Memuliakan Buku


Oleh: Roynaldy Saputro
( Pegiat Pusjal Kudus )

Akhir-akhir ini banyak aktivis sedang memperhatikan kondisi literasi masyarakat Indonesia. Berbagai komunitas baca hadir disetiap sudut kota kecil maupun kota besar Indonesia. Ribuan aktivis dengan sukarela tanpa di bayar menghadirkan bahan bacaan kepada semua kalangan masyarakat. Tidak hanya menghadirkan bahan bacaan saja, akan tetapi di iringi dengan karya seni visual yang lain sebagai penarik minat masyarakat supaya bisa menjamah bahan bacaan tersebut. Mereka lakukan itu semua dengan tujuan yang sama yaitu untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara melalui literasi. Gerakan melek/sadar literasi ke setiap kalangan, kesetiap tempat dan disetiap waktu.

Salah satu komponen yang penting dalam gerakan ini adalah hadirnya buku-buku. Buku-buku tersebut didapat dengan membeli secara pribadi atau hanya sebatas bantuan sukarela dari donatur buku. Buku menjadi suatu hal yang sangat penting manakala gerakan literasi memang berasal dari sadarnya perlakuan kita terhadap buku.

Mengenal
Buku merupakan sebuah media aktualisasi keilmuan seseorang. Dari buku tersebut pemikiran seseorang akan bertahan lama. Lewat buku pula pemikiran seseorang akan dikenal oleh orang. Seseorang yang akan meletakkan keilmuannya dalam buku terlebih dahulu melakukan kegiatan menulis. Dari sinilah, tulisan-tulisan pemikir tersebut dihimpun dalam berbagai kertas untuk kemudian di bukukan.
Sejarah mencatat bagaimana pentingnya buku, masa kejayaan Islam memandang pentingnya sebuah buku sehingga dalam suatu masa ke khalifahan di lakukan penerjemahan buku-buku yunani kuno ke dalam buku yang berbahasa arab. Eropa yang melihat kekuatan buku, juga menerjamahkan buku-buki dari arab ke bahasa mereka. Kemudian membakar buku-buku bangsa arab. Selang waktu kemudian kita tahu keilmuan dalam Islam mulai luntur setelah buku-buku mereka di bakar dan dibuang ke laut yang sekarang terkenal laut hitam.

Pengaruh Buku
Buku bisa menjadi pengaruh yang sangat luar biasa bagi peradaban. Kita bisa melihat bangsa jepang sewaktu di bom atom oleh amerika. Pemimpin negara tersebut tidak langsung sekedar memberi bantuan konsumsi akan tetapi memberikan buku-buku juga.

Di Indonesia dalam sebuah edisi majalah Tempo di rilis buku-buku yang berpengaruh. Bahkan buku bisa merubah keadaan bangsa. Mungkin dengan alasan yang seperti itulah gerakan literasi sekarang menjamur di setiap tempat Indonesia. Survei yang mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah. Sekarang bisa kita bantah karena minat baca masyarakat Indonesia ternyata sangat tinggi ketika dihadirkan bahan bacaan.

Melihat Buku
Banyak kawan saya memperlakukan buku dengan berbagai macam cara. Ada yang disampuli, ada yang tiap minggu dirawat, dan sebagainya. Menghadirkan buku dengan cara melapakkannya, membuatkan tempat khusus di rumah, di pos kamling, di lapas, di motor, di angkot, dibecak dan tidak bisa saya sebut satu persatu. Perlakuan ini dibuat untuk menjaga buku sehingga masih tetap dalam fungsinya. Yaitu menjadi sumber pengetahuan bagi pembacanya. Tidak hanya itu, kita membantu buku menemukan tuannya. Tuan yang senang dengan buku-buku tersebut.

Jangan sampai buku terbengkalai rusak dan tulisannya hilang hanya karena kita tidak mampu merawatnya, tidak mampu membawa kepembacanya. Pasti buku sangat sedih ketika dia tidak dibaca, ketika dia tidak mampu bergerak. Sehingga memang sudah tugas kita sebagai manusia untuk membantu buku menemukan tuannya. Sehingga pula aksara dalam buku mampu menolong fungsi otak tuannya. Mari kita memuliakan buku. Karena buku tidak sekedar kertas yang ada tulisannya. Akan tetapi dia adalah sumber keilmuan bagi otak-otak yang lapar dengan ilmu pengetahuan semesta. Berikan tempat istimewa di hati kita bagi buku.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *