4 menit waktu baca

Kejujuran dan Pandemi Corona

Oleh: Himelda

Corona virus atau yang sering disebut COVID-19, nama itu sendiri berasal dari singkatan Corona Virus Disease yang muncul pada akhir tahun 2019. Fenomena ini sangat menggenparkan dunia,mulanya ini berasal di daerah Wuhan-China diduga karena kebiasaan masyarakat disana yang sering mengonsumsi hewan liar.

Begitu banyak isu yang bermunculan sejak saat itu, sehingga masyarakat panik lalu berbondong-bondong seperti gelombang ketakutan untuk mengantisipasi dengan membeli masker serta handsanitizer. Hal itu wajar karena memang penularannya terbilang cepat. Virus ini adalah jenis virus yang menyerang sistem pernapasan sehingga membuat penderitanya kesulitan bernafas, tidak heran mengapa orang sangat takut terhadap virus ini karena dalam 3 hari tanpa penanganan bisa mengakibatkan orang tersebut meninggal dunia bahkan lebih cepat.

Corona virus sebenarnya memiliki angka recovery yang tinggi mencapai 98%. Sangat jauh bila dibanding dengan penyakit pernapasan lainnya seperti TB paru yang hanya mencapai 54%, akan tetapi TB paru tidak seheboh Corona virus padahal untuk penularannya sendiri TB paru merupakan penyakit yang menular secara airbone disease (menular melalui udara). Untuk Corona virus sendiri sejauh ini organisasi kesehatan dunia, WHO, mengatakan Corona virus tidak airbone, namun droplate dapat bertahan diudara selama beberapa jam dan juga benda itu mengapa orang yang terinfeksi harus menggunakan masker. Menurut Kemenkes RI, uang kertas juga salah satu pemicu penyebaran Corona virus.

Di italia 70% orang2 tertular dari uang, padahal mereka sudah safety pakai masker dll, tapi mereka gak pada sadar ternyata mereka tertular dari uang. Makanya sekarang mereka pembayaran sudah mulai beralih ke elektronik, kalau di kita seperti ovo gopay dll.

Ketakutan masyarakat terhadap Corona virus sendiri mungkin dipicu dari cepatnya virus menginfeksi penderita karena TB paru merupakan penyakit yang menahun oleh sebab itu TB paru tidak cukup digemparkan.

Baca juga:  Musim Semi Gerakan Literasi: Potret Lain Indonesia

Virus sendiri dapat dibunuh dengan menggunakan sabun karena kandungan dalam sabun yang bersifat basah dapat menghancurkan virus, itulah mengapa WHO sangat menganjurkan mencuci tangan dengan 6 Langkah dengan baik dan benar agar terhindar dari virus. Mengenai penceghan virus corona karena virus ini tegolong virus baru saat ini masyarakat kini hanya bisa melalukan upaya preventif (penceghan), salah satunya dengan mencuci tangan, namun beberapa orang berangggapan bahwa hanya handsanitizer yang dapat membunuh virus akan tetapi hingga sekarang WHO mengatakan sabun masih lebih efektif dalam membunuh virus selain itu penggunaan handsanitizer yang sering dapat menyebabkan iritasi pada kulit karena mengandung alcohol, sebenarnya penggunaan handsanitizer sendiri untuk orang yang sedang dalam perjalanan atau diluar rumah ketika tidak ada sabun.

Pemerintah terlambat mengantisipasi persebaran menjadikan masyarakat semakin tidak terkontrol dalam berbagai urusan. Ada Panic buying, ada mudik mendadak, ada lockdown kampung, dan sebagainya. Selain itu penggunaan masker juga menjadi hal yang wajib saat ini karena fenomena virus ini.akan tetapi sebenarnya menurut jurnal yang WHO dipublikasikan pada tanggal 6 April 2020; “penggunaan masker secara meluas oleh orang-orang sehat di tengah masyarakat tidak didukung oleh bukti yang ada dan menyebabkan ketidakpastian serta risiko-risiko yang bersifat kritis.”

Hal ini menyebabkan para tenaga medis yang kontak langsung serta memiliki resiko tinggi terpapar virus Corona kekurangan APD atau alat pelindung diri termasuk masker, karena sejauh ini masker seharusnya digunakan untuk orang yang beresiko tinggi. Akan tetapi pemerintah indonesia dengan kebijakannya menghimbau masyarakat menggunakan masker kain agar para tenaga medis tidak kehabisan stok APD.

Menurut saya ini adalah hal yang cukup tepat namun sebaiknya bagi orang yang beresiko tinggi atau adanya anggota keluarga yang terjangkit sebaiknya menggunakan masker N95 atau masker bedah karena lebih efektif, untuk masyarakat yang sehat serta tidak termasuk beresiko tinggi masker kain lebih disarankan. Hal ini tidak semua dilakukan agar fenomena saat ini cepat berlalu dan berakhir karena banyak sekali dampak yang terjadi kerena fenomena ini termasuk karantina yang mengharuskan sejumlah instansi perusahaan harus berhenti sejenak dan mengistirahatkan para pegawai, termasuk didalamnya sekolahpun harus libur agar kasus yang terjadi dapat diminimalisir sehingga para tenaga medis dapat bekerja dengan efektif dan efisien untuk menyembuhkan penderita yang telah terjangkit.

Baca juga:  Warisan Literasi dan Cinta Hamka

Banyak sekali pro dan kontra masyarakat sekitar terhadap sosial distance mengenai hal ini semua itu dilakukan semata-mata demi keselamatan semuanya. Namun upaya pemerintah ini harus didukung oleh masyarakat setempat dengan didasari kesadaran personal hygen yang baik. Kejujuran juga termasuk didalamnya karena banyak tenaga medis yang terpapar virus corona karena adanya klien yang berbohong mengenai kondisinya sungguh sangat disayangkan, hal ini diduga karena stigma yang ditimbulkan masyarakat sekitar terhadap penderitanya sehingga ia berbohong agar tidak dikucilkan masyarakat setempat. Tentunya ini sangat merugikan berbagai pihak dan semakin memperlamah penanggulangan wabah ini. Transparansi pemerintah dan kejujuran masyarakat adalah dua kata kunci yang dapat membantu penyelesaikan pandemi ini. Terutama, kejujuran pasien akan menjadikan tenaga medis lebih aman.

Oleh karena itu, mari kita selesaikan bersama masalah ini dengan saling berkerjsama agar dunia kembali pulih dengan tidak memberikan stigma negatif terhadap penderita maupun tenaga medis yang dapat membuat mental mereka down. Jadi, kejujuran semua pihak dan jangan ada lagi penolakan kepada pasien tetapi lebih pada pemberian solusi dalam keadaan krisis seperti ini.

Salam Kemanusiaan!

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...