9 menit waktu baca

Literasi Pandemi

Oleh: Novita Utami

Covid 19 adalah Rahmat Allah bagi Orang yang Beriman

Tahun ini adalah tahun yang sulit dengan perkara yang remit. Bagaimana tidak? virus corona atau covid-19 yang awalnya ditemukan menyerang warga kota Wuhan di China ternyata menyebar luas hampir ke seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Mobilitas manusia di era globalisasidan perilaku manusia modern ini oleh banyak ahli dianggap telah mempercepat penyebaran virus ini karena memang virus ini mampu berinang pada tubuh manusia. Kata virus yang selama ini hanya kita ingat sebagai penyebab penyakit saat ini menjadi sumber pembicaraan secara langsung maupun daring, dibicarakan oleh kalangan ilmuwan sampai pada orang awam, dari yang tua anak – anak sampai orang tua.

Derasnya arus informasi saat ini maka secara umum dapat dipastikan bahwa semua orang tahu apa itu virus corona 19 dan bagaimana cara memutus rantai penyebaran virus ini. Tetapi pertanyaannya apakah semua telah memahaminya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa literasi bukan hanya kemampuan untuk membaca dan menulis, tetapi lebih pada pemahaman. Pemahaman ini dapat kita lihat dari aplikasi seseorang pada informasi yang mereka dapatkan. Literasi informasi disini bukan hanya tahu, tetapi lebih pada pengertian dan pemahaman yang menghasilkan sebuah tingkah laku.

Pandemi atau wabah sebenarnya bukan sesuatu yang baru, ada banyak contoh wabah yang pernah terjadi sebelumnya. Kita dapat menemukan beberapa hadist yang menceritakan tentang wabah yang terjadi di zaman nabi. Perintah untuk melarang orang yang ada di wilayah wabah keluar dan melarang orang yang ada di wilayah wabah untuk masuk ke wilayah tersebut. Dan saat ini Pimpinan Muhammadiyah maupun pemerintah telah menetapkan beberapa hal untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini.

Pertanyaanya adalah derasnya informasi yang diterima oleh masyarakat apakah telah dipahami oleh mereka. Jawabannya dapat kita lihat langsung dari perilaku masyarakat di sekitar kita. Ketika masih banyak orang yang santai ngopi di warung, atau nongkrong artinya masyarakat kita masih hanya membaca tetapi tidak memahami.

Artinya literasi pandemi sangat dibutukan saat ini. Pemahaman yang holistik tentang pandemi saat ini dibutuhkan untuk membuka kesadaran kita semua. Sehingga kondisi ini tidak hanya menjadi pengalaman buruk atau bencana tetapi kita bisa memahaminya sebagai sebuah rahmat dari Allah untuk kita semua dan mengambil pelajaran untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.

Covid-19 dan Keseimbangan alam

“Telah tanpak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS: Ar-Rum:41. Pandemi covid 19 menyadarkan kita adanya kerusakan di alam yang ternjadi mengakibatkan bencana bagi manusia.

Allah menciptakan bumi dalam bentuk yang sempurna. Alam dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan terhubung dengan pola yang saling memanfaatkan. Sebagai contoh oksigen yang menjadi hasil sampingan dari proses fotosintesis pada tumbuhan menjadi sumber kehidupan untuk manusia dan hewan-hewan lain di muka bumi. Demikian juga carbon yang dikelurkan oleh manusia dan hewan lainnya menjadi sumber energi bagi tumbuhan untuk melakukan fotosintesis.

Baca juga:  Ramadhan dan Teror

Rantai makanan yang terjalin dihabitat-habitat yang ada menciptakan sebuah keselarasan dan keseimbangan di dunia. Dan manusia yang berada di tingkatan tertinggi dalam piramida makanan yang ada di muka bumi ini yang mengambil peran untuk menjaga keseimbangan tersebut.

Sebagaimana disebutkan di dalam Al Qur’an bahwa manusia adalah wakil Allah di muka bumi sebagai khalifah. Allah selalu mengingatkan bahwa segala yang terjadi di muka bumi itu disebabkan oleh tingkah laku manusia itu sendiri. Demikian juga virus covid19 ini, virus yang awalnya berinang ditubuh kelelawar tetapi karena keserakahan manusia virus ini bermutasi dan berinang pada tubuh manusia. Ketika spesies yang menjadi inangnya musnah karena dijadikan santapan oleh manusia atau habitatnya dirusak, maka virus itu beradaptasi mencari inang baru untuk meneruskan hidupnya.

Ketika kita abai dengan hal ini, maka sangat mungkin setelah pandemi virus covid19 ini dapat diatasi dengan ditemukan vaksinnya akan ada lagi virus-virus lain yang akan membahayakan manusia. Hal ini terjadi jika kita tetap melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap alam ini. Sehingga secara sunnatullah alam akan membuat keseimbangannya sendiri.

Oleh karena itu pemahaman sangat dibutuhkan sehingga menghasilkan sebuah introspeksi diri. Instrospeksi diri inilah yang akan melahirkan sebuah kesadaran. Dan kesadaran ini akan menghasilkan sebuah gerakan perbaikan. Pemahaman dan gerakan perbaikan yang sebarluaskan diharapkan menjadi budaya untuk menjaga kelestarian alam semesta.

Hal ini bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana yang ada disekitar kita, seperti kebiasaan hidup sehat, memilah dan memanfaatkan sampah, menghemat air dan energi, serta kebaikan – kebaikan lainnya. Selain kita mulai dari diri kita, kita juga harus mulai mengajak dan mengajarkan pada keluarga dan orang-orang disekitar kita.

Terkait Covid 19 terhadap kehidupan sosial budaya serta ekonomi. Seperti yang kita ketahui, Pandemi covid 19 mempengaruhi segala segi kehidupan manusia, hampir di segala bidang. Ketika ditetapkan WFH (Work from home) dan juga BDR (Belajar dari rumah) maka otomatis banyak perubahan perubahan interaksi sosial yang terjadi. Anak-anak yang biasanya menghabiskan hari-harinya disekolah belajar bersama guru-gurunya harus belajar secara daring dan tentu saja membutuhkan pendampingan dari orang tua. Di sisi lain orangtua yang sedang WHF harus bisa membagi waktu untuk mendampingi anak-anaknya belajar di rumah.

Disisi lain sekolah dan juga para guru dipaksa untuk meningkatkan kreativitas dan sekaligus pemahamannya pada teknologi informasi agar bisa memberikan pembelajaran yang terbaik untuk anak didiknya. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran yang selama ini hanya sebagai instrumen pendukung saat ini menjadi instrumen utama dalam kegiatan belajar mengajar di masa pandemi. Kreativitas menyiapkan materi pembelajaran dan penggunaan teknologi informasi yang sesuai untuk anak didik kita sangat dibutuhkan.

Blessing in disguise berkah di dalam bencana, bagi dunia pendidikan pandemi ini merupakan sebuah berkah tersendiri. Hal ini dikarenakan guru dan sekolah di paksa untuk meng- up grade kemampuan teknologi informasi sehingga dapat mengikuti perkembangan saat ini. Banyaknya platform aplikasi digital sangat memudahkan guru untuk tetap melasanakan kegiatan pembelajaran walaupun dengan menggunakan daring. Sehingga dimasa yang akan datang sangat dimungkinkan siswa dapat belajar walaupun sedang berada di luar kota atau bahkan di luar negeri.

Baca juga:  Covid-19 sebagai Sahabat Lingkungan

PSBB (Pembatasan Sosial berskala Besar) setelah WFH/BDR saat ini pemerintah menerapkan PSBB untuk memutus rantai penyebaran covid19. Tentu saja hal ini menimbulkan dampak yang bermacam-macam. Banyaknya mall atau toko, pabrik, rumah makan yang ditutup berakibat banyaknya pekerja yang dirumahkan. Artinya banyak orang yang mengalami kesulitan ekonomi.

Disinilah keimanan dan nasionalisme kita ditantang sedemikian rupa. Dalam Islam kita mengenal ta’awun (tolong – tolong) sedangkan dalam Pancasila ada gotong-royong. Dalam kondisi saat inilah dapat kita lihat diri kita sudahkah kita menjadi muslim sejati yang selalu berusaha menolong orang-orang yang dalam kesulitan.

Tanpa kesadaran ini jurang kesenjangan sosial akan semakin terbuka lebar. Akan terjadi perbedaan yang sangat mencolok antara si miskin dan kaya. Dan jika ini dibiarkan terjadi maka yang akan terjadi adalah gejolak sosial yang akibatnya mungkin akan lebih buruk dari akibat virus corona 19 itu sendiri. Kerusuhan, tindak kejahatan akan terjadi dimana-mana yang pastinya akan merusak tatanan sosial yang ada saat ini.

Covid 19 adalah Rahmat Allah
Wabah atau pagebluk selama ini selalu identik dengan musibah, azab atau hukuman dan hal negatif lainnya. Sehingga banyak hal yang tidak sepatutnya terjadi di negara yang sebagian besar warganya muslim terjadi. Seperti pengusiran perawat dari tempat kosnya, pengucilan tetangga pada keluarga dokter yang sedang merawat pasien covid19, dan bahkan penolakan pemakaman oleh warga pada jenazah covi19.

Mindset negatif itu harus diubah, masyarakat kita perlu pencerahan. Pembacaan yang mendalam pada kondisi pandemi saat ini seharusnya dapat merubah mindset kita terhadap pandemi. Dengan memahami tugas kekhalifahan kita Allah sedang mengajarkan empati kepada kita semua. Pada saat ini kita tidak tahu apakah diri kita benar-benar bebas dari virus walaupun kita sehat saat ini. Bisa jadi kita sudah menjadi inang dari virus tersebut dan dapat menularkan kepada orang sekitar kita.Maka untuk menjaga dan mengayomi kelurga dan masyarakat sekitar kita yang harus kita lakukan adalah mematuhi aturan yang sudah ditetapkan. Dalam tindakan sehari-hari maupun dalam menjalankan kegiatan keagamaan kita tidak boleh egois. Kita tetap memaksakan diri untuk beribadah di masjid, atau melakukan kegiatan yang kurang penting di luar rumah, sedangkan kita tidak tahu kalau kita ternyata telah terjangkit tetapi tidak bergejala. Maka akibatnya kita bisa menjadi penyebab sakit atau meninggalnya seseorang. Jika hal itu benar – benar terjadi maka kita akan menjadi orang yang menyesal seumur hidup kita.

Menyadari bahwa kita dalam suasana tidak normal atau darurat. Maka dalam kegiatan peribadahan berpegang pada metode yang memudahkan. Alllah menghendaki kemudahan, bukan menyulitkan. Sebagai contoh sholat Jum’ah diganti dengan sholat Dhuhur di rumah merupakan suatu bentuk ijtihad yang dilakukan untuk memudahkan beribadah di masa wabah. Allah sedang mengajarkan emphati kepada kita, dengan menjaga diri sendiri berarti kita telah menjaga orang-orang sekitar kita. Ini adalah bentuk kasih sayang pada sesama yang diajarkan kepada kita semua.

Mindset bahwa kondisi pandemi saat ini adalah sebuah rahmat dari Allah merupakan hal yang harus kita sampaikan kepada masyarakat di sekitar kita. Caranya adalah dengan memilah dan memilih dari semua akibat yang ditimbulkan oleh pandemi covid19. Hal ini hanya bisa kita lakukan jika kita selalu bersyukur atas segala sesuatu yang menimpa kita. Karena dengan bersyukur kita pasti bisa menemukan sisi positif semua kejadian yang menimpa kita.

Baca juga:  Keunggulan Literasi

Faktor positif itu dapat kita temukan pada orang yang terjangkit virus, orang yang terimbas virus, dan tentu saja alam semesta. Ketika seseorang terjangkit sebuah penyakit karena pandemi jika dia sakit dan dia bersabar, maka Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya yang diperbuat sebelumnya. Sedangkan jika seseorang itu meninggal karena virus tersebut, maka dalam sebuah hadist Nabi Muhammad menyebut mereka mendapatkan keistimewaan dari Allah berupa mati Syahid dan dijamin surga atas mereka.

Maka jika masyarakat memahami ini, tidak akanlagi ada pengusiran atau pengucilan para tenaga medis dan kelurganya. Juga tidak akan ada penolakan pemakaman orang yang meninggal karena terinveksi virus ini.
Pandemi ini juga menguatkan sendi-sendi keluarga yang selama ini hampir lumpuh karena kesibukan orang tua. Saat ini disaat orang tua dan anak BDR intensitas pertemuannya semakin lama, komunikasi keluarga terbangun lagi. Artinya penguatan keluarga sebagai madrasatul uula saat ini terjadi.

Kita harus memberikan pencerahan kepada umat yang bersifat burhani. Dari segala informasi ilmiah tentang covid 19 dapat disimpulakan, bahwa ini bukan suatu malapetaka dan juga bukan azhab. Perspektif positif harus dibangun. Wabah adalah cara Allah untuk melakukan ferivikasi pada umatnya yang jujur beriman. Saat ini Allah menguji kita apakah ibadah kita selama ini murni karena Allah atau ada tendensi lainnya.

Pandemi ini menyadarkan kita pada banyak hal terutama pada hal-hal yang selama ini kita anggap sebagai hal yang remeh, seperti cuci tangan dan tatakrama batuk dan bersin. Hal itu menyadarkan kita ternyata menjaga kesehatan dimulai dari hal yang paling mendasar yaitu thaharah atau bersuci. Hal ini mengingatkan penulis pada seorang guru bangsa yaitu Buya Syafi’i Ma’arif yang dalam kehidupan sehari-harinya beliu selalu menjaga wudhu. Bukankah semboyan kita adalah annadhofatu minnal iman bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Jadi jika kita memahami mencuci tangan itu sekedar menghindarkan diri dari penularan virus maka kita hanya akan mendapatkan tujuan itu. Tetapi jika kita pahami itu sebagi bagian dari perintah Allah untuk selalu menjaga kebersihan maka insyaAllah kita mendapatkan kesehatan dan juga rahmatnya.

Dan rahmat yang paling besar dari pandemi ini adalah Allah memberikan waktu kepada alam semesta untuk recovery. Usaha untuk menghentikan penyebaran virus ini telah mengurangi kesibukan dijalan raya. Artinya tingkat polutan yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor dan pabrik-pabrik berkurang drastis, mutu udara membaik, bahkan diberitakan bahwa black hole atau lubang hitam di lapisan ozon mengecil. Hal ini dapat kita pahami bahwa akibat positif dari pandemi ini adalah jedah sebentar Bumi untuk beristirahat. Bumi melakukan recovery untuk menyiapkan lingkungan yang lebih baik bagi manusia. Smoga kita semua bisa mengambil pelajaran atas pendemi covid-19 saat ini.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...