Lebaran dan Transformasi Sosial


Oleh: Ana Dwi Itsna Pebriana)*

Ramadhan telah berlalu meninggalkan kita dengan segala haru-kesedihan karena tak ada jaminan ramadhan tahun depan bisa ditemui kembali, hingga tibalah saatnya perayaan Idul Fitri penuh kesucian. Kita dan seluruh umat Islam di berbagai penjuru dunia bersuka cita menyambutnya. Berbagai macam persiapan termasuk mempersiapkan baju, kendaraan, dan kue lebaran tak luput dari perhatian masyarakat yang merayakannya.

Istilah lebaran lebih familiar di telinga masyarakat Indonesia ketika menyambut Idul Fitri atau Idul Adha. Namun, istilah lebaran ini sebenarnya bukan berasal dari bahasa Arab. Sebagian orang mengatakan bahwa kata lebaran berasal dari bahasa Jawa ngoko yakni kata lebar/wes bar/wes bubar yang memiliki arti ‘selesai’, ‘habis’ melaksanakan ibadah puasa selama sebulan penuh. artinya, juga bulan berganti memasuki bulan baru, Syawal.

Adapun mayoritas umat Islam mengartikan Idul Fitri dengan kembali suci. Ada juga yang mengartikan Idul Fitri dengan hari kemenangan setelah satu bulan lamanya berhasil menahan lapar, dahaga, dan segala hawa nafsu selama menjalankan puasa. Ini adalah kunci mendapatkan makna dalam bulan training ini.

Namun, apabila ditinjau ulang kembali, pemaknaan itu tidak sepenuhnya benar. Kata iid bisa juga berarti “sesuatu yang terjadi berulang-ulang” dan fithr berarti berbuka atau futhur. Dari sana dapat disimpulkan bahwa Idul Fitri merupakan perayaan bagi umat Islam yang dilakukan secara berulang setiap tahun, serta pada hari itu diperbolehkan kembali untuk berbuka dengan makan, minum dan aktivitas lainnya.

Terlepas dari bagaimana memaknai istilah tersebut, Idul Fitri maupun Lebaran tetap menjadi momentum yang dinantikan dan diharapkan bisa membawa perubahan yang luar biasa. Setelah satu bulan lamanya kita dilatih untuk meningkatkan kualitas diri di bulan Ramadhan, Idul Fitri menjadi gerbang masuk untuk menghadapi bulan-bulan berikutnya. Gerbang untuk melanjutkan kembali bahkan meningkatkan amal-amal shalih yang dilakukan selama bulan Ramadhan.

Menurut Hannan Hoesin (2002: 214) ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa perayaan Idul Fitri pertama kali dilaksanakan pada tahun kedua hijriyah. Kemudian, di sebuah kota yang terletak di Madinah, ada dua hari yang digunakan kaum Yasyrik untuk berpesta pora melampiaskan nafsu kesenangan mereka. Kedua hari tersebut dinamakan hari An-Nairuz dan hari Al-Mahrajan yang sudah ada sejak zaman jahiliyah sehingga menjadi tradisi yang melekat pada kaum Yasyrik di Madinah.

Terdengarlah kabar tersebut hingga ke telinga Rasulullah SAW. Sontak beliau kaget lantas memberitahukan mereka untuk berhenti melakukan hal tersebut. Saat itu pula Rasulullah berkata pada kaum Yasyrik bahwa Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.

Riwayat tersebut dikuatkan dengan hadits yang berbunyi: Ðiriwayatkan dari ‘Anas RA berkata: Ketika Rasulullah datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang didalamnya mereka berpesta pora dan bermain-main. Lalu beliau bertanya: Apakah dua hari itu itu? Mereka pun menjawab : pada hari itu kami berpesta serta bermain-main dan hal ini sudah ada sejak zaman jahiliyah dulu. Kemudian Rasulullah SAW. bersabda : Sesungguhnya Allah telah menggantikannya dengan dua hari yang lebih baik untuk kalian yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. (HR. Abu Daud).

Hadits ini menjadi landasan teologis untuk mengubah hari yang tidak baik menjadi hari yang amat baik penuh keberkahan di dalamnya. Selain keberkahan, hari ini juga diharapkan selalu membawa kebahagiaan bagi setiap orang yang merayakannya.

Tak semua orang dapat merayakan kebahagiaan Idul Fitri seperti kita. Bagi mereka yang setiap harinya sibuk mengais rezeki di jalanan, akan sulit untuk sekedar mencicipi aneka macam panganan apalagi memakai baju baru di saat hari Lebaran. Bagi mereka, Idul Fitri seolah hanya kebahagiaan semu yang sulit digapai. Belenggu kemiskinan seakan menjadi benteng yang sulit diterobos oleh tangan-tangan lemah mereka.

Nasib yang tak jauh berbeda juga dialami oleh mereka yang tinggal di negara-negara rawan konflik penuh peperangan. Suasana yang mencekam, ketakutan saat beribadah, hingga kondisi kelaparan selalu menghantui mereka termasuk di hari raya Idul Fitri. Bayangan akan kebahagiaan saat lebaran menjadi mimpi yang selalu ingin mereka wujudkan.

Sebuah anugerah besar bila kita masih mampu merayakan Idul Fitri dengan penuh kebahagiaan dan suka cita. Shalat id di masjid manapun bukan soal, makan sebanyak apapun tidak jadi masalah, berkunjung ke rumah siapa pun sangat mudah dilakukan.

Adanya Idul Fitri hendaknya bisa menjadi momentum yang mampu membawa perubahan besar bagi kita, serta dapat membawa kebahagiaan yang tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi mereka yang membutuhkan. Tak heran, sebelum tiba perayaan Idul Fitri, umat Islam dianjurkan untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi kaum dhuafa di sekelilingnya, sebagai salah satu bentuk berbagi kebahagiaan kepada sesama.

Buya Hamka pernah berkata: “Distribusikanlah kebahagiaan itu pada mereka yang memerlukan, santunilah yang tidak mampu, tolonglah yang lemah dan bebaskan yang menderita.” Dari sana kita bisa melihat makna dari Idul Fitri yang sebenarnya, bukan Idul Fitri formalitas yang hanya sebatas bahagia dan bangga karena telah selesai melaksanakan kewajiban berpuasa satu bulan lamanya.

Dari sana juga kita diharapkan menagkap pesan Idul Fitri yang mengajarkan kita untuk tidak hanya saleh secara individual, yang mementingkan kebaikan bagi diri sendiri, tapi juga menjadi sarana untuk menularkan kebaikan bagi sesama (sosial). Satu aksi nyata sederhana, seperti memberi pakaian layak atau makanan pada mereka yang tak mampu, diharapkan cukup membuat bahagia, juga mampu membuat khusyuk saat mereka beribadah..

Ashgar Ali Engineer (1993: 80),  pernah berkata bahwa orang beriman yang sejati bukan hanya mereka yang mengucapkan dua kalimat syahadat, melainkan mereka yang menegakkan keadilan dan memperjuangkan kelompok yang tertindas. Sehingga spirit dan nilai-nilai ideal agama tidak hanya menjadi ritual belaka dan mengabaikan dimensi sosial kemasyarakatan. Tapi juga senantiasa diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sungguh indah bila kita dapat menyadari hal ini, yang menjadikan hari raya Idul Fitri sebagai ajang berbagi kebaikan dan kebahagiaan yang tak sempat dilakukan selama Ramadhan. Bila hal ini dibiasakan, niscaya pada bulan-bulan berikutnya akan terasa ringan saat dijalankan. Wallahu a’lam bishshawab.

*Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Ashabul Yamin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *