La Raiba Fii, Taman Pustaka Aisyiyah


 

David Efendi
@pekerjaliterasi

 

Saya sedang di Wonorejo, Magelang sejak jam 8 pagi. Beberapa group diposting foto keceriaan kegjatan launching taman pustaka ‘Aisyiyah Minggir, Sleman Yogyakarta. Dahsyat memang pergerakan teman teman LKPPA yang di dalamnya juga ada mbak @⁨Mpi Wiwid⁩ MPI, Mbak Nahar, Teh Oca, dkk. Bagi saya, Aisyiyah n Nasyiah memang paten memgomandani gerakan ortu bacakan buku anak

La raiba fii, Taman Pustaka Aisyiah. Pasti keren. Itu singkat kalimat paling aktual nan representatif pra dan pasca pelatihan relawan penggerak taman pustaka Aisyiyah yang dikomandani LK PP Aisyiah di Yogyakarta. “Pasti aisyiyah sangat mudah menyantuni taman pustaka sebagai anak asuhnya.”, kata Fauzan, anak muda yang tak pernah padam mengkampanyekan gerakan kerelawanan literasi. Pas betul memang, Aisyiah itu tanpa berkata literasi dalam keseharian mereka bergulat dan bergelut pada urusan pengetahuan dan pendidikan yang notabene adalah ruh literasi. Keterlibatan mengelola paud tk sd menjadikan harapan gerakan literasi bertumbuh dan berkembang di masyarakat asuhan Aisyiah seperti ibarat “tumbuh oleh tutup.”

Teringat masa masa dulu, apa pun urusan jika bertemu ranting aisyiyah tak ada yang tak bisa dibereskan. Mau snack makan musyran, muscab, muysda, dll butuh berapa ratus piring makan semua bisa dibereskan Asyiyah. Itu takdir sebagai gerakan “feeding” , urusan memberi makan, memang paten. Tak ada keraguan blass. Bukan hanya makanan jasadi, makanan ruhani dan “otaki” juga bukan hal yang terpisah dari gerakan perempuan islam paling keren di muka bumi ini. Jadi, jangan juga bilang aisyiah urusannya nata makanan cuci piring bekas disajikan upacara. Nope!. Aisyiah adalah gerakan orang orang multitasking, era disrupsi bukan hal baru sehingga sambil urus banyak hal rutin, kini makin banyak dan berwarna karena tambahan urusan baru termasuk penyelenggaraan urusan yang orang orang sebut sebagai urusan literasi. Literasi yang bermakna luas, ihwal hidup dan kehidupan manusia modern sebagai urusan literasi.

Apa hendak dikata untuk mengakhiri testimoni ini, peran fasilitator, peran aktor, peran produsen pengetahuan semua dihabiskan oleh aisyiyah. Nyaris tak tersisa seperti Ganesha dewa pengetahuan yang memakan apa saja. Dengan semakin kuat meluasnya keterlibatan aisiyah dalam urusan literasj akhir akhir ini maka nampaknya surga tak tersisa lagi untuk kaum adam, untuk pengurus Muhammadiyah hahaha, sehingga suka atau tidak suka, zaman dan takdir sudah berubah: laki laki itu nunut istri (aisyiah) untuk sampai ke halaman depan surga. Nek mau masuk menikmati isinya ya harus bantu dulu aisyiah membesarkan taman pustakanya.

Selamat launching taman pustaka Dzakiyah, Sleman. Moga berkah membawa arus baru memintarkan generasi, memajukan perempuan dan laki laki seluruhnya.

Magelang, 6 Mei 2018


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *