Kisah Pertemuan Diriku dan Darmagandhul


Oleh : Roynaldy Saputro
( Guru dan Pegiat Literasi )

Sebelumnya saya sangat asing dengan buku-buku berjudul jawa seperti darmagandhul, suwung, ranggalawe dll. Tapi saya sedikit demi sedikit penasaran dan ingin mempelajari tentang sejarah jawa. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman pribadi saya yang mempunyai seorang kakek yang cukup tahu tentang ke jawa an. Mungkin umur 5 tahunan saya sudah sedikit mengerti tentang cerita-cerita beliau tentang Ranggawarseto, Keraton Majapahit, tembang-tembangan, geguritan dll. Akan tetapi tidak pernah tahu apa maknanya dan dari mana sumber bukunya.

Awal mula keingintahuan saya adalah ketika salah satu akun facebook yang bernama Javanica memposting buku-buku berjudul darmagandhul, suwung dan sabda palon. Dari postingan itu saya tertarik membacanya. Untuk membaca harusnya saya membeli buku tersebut. Akan tetapi kantong saya pada waktu itu adalah kantong mahasiswa yang kering bagaikan gurun pasir sahara. Maka saya mengurungkan niat untuk membeli dan membacanya.

Tetapi takdir berkata lain, setelah saya menikah. Saya berkesempatan menjumpai 2 buku yang mengulas tentang ke jawa-an yaitu darmagandhul dan sabda palon di perpustakaan mertua saya ditemanggung. Tanpa pikir panjang saya meminjam dan membacanya.

Buku yang saya baca pertama adalah buku darmagandhul yang diterjemahkan oleh Darma Shashangka. Buku yang berisi tentang kehancuran kerajaan Jawa dan Ajaran-ajaran rahasia tersebut telah sukses membawa otak saya untuk berimajinasi dan kembali membayangkan masa lalu. Saya memang belum membaca semua halaman yang ada dibuku tersebut, baru sekitar 180 halaman. Akan tetapi sudah sangat menarik akal dan ingin meneruskannya sampai selesai.

Buku Darmaghandul menceritakan seorang murid bernama darmagandhul yang bertanya kepada gurunya kiai Kalamwadi tentang kehidupan pulau Jawa jaman dahulu. Gurunya pun menceritakan sesuai dengan apa yang diceritakan gurunya dulu. Saya memang tidak begitu hafal semuanya. Karena bukunya memang ketinggalan ditemanggung dan tidak saya pegang ketika menulis kisah ini. Maka dari itu saya hanya akan menulis sesuai ingatan saya.

Mula-mula saya diajak buku tersebut untuk mengetahui tentang seorang sunan yang sedang menuju ke sebuah tempat. Dalam perjalanannya, sang sunan kesusahan mendapatkan air minum. Hingga akhirnya dia meminta bantuan kepada muridnya untuk mencarikannya air minum. Memang di dekat perjalanan beliau ada sungai. Akan tetapi sungai tersebut sedang banjir dan airnya keruh. Berangkatlah murid beliau dan mereka sampai pada sebuah desa kecil. Di desa tersebut mereka ternyata bertemu dengan seorang gadis yang sedang menenun kain. Gadis yang masih perawan tersebut berpikir bahwa murid-murid sunan itu kurangajar dan ingin menggodanya karena memandangi terus. Sehingga dia cuek ketika ditanya murid sunan tentang dimana dia bisa mendapatkan air minum. Setelah dijawab dengan mosi tidak percaya. Akhirnya murid sunan itupun kembali dan melaporkan kepada gurunya. Mendengar hal tersebut, sunan marah dan mengutuk tempat itu 2 hal. Yang pertama, desa tersebut rakyatnya akan menikah di umur yang sudah tua. Yang kedua, jalur aliran sungai yang keruh berubah jalur dan membanjiri desa yang dilewatinya.

Dari kutukan itulah awal mula kenapa perang antara kerajaan demak dan kerajaan majapahit terjadi. Jikalau pembaca penasaran. Bisa membaca bukunya, atau berdialektika dengan saya. Pertama kali pula saya membaca bahwa ada syekh siti jenar yang bersebrangan pemikiran dengan sunan yang lain. Serta munculnya tokoh yang bernama sabda palon, yang dia mengaku pengasuh Raja Jawa yang sudah hidup 2003 tahun. Dari sana pula, saya baru tahu bahwa Prabu Brawijaya sebelum meninggalnya, memeluk agama Islam. Kejadian itu terjadi di Banyuwangi Jawa Timur, berkat bantuan Sunan Kalijaga.

Dari buku ini kalimat yang saya selalu ingat adalah perkataannya sabda palon bahwa “manusia hidup untuk mencari buah pengetahuan dan buah kesadaran”

Saya hanya mengulas sedikit karena ketika saya ceritakan semuanya tentu akan panjang teks nya. Mari berdialektika atau sekedar bercerita-cerita tentang darmaghandul. Karena sekarang sejarah Jawa menjadi misteri bagi penerus bangsa. Seakan-akan pembangunan negara tidak melihat siapa kita sesungguhnya. Ajaran-ajaran jawa hanya menjadi konsumsi segelintir orang. Masyarakat jawa khususnya yang belum mampu mengangkat ke-Jawaannya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *