Learn How to Learn


Oleh: Rohmatunnazilah
Penulis tinggal di Jogjakarta

Berenang termasuk salah satu hobi yang memerlukan keberanian. Ketika saya pasang foto saya berenang di IG saya, seorang teman berkomentar, ” _yen ora cah kendel, ora bakal wani ngene iki”. Dalam bahasa bebas bisa diterjemahkan bahwa hanya yang berani (punya nyali) yang bisa dan berani berenang.

Saya asli dari daerah pesisir pantai utara alias pantura. Rumah tinggal saya waktu kecil persis menghadap pantai hanya dibatasi jalan raya antar propinsi di jalan raya pantura. Anehnya, saya adalah satu-satunya yang tidak bisa berenang di antara teman saya yang lain, baik yang laki-laki maupun yang perempuan.

Bapak saya tidak pernah mengijinkan saya bermain atau bahkan mendekat ke laut. Setiap saya baru menyeberang jalan raya menuju pantai, Bapak selalu tahu dan memarahi saya. Tapi dasar saya termasuk anak bandel, suatu saat saya diajak teman-teman ke pantai dan mereka mempengaruhi untuk ke tengah laut karena ombak sedang surut. Dan mereka bilang ditengah laut ada gumuk pasir sehingga saya bisa berdiri di tengah-tengah laut.

Karena takjub mendengar kisah mereka, saya bersedia dan salah satu teman perempuan dibantu yang lain menggendong saya sambil berenang hingga kami mencapai tengah laut dan saya mendapatkan gumuk pasir* dimana saya bisa berdiri di atasnya sambil memandang garis pantai yang kelihatan kecil. Sebuah sensasi menakjubkan yang pernah saya alami di masa kecil.

Meski setelahnya saya harus dihukum oleh Bapak karena ketahuan lagi dan kali ini saya melanggar aturan Bapak dengan sangat parah. Heheheh…hukumannya seimbang dengan pemandangan hebat yang saya peroleh.

Demikianlah kisah ini muncul mengapa saya tidak pernah bisa berenang saat masih kecil. Karena itulah berenang menjadi sebuah ketrampilan yang bagi saya menakjubkan dan mewah hanya karena saya tidak bisa melakukannya.

Hingga saya sudah punya anak, saya pikir anak-anak saya tidak boleh seperti saya yang tidak bisa berenang. Sehingga saya berpikir saya akan mengantar mereka berenang sekalian saya sendiri akan belajar bersama mereka.

Jadilah sekitar 20 tahun lalu anak-anak yang masih SD saya antar belajar berenang dan sayapun menyiapkan diri untuk belajar. Cara orangtua belajar tidak akan sama dengan imajinasi anak-anak. Saya memperhatikan dan bertanya pada guru les renang yang kebetulan juga teman guru.
Pertanyaannya, apa yang membuat sebuah benda bisa mengapung. Bagaimana seseorang mampu mengapung di atas air dan bisa menyeimbangkan diri.

Lalu saya teringat dengan kata Eureka yang diucapkan Archimides ketika dia menemukan rumus menghitung volume benda dengan masuk ke bak air dan air dalam bak itu naik dan luber. Saya tidak membahas penemuan Archimides tetapi pada akhir dari proses penemuan itu hingga keluar kata Eureka , menginspirasi saya untuk mencobanya.

Saya akan menemukan cara supaya saya bisa mengapung di air. Saya harus merasakannya supaya saya tahu apa yang membuat saya takut jika saya mengapung saya bisa tenggelam. Diawasi teman guru renang, saya mengapung dan menahan nafas. Teman saya bilang jika bernafas kita akan jatuh dan tenggelam. Okey…saya mencoba dan merasakannya. Ternyata benar ketika kita menahan nafas badan kita mengapung dan tidak tenggelam. Well..satu langkah terlewatkan. Berikutnya saya tinggal membuat penyesuaian diri di dalam air. Dengan mata terbuka kita bisa tahu situasi dalam air.
Dan pelajaran dilakukan tahapannya persis sama dengan step anak-anak saya. Saya membantu guru renang anak saya dan sekaligus saya sendiri melakukan tahapan itu di bawah pengawasan teman guru renang anak saya

Belajar sepanjang hidup dan tidak mengenal usia benar-benar saya coba lakukan pada diri saya. Masalah malu sudah dewasa masih belajar berenang bareng anaknya, saya pikir so what kalau kita belajar bersama anak kita. Saya malah sangat menikmatinya karena saya bisa memberi semangat anak saya sekaligus buat saya sendiri.
Saya sering menyemangati siswa/i saya ketika mereka menyiapkan ujian nasional dan SBMPTN. Bahkan kita belajar bersama saat saya akan tes TPA menyiapkan studi S2 dan sekarang menyiapkan studi S3. Yang membuat saya surprise karena mereka mengaku lebih bersemangat karena malu melihat saya yang sudah tua bagi mereka masih punya semangat belajar sehingga mereka bilang tidak mau kalah sama saya sebagai gurunya.

Well, inilah inti dari belajar
Dari belajar berenang saya menemukan cara belajar yang unik dan saya akhirnya bisa melakukan sesuatu yang tadinya merupakan hal mewah jika saya bisa melakukannya. Dan saya bisa berenang dengan menemukan cara berenang .
Karena sebenarnya Belajar adalah dengan Menemukan bagaimana Cara Belajar .

Semaki, 24 Maret 2018


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *