Landasan Ayatnya Apa? (Diskusi dengan Mahasiswa)


Oleh: Sri Lestari Linawati

Sekitar seminggu yang lalu, saya ditemui mahasiswi Perawat Anvulen. Dia disarankan Dosen Pembimbing Skripsinya untuk mendiskusikannya dengan saya.

Saya berterima kasih atas kepercayan ini. Saya coba bantu. Saya minta dia mengirimkan naskah skripsinya melalui pos-el, untuk saya pelajari maksud dan tujuan pembahasan skripsinya.

Alhamdulillah hari ini saya berkesempatan membacanya. Oya, sekitar dua jam lalu saat bertemu saya di perpustakaan kampus, dia menyampaikan temuannya sementara, yaitu surat An-Nahl ayat 9, yang artinya “Dan Kami jadikan tidurmu sebagai istirahat”. Dia mengatakan butuh ayat lainnya yang menjelaskan tentang insomnia.

Saat itu akan saya ajak dia menelusuri ayat dengan aplikasi lafzi, yaitu aplikasi pencarian ayat quran yang ditemukan oleh mahasiswa IPB, Institut Pertanian Bogor. Ketika saya minta membaca bunyi ayatnya, dia kesulitan. Dia perbesar. “Subatan naumakum waja’alna” jawabnya. Hm… ini kan salah penulisan. Terbalik. Seharusnya berbunyi, “Waja’alna naumakum subatan..” Artinya, diperlukan program pemindahan ayat yang tetap, yang tidak bisa berubah saat dipindahkan.

Masalahnya sore itu dia harus segera masuk kelas, maka saya harus menuliskannya.

Kembali ke masalah ayat.
Dia mengirimkan Bab 2. Diuraikannya apa gagal ginjal, penyebab, tidur bagi kesehatan, insomnia. Oya, judul skripsinya “Hubungan Tingkat Kecemasan Pre Operasi AV Shunt dengan Insomnia pada Penderita Gagal Ginjal Kronik di Poli Bedah RS Nur Hidayah Bantul Tahun 2018”.

Setelah saya baca, beginilah pemahaman saya terhadap kebutuhan pasien. Yang diperlukan pasien bukan hanya pengetahuan “perlunya tidur”. Keadaan insomnia, tidak bisa tidur, disebutkan dalam Bab 2, ada banyak faktor penyebab. Dengan demikian, dalam konteks ini, yang dibutuhkan pasien adalah:

Satu, Menerima keadaan sakit gagal ginjal. Apapun sebab musababnya, saat ini sedang terjadi. Tak perlu diingkari. Tak perlu ditangisi. Terima saja sebagai sebuah kenyataan hidup yang harus dihadapi.

Dua, Ikhtiar berobat untuk sembuh. Ada semangat untuk menuju keadaan sembuh. Sakit, ya harus diobati.

Tiga, Ikhtiar itu ada 2, yaitu medis dan doa. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Snyderman, 1996, dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa terapi medis saja tanpa disertai doa dan dzikir, tidaklah lengkap. Sebaliknya, doa dan dzikir tanpa terapi medis, tidaklah efektif (Hawari, 2005).

Empat, Ikhtiar medis, adalah upaya yang dilakukan oleh tenaga medis/ kesehatan yang ada di RS Nur Hidayah Bantul. Cobalah belajar percaya bahwa mereka juga sedang ikhtiar membantu kita untuk sembuh. Sebagai manusia, kita pun akan meyakini adanya 2 opsi operasi: berhasil atau gagal. Sangat wajar. Logis.

Lima, Ikhtiar doa, adalah upaya diri kita sendiri untuk memohon kepada Sang Pemilik Hidup: Allah. Dialah yang Maha Berkehendak. Maka memohonlah kepada Allah. Bila Dia perkenankan sembuh, operasi berbunyi “berhasil”, lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya bila kita sembuh? Kebaktian semacam apa yang kita lakukan setelah kita sehat nanti?
Dan siap pula dengan opsi “Bila Dia berkenan kita kembali”, operasi berbunyi “gagal”, sikap semacam apakah yang kita lakukan? Saat itulah kita sepatutnya mohon ampun atas segala dosa kita, berharap amal ibadah kita diterima Allah, semoga Allah hapuskan/ gugurkan dosa-dosa kita, karena sakit yang kita derita.

Enam, Doa itu mengantarkan kita untuk membaca Alquran dan memahami artinya. Maka bacalah dan baca juga artinya. Semoga keajaiban Allah tunjukkan pada Anda dan kita semua, amin.

Mungkin Anda bertanya, “Jadi surat apa ayat berapa, Bu?” Bisa dipertimbangkan oleh mahasiswa dari makalah saya “Upaya Menuju Sehat” yang saya sertakan dalam jawaban melalui pos-el/ email.

Saya berharap mahasiswa dapat terbantu dengan jawaban saya. Kok panjang? Kan diskusi..

Yogyakarta, 4 Mei 2018

Sri Lestari Linawati adalah dosen bahasa Arab Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. Visi Unisa adalah menjadi universitas berwawasan kesehatan, pilihan dan unggul berbasis nilai-nilai Islam Berkemajuan. Nah, bahasa Arab yang diperlukan adalah untuk kepentingan pendampingan pasien oleh tenaga kesehatan. Konsep sakit harus ditempatkan secara benar dalam paradigma tauhid. Lina bisa dihubungi di pos-el: sllinawati@gmail.com atau 0856.292.8998.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *