Memanusiakan Sekolah, Memuliakan Manusia


Oleh: David Efendi*

“…saya bermimpi, suatu saat orang akan melihat kehidupan bukan  sebagai gelanggang pertarungan memojokkan dan menyingkirkan orang lain demi menguasai sarana pemuas syahwat untuk diri sendiri” (hal. 5). Itu kalimat gelisah seorang Haidar Bagir dalam bukunya Memulihkan Sekolah, Memulihkan manusia. Saya membuat judul artikel saya yang barangkali lebih bagus dari Pak Haidar ya hehe. Jawaban-jawaban atas kegelisahan serupa juga secara apik diproduksi oleh Munif Chatib dalams serial manusia (Gurunya Manusia, sekolahnya manusia, orang tuanya manusia), dan saya pernah japri Pak Munif asal Gresik ini dengan usulan buku Rumahnya manusia dan saya japri di FB dilengkapi dengan usulan pembahasan di dalam bukunya. Itu tahun 2013 dan pak Munif bilang sangat menarik. 

Siapa yang tak pernah gelisah, ia tak kan pernah melakukan perubahan. Kegelisahan itu diungkapkan sanat kreatif oleh Haidar Bagir dalam buku yang sangat ‘welas asih’ yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Buku ini bicara soal falsafah Pendidikan secara reflektif dan jernih. Beberapa bagian membutuhkan praktik empiric (sayang sekali Pak Haidar Bagir barangkali belum sempat masuk ke dapurnya Sanggar Anak Alam yang ada di susun Nitiprayan. Sebuah sekolah yang memerdekan. Setidaknya saya membenarkan itu karena sudah lima tahun saya dan keluarga menjadi bagian dari Komunitas pembelajar tersebut. 

Pasca Kemerdekaan republic Indonesia Tujuh puluh Tujuh  tahun silam, atau seratus tujuh  tahun setelah Muhammadiyah berdiri kita tetap ada kegalauan dan kesakitan akan pertanyaan: apakah Pendidikan kita telah memanusiakan warga belajarnya? Apakah welas asih menjadi karakteristik utama bagi golongan terdidik di lingkungan kita? Paulo Friere adalah jenis manusia pendobrak kegelapan dan kebisuan dunia Pendidikan kita semua. Lalu, muncullah sosok Ki Hadjar Dewantoro, Kiai Dahlan, dan juga ada guru-guru di masa revolusi kemerdekaan, lalu ada sosok seperti Romo Mangunwijaya yang mempromosikan Pendidikan yang memanusiakan manusia. Legasi dari pemikiran Friere. Dewantara dan Romo Mangun cukup tergambar dalam habitus belajar Sanggar Anak Alam Yogyakarta yang diasuh oleh Bu Wahya dan Pak Toto serta keluarga guyup salam di dalamnya. 

Kenapa saya menyebut SALAM? Karena saat proses membaca buku Memulihkan sekolah memulihkan manusia karya Haidar Bagir (2019) saya selalu teringat SALAM. 

Untuk menamani buku Pak Haidar Bagir ini saya rekomendasikan memikirkan kisah dan praktik belajar di Salam yang direkam dalam buku Sekolah Biasa Saja, Kami Tidak seragam, dan sekolah apa itu. Tiga buku ini akan menyala terang jika juga dilengkapi dengan mengemil tulisan tulisan keren di salamyogyakarta.com website keluarga SALAM. Sebelum masuk ke buku Pak Haidar, saya ingin kasih tahu kekuatan terbaik dan terdahsyat salam: Jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan. Selain itu juga ada nuansa saling menjaga antara kakak dan adek, serta kekeluargaan orang tua dan fasilitator (ekosistem belajar yang sangat memenuhi unsur kemanusiaan yang adil, humoris, dan kreatif. 

Itu tiga karakter di atas yang memantapkan saya dan istri dan anak mantab untuk bergabung dengan SALAM. Sebuah sekolah tanpa seraga, tanpa mata pelajaran khusus agama islam, tanpa ranking, dan semua naik kelas serta tanpa ijazah. Sekali lagi tanpa ijazah. Bukankah ijazah itu salah satu pangkal keserakahan dalam logika kompetisi? Selain karakter tidak adil dan tidak jujur dalam beragam kompetisi manusia modern. Jadi. SALAM telah menjawab ketakutan dan rasa gelisah pak Haidar dalam bukunya. 

“saya bermimpi hidup di kota kota kecil, tempat semua manusia adalah keluarga manusia yang lain. Dimana kehijauan dan keasrian alam mendapatkan tempat sebanyak-banyaknya.” Ini kalimat mimpi dan gelisah kedua yang disampaikan pak Haidar Bagir. Baiklah, kita setuju semua manusia bersaudara, kata Mahatma Gandhi. Di Sanggar Anak Alam kita sebut sebagai Keguyubab, guyup rukun, sedapur salam yang menunjukkan interaksi manusiawi antar peserta didik dalam ekosistem SALAM. Keguyupan atau kekeluargaan ini menurut cak Nun yang memungkinkan di masa depan hidup bisa indah dan benar. Terkait bagaimana kelarga salam memperlakukan lingkungan itu sudah menjadi janji semua “manusia Salam” untuk peduli pada ekologi dengan pembelajaran ramah lingkungan, tidak nyampah, cinta makanan lokal, memuliakan pangan di sekitar, dan semua ini diperkuat dengan praktik yang menjadikan bumi sebagai ibu. Eksperimen, dan media pembelajaran senantiasa memanfaatkan kekayaan alam semesta dan bukan merusaknya. 

“saya bermimpi di kota-kota dan desa-desa, yang ruang publiknya tersebar dimana mana. Ada Gedung Gedung kesenian yang mudah diakses oleh siapa saja, ada galeri galeri mungil, museum yang ramah, perpustakaan perpustakaan yang berlimpah, adan ada pusat hiburan yang ramah keluarga.” Itu mimpi Haidar Bagir yang tak sulit diwujudkan oleh pemegang anggaran publik hanya belum tentu mau dan punya kasadaran demikian. Lingkaran belajar Salam relative memenuhi kriteria itu. Ada ‘museum tanah’ tak jauh darinya, ada galeri galeri hebat di sekitar Sanggar Anak Alam, ada perpustakan Komunitas yang aksesibel (perpus cak Nun, Joglo Elang, Rumah Baca Komunitas dan perpusnya Salam sendiri, ada  juga pusat olahraga, yoga, praktik Bertani dan yang terdahsat barangkali adalah di Dunia Manusia Salam terdapat orang orang yang menekuni dunia kesenian, kebudayaan, dan beragam kegiatan kerelawanan yang pro kehidupan yang seimbang. 

Buku Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia memang sangat keren. Banyak hal yang ‘tabu’ didiskusikan dibincang dengan halus dan bijak oleh penulis. Pak haidar mempersoalkan kemapanan banyak hal misalnya Pendidikan untuk anak pintar atau untuk anak anak bahagia, mesin atau manusia, pelajaran dari Findlandia juga dikupas, menjadikan sekolah sebagai ruang belajar gagal ketimbang harus dipaksakan berhasil secara kognitif, juga mempersoalkan pembelajaran agama yang dogmatis menjadi lebih aplikatif. Salam juga bisa disusupkan, mengapa salam tidak ada mata pelajaran agama? Agama itu nilai yang perlu dipraktikkan dalam tindakan keseharian. Karena siswanya banyak beragam agama, tentu nilai agama di Salam adalah nilai Bersama-sama yang saling dihargai tanpa memaksakan pelajaran khusus agama. Bukankah sikap menghargai perbedaan adalah pelajaran agama yangs angat perlu? Di Salam sangat sangat jarang atau tidak pernah terjadi seorang anak menghina anak lain (termasuk kisah anak-anak difabel juga merasakan kenyamanan itu). Salam itu ibarat laboratorium yang sangat pas mengobati gelisah penulis. Semoga. 

Tulisan sekali duduk ini belum benar benar kelar karena sambil momong anak-anak di hari Jumat. Semoga versi akhir nanti dapat saya forward ke Pak Haidar via teman-teman yang ada disekitar beliau. Semoga juga suatu saat Pak Haedar berkenan menyapa manusia Salam di kampoeng Nitiprayan. 

Mau belajar yang selamat, agar sekolah menyelamatkan, boleh yuk belajar kepada SALAM: sekolah yang bersungguh-sungguh memerdekan!. 

*Admin web : pustakamu.id, Serikat Taman Pustaka


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *