Membuat Biografi


Oleh Yanuardi Syukur

Secara mudahnya, saya mengartikan buku biografi adalah buku yang “mengisahkan cerita seseorang.” Apa yang dia lihat, dia dengar, dia rasakan, dan dia pikirkan, semaksimal mungkin dituliskan dalam biografi itu.

Yang cukup penting dalam menulis biografi adalah soal data. Apakah data yang disajikan dalam buku merupakan data yang otoritatif, atau tidak.

Saat ini, dalam hal pengutipan data, penulis biografi terbagi dua, yaitu mereka yang menulis berbasis wawancara langsung dengan tokoh dalam biografi itu. Atau, menulis berdasarkan sumber-sumber terkait (buku, jurnal, majalah, website, bahkan akun-akun tertentu)

Menulis dengan data dari sumber pertama (tokohnya) pastinya lebih bagus, karena kita bisa mendapatkan kesan, pesan, dan juga kedekatan emosi saat sang tokoh berbicara. Akan tetapi, mengutip dari sumber-sumber terkait juga punya keuntungan, apalagi di zaman sekarang yang banyak sekali sarana kita untuk mendapatkan data–at least dari google.

Lantas, bagaimana cara menulis buku biografi?

1. Usahakan kita punya minat untuk menulis biografi. Kalau ada minat, maka langkah akan mudah. Sebagai contoh, saya senang dengan buku Buya Hamka “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck” (pada 1997 saya beli di Pasar Mayestik). Saya juga senang baca perjalanan hidupnya–selain karena rumah keluarga saya tak seberapa jauh dari rumahnya di Maninjau. Maka, saya pun menulis tentang Hamka. Apalagi, sebelum menulis itu, saya juga hadir di sebuah pertemuan penulis di Padang, dan mendengarkan cerita-cerita Pak Azyumardi Azra tentang Hamka di Maninjau.

Dimulai dengan minat itu, akhirnya saya menuliskan biografi Hamka. Sebelumnya juga, saya berziarah ke kuburan beliau, dan mengajak seorang kawan untuk sama-sama menulis. Buku itu pun diterbitkan oleh Tinta Medina (imprint Tiga Serangkai) dengan judul “Buya Hamka: Memoar Perjalanan Hidup Sang Ulama” (2017)

2. Membuat outline. Paling mudahnya adalah tulis dua bagian: Satu, kisah latar belakangnya (keluarga, kampung, pendidikan, teman, organisasi, prestasi, dst), dan kedua tulis pemikirannya (misal dalam kebangsaan, agama, politik, pendidikan, dst). Dua bagian besar itu bisa jadi panduan sederhana kita dalam menulis biografi.

Beberapa buku biografi tidak seperti itu. Mereka misalnya, menulis tentang perjalanan hidup sang tokoh berdasarkan titik-titik/momen-momen penting dalam kehidupannya. Artinya, tidak harus berurutan dari lahir sampai usia saat ini–atau sampai wafat.

Mungkin, ini dua tips ringan berdasarkan pengalaman sederhana saya menulis biografi.

Depok, 16 April 2018

Yanuardi Syukur, Mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI, aktif di Forum Lingkar Pena (FLP).

https://id.wikipedia.org/wiki/Yanuardi_Syukur


1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *