Kilau-kilau Cahaya Ramadhan


Oleh: Sri Lestari Linawati)*

Bahwa Ramadhan adalah bulan penuh cahaya, itu benar adanya. Sejak hendak memasuki bulan Ramadhan, semua orang telah sibuk menyiapkan kehadirannya. Tua, muda, anak-anak, di kota, desa, kampus, sekolah, hingga di sudut-sudut kampung. Berbagai kegiatan digelar menjadi agenda Ramadhan.

Apapun kegiatannya yang dilaksanakan oleh masing-masing penyelenggara, saya melihatnya sebagai sebuah ikhtiar baik. Ada sebuah semangat yang harus diapresiasi. Kampus diramaikan dengan kajian-kajian Ramadhan jelang buka, yang dihadiri mahasiswa dan segenap civitas akademika. Ada pula sosialisasi asrama mahasiswa (pesantren mahasiswa) kepada masyarakat sekitar. Dhuhur di kampus juga diramaikan dengan shalat dhuhur berjamaah, kultum dan tadarrus bersama. Sekitar dua puluh dosen dan karyawan perempuan akan didampingi satu orang perempuan. Demikian juga laki-laki.

Tadarrus itu selalu menjadi kegiatan menyenangkan, betapapun kita harus memikirkan bagaimana peningkatannya. Dulu, tiap tadarrus bersama kawan-kawan di mushalla kampung, di desa saya, target ngajinya adalah hatam. Tiap orang baca satu maqra’, dilanjutkan sebelahnya. Begitu seterusnya hingga hatam. Lalu dimulai lagi dari depan, baca, baca, hatam.

Kini, dengan perkembangan jaman yang terus berubah, memaksa saya untuk tidak sekadar membaca lafadz Arabnya. Membaca artinya satu per satu, memahaminya, merenungkannya, menguraikan dalam keilmuan dan menurunkannya dalam indicator-indikator kesuksesan menjadi hal yang terelakkan. Menjadikan Al-Qur’an sebagai basis pengembangan ilmu pengetahuan merupakan sebuah keniscayaan.

Mengapa begitu?
Indah. Syahdu. Damai. Itulah yang ditawarkan Al-Qur’an.

Sore itu, saya naiki motor dengan perlahan. Menyusuri jalanan kecil yang relative agak sepi. Saat saya lalui jalan besar, kian banyak doa saya panjatkan, semoga perjalanan lancar. Tentu jalanan saat sore hari di bulan Ramadhan begitu padatnya. Kenceng tidak boleh. Lambat juga tidak boleh. Atinya perjalanan Anda harus sedang-sedang saja. Musti siap dengan suasana lalu lintas. Waspada.

Ya, sore itu saya dihubungi mas suami agar ikut bukber bersama rekan kerjanya di kantor. Bukber ini memang diselenggarakan tiap tahun oleh kantor mas suami, dengan mengundang serta pasangan dan anak-anaknya. Bukber keluarga. Anak keempat masih di pondok Darul Ulum Galur Kulonprogo. Anak kedua baru jenguk adiknya di SMA Trensains Sragen. Hanya anak pertama yang bisa kami ajak. Alhamdulillah kerjanya usai, jadi dia bisa melaju dari kosnya di Jl. Kaliurang Yogya. Tentulah acara semacam ini ditujukan untuk mempererat silaturrahmi antara kami semua. Maklumlah, seringkali kesibukan kerja menyita perhatian kita untuk saling kenal dan saling faham.

Kembali ke hal perjalanan. Jalanan sore itu sebenarnya padat juga. Jujur saya agak ekstra hati-hati mengendarai motor. Maklum, itu hari pertama saya latihan mengendarai kembali motor. Seminggu sebelum itu saya mengalami kecelakaan kecil. Bersiap mendampingi tadarrus di masjid kampus, hendak parkir motor, eh.. di perempatan kampus ditabrak mahasiswi saya. Trauma lutut. Seminggu full harus jalan pakai bantuan krek.

Saat saya lihat Tugu Yogyakarta sore itu, saya bersyukur. Terkena cahaya matahari sore hari, Tugu Yogya tampak cerah dan indah. Inilah symbol Yogyakarta. Saya bersyukur karena betapapun masih tertatih untuk berjalan normal, Allah masih memberi kesempatan kepada saya untuk bisa berjalan-jalan menyusuri keindahan kota Yogyakarta. Tentu beda rasanya bila saya harus istirahat total di rumah sakit. Keluar pun bisa jadi yang antar adalah mobil ambulans. Subhanallah.. Alhamdulillah.. Saya hanya bisa bersyukur pada Sang Maha Pencipta.

Apakah Ramadhan kali ini memberikan makna tertentu pada pribadi Anda? Jawaban tiap orang bisa berbeda satu dengan yang lain. Bagi saya pribadi, setiap Ramadhan selalu menawarkan kesejukan dan kedamaian. Demikian pula Ramadhan kali ini. Sebuah upaya yang dilakukan Muhammadiyah terhadap warganya adalah menanamkan pemahaman dan ilmu. Al-Qur’an itu tidak cukup dibaca (lafadznya), namun perlu juga dikaji dan dimaknai, kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Begitulah KHA Dahlan mengajarkan. Surat Al-Ma’un telah menginspirasi lahirnya layanan social, rumah sakit dan pendidikan. Inilah pentingnya memahami Al-Qur’an secara integral dan holistic.

Di kampung-kampung, anak-anak muda keliling kampung membangunkan warga untuk sahur. Dengan membawa alat-alat bunyi-bunyian, mereka pukul dengan antusias dan penuh semangat. “Sahur ora sahur sak karepmu… deng deng deng.. sahur ora sahur sak karepmu… deng deng deng…” Tentu berbeda lagi dengan tradisi di kotaku, Jember. Kiai kami Pak Syafi’I Noer akan mengumumkan dari torn masjidnya, “Ya ayyuhal ikhwan… qad kana waktul imsak… iyyakum .. wal a’la.. wasysyarba.. wa” ghairu dzalik.. Bapak-bapak.. Ibu-ibu.. Saudara-saudara semua yang hendak menjalankan ibadah puasa.. Kini datang waktunya imsak.. tidak boleh makan.. minum.. kok-rokok’an..”.

Anak-anak kecil di kampung kecil Yogyakarta ini ceria juga menyambut Ramadhan. Takjil, tarawih, beberapa anak tadarrus, jamaah shuhuh, dilanjutkan jalan-jalan menyusuri jalanan kampung. “Bu Lina…” sapa mereka saat aku menyapu halaman rumah. Mereka berjalan bergerombol.

Suatu saat saya kami menemui anak-anak kecil itu berjalan rombongan. Usai shalat shubuh berjamaah tampaknya. “Siiiiiiiiiit…………………… duarrrr……. Siiiiiit……………… duaaarr… “ Meledaklah beberapa petasan. Inilah fenomena terbaru yang saya lihat. Hingga tahun kemarin, petasan biasanya dibunyikan setelah shalat ied. Kini, sejak hari pertama Ramadhan petasan telah ramai dibunyikan. Saya coba memahami psikologis mereka. Ada sebuah kesenangan dan rasa puas saat mereka berhasil menyulutkan apinya dan meledak keras. Andai kemeriahan dan kebahagiaan itu dirasakan di hari raya, itu tidak cukup buat mereka. Karenanya mereka menghadirkannya selama sebulan di bulan Ramadhan.

Inilah keprihatinan kita. Fenomena itu semestinya mampu ditangkap oleh para pengelola TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Seorang bapak sempat menyampaikan pada kami saat jalan-jalan pagi itu, “Iki rodo ra berhasil TPA-ne.. (Ini agak kurang berhasil TPA-nya).” Meski ringan dan sambil guyon, namun manurut saya ini dalam maknanya. Memanggil kepedulian para pengelola pengajian anak. Dibutuhkan sebuah format mengaji yang menyenangkan dan menjawab persoalan anak. Ajaran moral agama musti disampaikan secara apik sesuai dengan kebutuhan mereka. Bukan sebatas dogma-dogma yang wajib ditaati secara kaku, hitam putih.

Namun demikian, itu semua bisa kita fahami. Semua itu tidak terlepas dari kondisi keindonesiaan kita hari ini. Tatanan nilai banyak yang hanya menjadi pajangan rumah, lipstick penghias bibir. Keteladanan menjadi barang langka. Kepercayaan carut marut. Komunikasi amburadul.

Pagi tadi usai shalat shubuh berjamaah, anak sulung kami melihat pengajian di youtube. Langkah saya terhenti ketika dia berkata, “Bu, kenapa ustadz-ustadz yang ceramah selalu mengajarkan bahwa jihad itu adalah perang? Bukankah jihad itu artinya bersungguh-sungguh? Jihad itu tidak selalu memanggul senjata untuk perang.. Jihad itu bersungguh-sungguh menjalani kehidupan kita..” Saya tahu, dia tidak membutuhkan jawaban panjang. Saya hanya tersenyum dan mengangguk. Benar yang disampaikan Prof. Syamsul Anwar saat Pengajian Ramadhan 1440 di UMY, “Pencerahan adalah pencarian jalan Tuhan yang terus menerus tiada henti.” Jangankan anak-anak kita yang di pondok enam tahun, kita pun hingga kini terus mencari dan merindukan pertemuan dengan Tuhan Allah.

Ramadhan tinggal kurang lima hari lagi. Semoga ikhtiar kita tidak berhenti. Pasca Ramadhan, lanjutkan perjuangan dan upaya-upaya menegakkan nilai-nilai ajaran Islam. Amar makruf nahi mungkar adalah hiasan laku. Kebenaran, keadilan dan kejujuran marilah terus kita tegakkan. Tak semudah membalik telapak tangan memang. Yakinlah untuk senantiasa mewujudkan kedamaian di jalan Tuhan Allah. Salam.

Yogyakarta, 31 Mei 2019

*Sri Lestari Linawati akrab disapa Lina. Pegiat literasi, penggagas BirruNA PAUD Berbasis Alam dan Komunitas dan dosen Unversitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Perempuan asal Jember Jawa Timur ini tinggal di Yogyakarta sejak menempuh pendidikan Sastra Arab Gadjah Mada Yogyakarta. Mendekatkan buku ke pembacanya adalah program literasi yang tengah diperjuangkannya bersama RBK (Rumah Baca Komunitas) Yogyakarta.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *