Keunggulan Literasi


Agus Riyanto, Relawan GBK Metro

 

Bagi sebagian kalangan masyarakat gerakan literasi adalah gerakan jalan sunyi yang tak banyak menggeluti, peminatnya sepi, indek membaca warganya masih bisa dihitung dengan jari. Mengapa gerakan literasi sebagai jalan sunyi ? tak banyak orang yang suka menggeluti.

Lihat saja fakta di lapangan betapa banyak sekolah-sekolah formal yang perpustakaannya bak musium buku yang jarang dijenguk dan diampiri, berdebu dan banyak berkutu namun minus manusia kutu buku. Betapa banyak pula masjid dan mushola yang tak punya ruang pustaka jikapun ada pustaka masjid – mushola banyak yang terkunci, buku cuman sekedar koleksi dan penghias lemari sekalipun masjid-mushola selalu mengajarkan dalam khutbah-khutbah jumatnya ataupun dalam ta’lim-ta’lim mingguannya membahas surat Al-‘Alaq berikut tafsirnya kepada para jamaah dan santri TPA terkait Firman Tuhan yang memerintahkan untuk giat “membaca”. Tak banyak pula sarana taman pustaka yang disediakan pemerintah buat warganya sampai ke tingkat desa/kampung atau sebutan lainnya. Dan itu terjadi dimana-mana hampir di semua pelosok wilayah nusantara.

Kita bisa coba lihat datanya, hasil survei yang dilakukan UNESCO pada tahun 2012 mengungkapkan bahwa “Prosentase minat baca anak Indonesia hanya 0,01 persen. Artinya, dari 10.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca, sedangkan indek minat baca bangsa Indonesia berada di posisi 60 dari 61 negara yang disurvei”.

Baik fakta maupun data sepertinya berbicara sama seiring setia bagai “Romeo dan Juliat” yang saling berjanji mengikat hati untuk sehidup semati. Fakta dan data ini tak bisa diingkari sebagai realitas pahit yang kita rasakan dilingkungan dan masyarakat kita. Dan Ini bukan berita “hoax” yang tidak perlu disebarluaskan namun justru harus terus kampanyekan kepada siapa saja dan dimana saja agar kita segera terbangun kesadarannya dan bergerak cepat untuk membangunnya.

Kenyataan pahit ini setidaknya juga dipengaruhi oleh faktor;
(1). Tidak atau belum berpihaknya kebijakan pemerintah daerah yang tidak pro terhadap gerakan literasi warga/masyarakat baik secara program maupun anggaran. Dimana-mana program dan anggaran pembangunan terlalu konsentrasi pada pembangunan fisik bukan pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) karena memang pembangunan fisik akan mudah diukur dan nampak kasat mata hasil pembangunan dan bisa langsung dirasakan warga. Kita juga bisa membandingkan bagaimana keberpihakan kebijakan pemerintah di sektor pendidikan formal baik dari sisi program maupun anggaran. Ketimpangan atau kesenjangan kebijakan pemerintah terhadap gerakan literasi dengan sektor pembangunan lainnya bagaikan langit dan bumi, hal ini berangkat dari cara berfikir (mindset) yang sektoral dan tidak integral yang memisahkan dan membedakan antara pendidikan formal dan non/informal, antara fisik dan nonfisik,
(2). Akibat faktor pertama tadi, berpengaruhi pada terbatasnya sarana dan prasarana pustaka warga atau bahkan tidak ada sama sekali di alam nyata tidak tahu kalau di alam “ghoib”. Bagaimana bisa minat baca masyarakat meningkat kalau buku bacaan yang mau dibaca wargapun tidak tersedia, bagaimana mau terbangun kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca kalau upaya promosi dan motivasi tak pernah disuarakan dan didukung secara nyata.
(3). Kedua hal tersebut diperparah dengan kesadaran membaca masyarakat yang masih sangat rendah. Membaca belum dianggap penting, dan penyakit malas sebagai pembenaran.

Setidaknya tiga faktor tersebut, yang juga berkontribusi akan rendahnya indeks membaca masyarakat Indonesia terutama di pelosok-pelosok kampung/desa tak terkecuali juga bagi masyarakat kota, sekalipun secara strata pendidikan lebih tinggi dari masyarakat desa.

Membumikan Gerakan Literasi

Secara ideologis, sejak empat belas abad yang silam, Islam sebenarnya sejak awal telah mengumandangkan dan mengkampanyekan (promotif) dan sekaligus memberi motivasi strategi membangun kemajuan peradaban manusia dengan cara “Membaca”. Seruan “Iqra” dalam Surat Al-‘Alaq : 1-5 yang merupakan wahyu pertama yang Allah turunkan pada masa awal kenabian/kerasulan Muhammad S.A.W. Dalam sejarah nya Nabi Muhammad yang “Ummi atau tak bisa membaca” dipaksa untuk bisa dan mampu membaca. Karena dengan kemampuan membaca, Nabi Muhammad bisa menyebarkan, mendakwahkan, mensyiarkan nilai-nilai kebenaran kepada segenap manusia di jagad raya (kaffatan linnas) dan bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamiin).

Mari kita cermati dan pahami baik-baik kandungan surat Al-‘Alaq : 1-5 yang terjemahannya sebagaimana berikut ini : “(1). Bacalah dengan (menyebut) nama Rabb-mu yang menciptakan, (2). Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah, (3). Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Paling Pemurah, (4). Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, (5). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”

Nilai-nilai literasi yang berbasis pada nilai-nilai ke-Tuhanan sebagai wujud dari Tauhid Rububiyah (pengakuan penciptaan), literasi yang juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, literasi yang edukatif bernilai pendidikan dan pengajaran, dan literasi yang terus mengembangkan nilai-nilai pengetahuan (minadzulumati ilannuri).

Gerakan Literasi adalah gerakan kerasulan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul pembawa risalah terakhir untuk seluruh dunia. Gerakan literasi mesti mensandarkan pada landasan ideologi yang kuat dan mengakar pada gerakan kerasulan yang telah dicontohkan oleh Rosulullah Muhammad SAW sebagai ideologi keilmuan, ideologi pencerahan, ideologi kemajuan peradaban walaupun itu adalah gerakan jangka panjang yang secara kontiyu digerakkan (sustainable). Gerakan literasi adalah gerakan jalan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang mesti terus dikibarkan dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja.

Pusat Keunggulan Berbasis Ilmu

Disadari atau tidak oleh kita semua, bahwasanya kemajuan semua bidang atau kemajuan di sebuah masyarakat/bangsa hanya bisa diraih, jika kita gandrung dan mendekatkan diri pada poros-poros ilmu pengetahuan. Namun sebaliknya, bahwa faktor keterbelakangan dan kebodohan suatu komunitas/jamaah/masyarakat akan menjadi penghambat dan pintu penutup kesempatan menuju gerbang keunggulan dan kemajuan itu sendiri. Hal ini selaras dengan firman Allah “Samakah orang yang berilmu pengetahuan dengan orang yang tidak berilmu pengetahuan” yang termaktub dalam surat Az-Zumar ayat 9.

Di dalam surat Al-Mujadallah : 11, Allah menjelaskan secara jelas dan terang benderang tentang keutamaan orang-orang yang berilmu yaitu bahwa “Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat”.

Kedua ayat tersebut, harus menjadi spirit bagi kita semua bahwa kalau ingin membangun kemajuan peradaban manusia maka kuncinya adalah menguasai ilmu pengetahuan.

Imam Safii mengatakan “Barangsiapa yang ingin sukses di dunia maka ia harus memiliki ilmu, dan barangsiapa yang ingin sukses di akherat maka ia harus memiliki ilmu, dan barangsiapa yang ingin sukses dunia-akherat maka ia harus memiliki ilmu”

Presiden Soekarno juga pernah mengatakan bahwa “Bangsa yang melek adalah bangsa yang memiliki stadion wawasan/pengetahuan” atau meminjam istilah Buya Syafii Maarif sebagai “Masyarakat Ilmu”.

Mari secara kolektif menguatkan komitmen diri untuk terus mendorong pusat-pusat keunggulan masyarakat dengan cara menguasai poros-poros ilmu pengetahuan. Nilai-nilai ideologi keagamaan menjadi spirit pergerakan literasi yang membumi.Wallahu a’lam bisshowab.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *