Kesepian, Cinta, dan Getir Hidup Manusia


Oleh Arif Yudistira*)

Judul buku : Selamat Jalan Tuan Presiden
Penulis        : Gabriel Garcia Marquez
Penerbit      : Mata Angin
Tahun          : Maret 2017
Halaman     : 98 halaman
ISBN            : 978-979-9471-31-4

Selamat Jalan Tuan Presiden(2017) adalah kisah yang ditulis Gabriel Garcia Marquez. Sebelumnya buku dicetak oleh Penguin Books tahun 1995. Pertama kali pula dicetak dalam bahasa Indonesia di tahun yang sama. Empat cerita panjang Marquez tetap menarik dibaca sampai sekarang. Ada banyak peristiwa ganjil dalam kehidupan manusia jadi sorotan Marquez.

Marquez menulis dengan subtil. Ia juga menggambarkan perasaan-perasaan si tokoh dengan lentur kepada pembaca. Pembaca pun bisa ikut merasakan perasaan-perasaan yang coba dituturkan Marquez melalui cerita yang ditulisnya. Kita bisa menengok cerpen pertama berjudul Selamat Jalan Tuan Presiden. Semula imajinasi pembaca diajak untuk menerka-nerka bagaimana nasib presiden. Dalam gambaran pembaca, presiden tokoh dalam cerpen ini seperti akan berhadapan dengan kematian. Kematian ini memang menjadi pancingan bagi pembaca untuk terus menyimak cerpen ini sampai usai.

Mula-mula diceritakan pencarian Presiden akan sakit yang ia derita. Presiden yang kini berusia 73 tahun ingin mengenali penyakitnya. Ia pergi ke Jenewa. Sembari ingat masa-masa yang telah lalu, Presiden merenungkan dan menginginkan kesepian, jauh dari keramaian. Perenungannya menjadi semakin dalam saat ia bertemu salah satu penggemarnya yang kini ikut serta merawat dan membantu masa-masa akhir usianya. Ia pun mulai sadar bahwa di usianya yang senja ini, ia seperti sudah siap untuk menghadapi hari-hari akhir yang sepi, miskin dan tak ada kawan.

Bila pembaca bertanya tentang sanak keluarga presiden?, maka kita tak menemukan identitas presiden selain ia seorang presiden yang sedang menjalani hari-hari menjelang ajalnya. Ketika bertemu, bercakap, dan berkunjung ke rumah Homero dan istrinya, ia merasa menemukan kemenangan dalam hidupnya. Kemenangan terbesar dalam hidupku adalah bila semua orang melupakanku. Kebosanan dengan keramaian, kesibukan, serta padatnya jadwal presiden kadang membuat manusia ingin menikmati kesendirian. Kesendirian, kehidupan yang tenang, damai, serta usaha untuk memunguti kenangan adalah sesuatu yang mewah dalam hidup manusia, apalagi seorang presiden.

Ketika Homero melihat nafsu besar istrinya untuk mendapatkan keuntungan dari kematian presiden dengan mengharapkan hartanya, Homero pun ikut serta membantu presiden mengurus keuangan untuk biaya operasinya. Cerita diakhiri dengan kejutan yang menipu pembaca. Alih-alih membawa pembaca pada kesedihan karena matinya presiden, tapi membuat pembaca menjadi riang karena presiden tak bisa ditipu oleh Homero dan istrinya. Ia justru mengirim surat pada Homero dan mengabarkan kesembuhannya dan merencanakan reformasi.

Di cerita putri tidur dan pesawat terbang pembaca akan menemukan kekaguman seorang pria kepada seorang pramugari yang cantik yang melayaninya di sebuah bandara. Ia pun dikejutkan saat tahu bahwa cewek cantik yang dikaguminya duduk bersebelahan dengannya di pesawat. Ia pun mendekati cewek itu dan membayangkan bagai sepasang kekasih yang tidur di hotel. Pembaca digiring untuk menyimak imajinasi tokoh (cowok) yang kagum dengan wanita cantik ini. Perjalanan berakhir saat dua belas jam sampai di New York. Kisah pun diakhiri dengan kepergian perempuan cantik yang pergi begitu saja. Di cerita ini, kita bisa membayangkan betapa perkenalan, percakapan, bahasa, kekaguman, hingga cinta tak melulu dikatakan dengan terang, tapi bisa disalurkan lewat desah nafas yang berdekatan. Lewat kebetulan dan kedekatan yang tak direncanakan pun, cinta bisa begitu ajaib.

Pembaca bisa menuntaskan dua cerita terakhir dengan perasaan sedih dan pilu. Di cerita Aku Hanya Datang Untuk Memakai Telepon kita disuguhi kepedihan seorang perempuan yang tak bisa berbuat apa-apa saat kecelakaan dan ingin mengabari kekasihnya. Kejadian naas menimpanya, kecelakaan pun membawanya pada dugaan orang gila. Tokoh perempuan ini pun dikira gila dan dibawa ke rumah sakit jiwa. Sang kekasih yang seorang pesulap pun bingung dan mencarinya. Ketika suaminya menemukannya, ia pun dikira gila dan harus memerlukan waktu untuk bisa bersamanya kembali.

Di cerita terakhir bertajuk Cahaya Itu Seperti Air bercerita tentang dua tokoh anak-anak yang sedikit gila. Mereka menggunakan rumahnya sebagai ide untuk menuangkan imajinasinya untuk bermain dan berlayar menggunakan sampan saat orangtua mereka taka da. Orangtuanya semula dikejutkan dengan kelakuan anaknya ini. Pembaca pun digiring untuk percaya dengan kelakuan anak yang justru beroleh penghargaan. Dan kini setelah mereka anak-anak dianggap lebih dewasa, mereka justru berpindah mempraktikkan imajinasinya di apartemen yang baru sebagai hadiah atas kelakuan mereka.

Di akhir cerita ini, kita bakal mendapati gaya bercerita Marquez yang surealis. Cerita yang mustahil dan sulit dipercaya menggiring pembaca untuk tetap percaya pada narasi pencerita. Keempat cerita pendek itu menggambarkan kelihaian Marquez sebagai maestro. Ia tak hanya mengungkap kegelisahan, kisah getir manusia, tapi juga mengeksplorasi kesepian, kesendirian sebagai bagian dari sisi lain jiwa manusia.

*) Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Kontributor bukuonlinestore.com