6 menit waktu baca

Kembali Kepada Muhammadiyah : Sebuah Pengalaman

Oleh : Muhammad Bintang Akbar

8 Desember 2017, Fakultas Ilmu Sosial UNY mengadakan pelatihan softskill kepemimpinan untuk mahasiswa semester 3. Saya termasuk yang ada di dalam acara tersebut. Pagi-pagi di hari Jum’at, saya berangkat menuju kampus. Ketika melewati perempatan Wirobrajan, seketika tulisan “Aku Tititpkan Muhammadiyah Kepadamu” melintas di pikiran saya. Gedung SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta pernah memiliki bagian tembok yang ada tulisan seperti itu. Entah masih ada atau tidak sekarang, namun intisari tulisan tersebut bagi saya tetaplah abadi.

Sepanjang perjalanan menuju kampus, sembari fokus terhadap kendali sepeda motor yang saya naiki, kata-kata K.H. Ahmad Dahlan kembali melengkapi besitan pikiranku. Dua kalimat K.H. Ahmad Dahlan kembali hinggap di pikiranku : menghidup Muhammadiyah dan jangan mencari hidup dalam Muhammadiyahh serta jadilah apapun asal kembali ke Muhammadiyah. Astagfirullahhaladzim, saya istigfar. Ternyata jika dihitung sejak kelulusan sekolah dasar tahun 2010, saya telah meninggalkan Muhammadiyah (tidak berkontribusi di dalamnya) selama 7,5 tahun!. Namun saya tidak begitu saja larut dalam kesedihan karena hari itu saya akan kembali lagi berkontribusi ke Muhammadiyah melalui jalur literasi. Yaa, hari itu ada acara selain di kampus yaitu Kopi Darat Nasional (Kopdarnas) Penggiat Literasi Muhammadiyah di Surakarta. Saya berpikir bahwa inilah saatnya kembali menyambung garis pengabdian keluarga saya ke Muhammadiyah dan saya adalah generasi ke-empat dalam ber-Muhammadiyah.

Singkat cerita, saya niatkan menjadi penglaju Yogyakarta-Surakarta karena kopdarnas di adakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Setelah acara softskill, saya pun langsung berangkat menuju Surakarta. Sesampai di sana, saya bertemu dengan beberapa teman dari Angkatan Muda Muhammadiyah, salah satunya adalah Mas Lento dari Pimpinan Ranting Nitikan, anak buahnya Mas Iwan Setiawan Ketua Pemuda Muhammadiyah Wilayah Yogyakarta. Terlalu lama menunggu, saya putuskan untuk ke tempat saudara saya yang tak jauh dari UMS, tepatnya di dekat Embarkasi Haji Donohudan. Setelah sholat Jum’at di sebuah masjid dekat rumah saudara, saya pun bertolak ke UMS kembali untuk mengikuti seminar literasi dan kopdarnas. Dengan tertib, acara selama dua hari saya selesaikan dengan baik meskipun ada bumbu-bumbu Yogyakarta-Surakarta yang melelahkan karena ngelaju.

Harus diakui bahwa kopdarnas memberikan semacam stimultan awal dalam hidup saya, terutama dalam rangka kembali ke Muhammadiyah. Saya bertemu dengan sosok-sosok hebat seperti Ibu Bidan di garis depan, Bapak Syarif Bando Kepala Perpusnas, Bapak Nirwan Arsuka Pustaka Bergerak Indonesia, hingga siapa saja yang mengisi acara namun saya lupa namanya karena keteledoran tidak menulis sesuai anjuran Pramoedya Ananta Toer. Berbagai sosok tersebut mampu membangkitkan semangat untuk berjuang di jalan literasi dengan tenaga yang ada. Pemikiran saya mengenai literasi benar-benar di buka dan berbagai fakta dihidangkan untuk saya santap dan energinya saya gunakan untuk berkontribusi dalam literasi dan dalam Muhammadiyah.

Baca juga:  Muhammadiyah-NU, Kakak-Adik Satu Atap

Kembalinya saya ke Muhammadiyah tentu tidak ujug-ujug. Ada proses panjang di situ. Sosok utama yang membuat saya bisa kembali ke Muhammadiyah adalah Pak David Effendi, Ketua Serikat Taman Pustaka Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebelum kopdarnas, Pak David memang menyebarkan kabar mengenai hal tersebut di sosial media. Ketertarikan disertai iseng membuat saya turut bergabung di kopdarnas tersebut. Syaratnya mudah, cukup membuat tulisan mengenai literasi. Tulisan saya diterima dan saya berhak mengikuti kopdarnas. Untuk pertama kalinya di kopdarnas, saya bisa bertemu langsung dengan Pak David meskipun kenal secara sosial media sudah sejak akhir 2014. Saya pun perlu bercerita bagaimana proses renaissance ke Muhammadiyah.

Saya lahir di dari seorang ayah Muhammadiyah juga pengurus Tapak Suci dan seorang ibu yang pernah bersekolah di Muhammadiyah tetapi tidak aktif di Aisyiyah. Menurut cerita dari tante dan bapak, kakek buyut saya pernah melakukan longmarch dari daerah Nanggulan, Kulon Progo menuju Kauman untuk menghadiri helat masa awal Muhammadiyah berdiri. Kiprah kakek buyut lebih kepada urusan dakwah (mubalig), kemudian kakek saya berkiprah di bidang pendidikan khususnya keguruan dan nenek saya aktif di ‘Aisyiyah karena memang beliau adalah lulusan Mua’llimat Yogyakarta.

Meskipun saya dari keluarga Muhammadiyah, tetapi orang tua lebih terbuka dalam menyikapi kehidupan. Seperti contoh saya pernah seminggu sekolah di TK ABA tetapi vakum setahun karena tidak betah lalu kembali TK di Pertiwi Dharma Wanita. Tak hanya itu, dalam urusan kehidupan pun orang tua memberikan bekal kehidupan untuk survive dan memberikan nasehat setelah kita “bertarung” di kehidupan. Keluarga saya benar-benar demokratis dalam memilih jalan hidup masing-masing asal tidak berkaitan dengan pertentangan Tauhid dan Aqidah.

Baca juga:  Memanusiakan Sekolah, Memuliakan Manusia

Bermula dari kebebasan itulah saya mengenal “dunia sekuler” lebih dalam. Semua diawali dengan kedekatan saya dengan buku-buku sekuler meskipun porsi buku agama tetap ada. Internet pun mendukung proses “sekulerisasi” dalam hidup saya, Youtube adalah media utama untuk mendengarkan ceramah-ceramah dari berbagai LSM liberal di Indonesia. Masa-masa paling kuat dalam hal ini ketika menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Sedayu, bahkan tak jarang saya sering berdebat dengan teman-teman di Kerohanian Islam maupun teman-teman yang masih terbilang fundamentalis dalam beragama. Seorang guru agama bernama Drs. Muhammad Irfa’i, M. Pd. pun pernah menyinggung masalah ini dan beberapa kali apabila pelajaran agama, saya dijadikan rujukan “pandangan sekuler”, meski demikian hubungan saya dengan Pak Irfa’i tetap baik-baik saja.

Kenapa masa SMA ?, karena awal pencapaian hidup di mulai ketika SMA. Saya bisa mengikuti Diklat Kader Bangsa Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY hingga Lomba Karya Tulis Ilmiah “Lawatan Sejarah”. Di acara tersebut saya menemukan banyak orang dengan berbagai pandangan yang semakin memperkaya. Masa itu juga menjadi masa dimana kegilaan saya terhadap buku di mulai. Disaat teman-teman saya bisa pamer bermain di mall hingga memiliki barang mewah, saya bisa pamer buku terlarang yang harganya sama dengan 1 gram emas. Tak hanya itu, saya pun berani menaksir seseorang yang berbeda agama sebanyak dua kali pada dua orang yang berbeda, namun hanya sebatas “hampir jadian” karena memang ada tembok pemisah yang tidak bisa diruntuhkan melainkan harus ada yang mengalah. Itulah sekelumit cerita masa gila-gilanya di SMA.

Alhamdullilah, di masa perkuliahan saya bertemu dengan teman-teman baik yang benar-benar baik meskipun jumlahnya sangat sedikit. Salah satunya adalah Muhammad Fathan yang membantu saya untuk keluar dari “masa kegelapan”. Di masa kuliah ini saya merasakan keseimbangan dalam keilmuan dan keagamaan. Misal saya Jum’at sore mengikuti diskusi di Pusdema Sanata Dharma kemudian malamnya mengikuti Kajian Malam Sabtu di PWM DIY. Saya pun sering berdiskusi masalah ideologi kiri dan ubarampenya dengan teman-teman aktivis jalanan namun juga tak lupa diskusi masalah Islam dengan teman-teman lembaga dakwah kampus. Hidup kemudian berasa sangat damai dan lebih tentram.

Baca juga:  Kebudayaan Dalam Almari Kaca

Kemudian tibalah acara kopdarnas tersebut. Sudah diceritakan diawal bagaimana saya bisa mengikuti kopdarnas namun belum diceritakan ada apa di balik kopdarnas. Perlu diketahui, kopdarnas saya ikuti pada saat semester 3 dan itulah semester paling berat bagi saya, bukan di keilmuannya. Semester 3 adalah masa saya mengalami berbagai tekanan yang bertubi-tubi. Mulai dari keilmuan saya mengenai masalah “kiri” di bredel di sana-sini, seseorang yang saya taksir di panas-panasi agar tidak menanggapi saya, hingga saya difitnah menjadi antek-antek dosen untuk melaporkan kelakuan teman saya. Disaat berat seperti itu, saya jadi mengetahui siapa teman sebenar-benarnya. Dari 40 orang lebih teman di kelas, hanya ada 1 teman yang berani membela saya terang-terangan yaitu Manik Rarasningtyas. Dia bahkan berani mengorganisir untuk meyakinkan bahwa saya tidak melakukan itu dan itu adalah fitnah namun hanya ditanggapi ketakutan oleh yang diajak. Dari beratnya semester 3 itulah saya ingin melakukan “babat alas” untuk mencari “kehidupan yang lebih baik” maka jalan literasi saya pilih.

Semester 3 adalah masa renungan literasi. Saya merasa bahwa hidup ini akan sia-sia jika kita hanya sendiri tanpa ada berbagi. Maka dari itu, saya mencoba untuk mendirikan sebuah perpustakaan bersama teman-teman kampung, sekedar suka-suka. Filosofi hidup itu menyala (urip iku urup) membuat saya bersemangat ditambah lagi renungan “apa yang sudah saya berikan untuk kemaslahatan umat ?”, akhirnya gayung bersambut dengan kopdarnas. Setelah kopdarnas, saya pun niat ingsun dengan aksi nyata membantu Muhammadiyah, apa saja yang bisa saya bantu Insha Alloh. Akhirnya, setelah tulisan ini saya rampungkan, Muhammadiyah kembali ke dalam diri saya, diri seorang Muhammadiyahis yang pernah kehilangan marwah Muhammadiyahnya namun Alloh kembali menuntun saya untuk kembali ke Muhammadiyah dari jalur literasi, jalur pertama dalam firman pertama Alloh “IQRA!”.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...