terbukanya jalan dalam memahami sisi biografis. Aktivitas akan mendefinisikan alam intelektual praktis. Asumsi dasarnya adalah bahwa aktivitas-aktivitas itulah yang akan membantu proses pendefinisian pergulatan antara aktivisme dan intelektualisme subjek sejarah. Pembaca sejarah juga sangat tertarik dengan informasi-informasi berkenaan dengan aktivisme seseorang.

Ketiga, penulisan sejarah secara umum ditujukan untuk mengetahui peristiwa atau kejadian sejarah. Peristiwa atau kejadian apa yang terjadi di masa lampau? Bagaimana peristiwa atau kejadian itu terjadi? Mengapa? Hal apa saja yang bisa dipahami dari peristiwa dan kejadian sejarah tersebut? Aspek ketiga ini memang pada umumnya menjadi subjek dari penulisan sejarah. Mengapa penulisan peristiwa atau kejadian sejarah menjadi penting selain karena hal inilah yang menjadi pijakan bagi peristiwa atau kejadian di masa kini? Bagi penulis Latin semacam Fuentes, peristiwa atau kejadian sejarah merupakan “beban” yang terus hidup di “punggung” kesadaran dan tendensi manusia masa kini. Peristiwa atau kejadian di masa lampau akan terus menjadi bayang bagi identitas kehidupan, dan seberapa jauh kita akan mengulang kekeliruan, atau berkesempatan memperoleh inspirasi belajar yang bermakna.

Mulai Menulis Sejarah

Bagaimana penulisan sejarah dilakukan? Proses pertama tentu saja adalah menemukan informasi atau menggali data yang menjadi dasar bagi penulisan sejarah. Penggalian data dilakukan melalui tiga metode; wawancara, pembacaan dokumen dan literatur, dan observasi. Metode pengumpulan data melalui wawancara dilakukan dengan menemui subjek-subjek informasi yang signifikan dalam memberikan data. Metode pembacaan dokumen dilakukan dengan mengumpulkan arsip-arsip primer dan sekunder yang akan memandu penemuan informasi sejarah. Arsip-arsip primer berkaitan dengan sekumpulan dokumen yang terdiri atas foto, kliping koran, publikasi resmi negara atau organisasi, korespondensi, dan lain sebagainya. Dalam hal ini Benedict Anderson menyarankan (secara kreatif) untuk mempertimbangkan koleksi-koleksi pribadi subjek sejarah (jika berkenaan dengan biografi seseorang) dan coretan-coretan yang dilakukan subjek pada koleksi buku sebagai “penelusuran arsip”. Sebagai tambahan, anekdot-anekdot atau idiom-idiom sebagai bentuk “arsip” lisan yang hidup dalam konteks masyarakat tertentu akan memberi sentuhan pembacaan kreatif dari peristiwa sejarah di masa lampau. Arsip sekunder terdiri dari bahan-bahan dokumen atau literatur yang mendukung penjelasan faktor-faktor sejarah.

Terakhir, adalah melakukan observasi untuk menemukan material dari konteks sejarah tertentu. Observasi memperkuat pembuktian penulisan sejarah. Seorang penulis sejarah membutuhkan observasi untuk membangun argumentasi yang kuat. Seringkali observasi akan menjadi cara untuk memperbaiki kesimpulan-kesimpulan tertentu dari penulisan sejarah sebelumnya. Observasi juga menjadi cara untuk memahami konteks geografis lokasi subjek sejarah hidup.

Tahap selanjutnya setelah data diperoleh, adalah mulai menganalisis dan menulis. Analisis dibagi menjadi dua aktivitas; pertama adalah melakukan kategorisasi, memberi konteks-konteks dari data yang diperoleh. Kedua adalah memberikan interpretasi atas analisa sejarah yang dilakukan. Pada tahap interpretasi, sebaiknya penulis sejarah selalu memaksudkan interpretasinya dalam kerangka untuk mendorong topik sejarah tertentu membawa daya bagi refleksi di masa kini. Bahkan melampaui interpretasi dari sekedar kerja analisa yang kaku, menjadi punya daya advokatif. Setelah itu proses penulisan dapat dimulai dengan membuat kerangka tulis, atau memilih model-model penulisan sejarah yang sekarang tengah berkembang secara unik.

Paling tidak ada beberapa model bagus dan kreatif dalam menulis sejarah. Kendati demikian, buku Di Bawah Tiga Bendera merupakan salah-satu contoh handal dari model penulisan sejarah yang kreatif. Penulis buku ini, Benedict Anderson menulis sejarah biografi tiga orang anarkis di bawah jajahan Spanyol dengan memadukan berbagai macam sumber sejarah, dan penyajian tulisan sejarah yang unik. Benedict Anderson misalnya memulai menulis sejarah tanpa diawali secara langsung dengan memaparkan data. Alih-alih memaparkan data, Benedict Anderson tidak jarang memulainya dengan idiom-idiom atau anekdot (contoh: Ayam atau telur yang duluan?). Selain itu, Benedict Anderson memilih gaya naratif, alias bercerita selayaknya sedang menuliskan sebuah novel sekuel tentang kehidupan tiga orang anarkis; Jose Rizal, Isabelo de los Reyes, dan  Mario Ponce.

Sumber: http://www.rumahbacakomunitas.org/mencatat-sejarah-gerakan-sosial-untuk-penulis-muda/