Kebudayaan Dalam Almari Kaca


oleh : Fikri Fadh*

 

Kebudayaan dan kesenian merupakan magnet suatu daerah untuk mendatangkan wisatawan, baik itu yang domestik ataupun manca negara. Nilai investasi untuk pengembangan pariwisata juga tidak sedikit. Hal itu sebanding dengan pendapatan asli daerah (PAD) yang akan diterima. Pembangunan sarana dan prasarana yang akan menjadi penyangga kepariwisataan juga akan mempengaruhi pengembangan pariwisata tersebut.

Orientasi pembangunan yang bertujuan sebagai penyangga pariwisata tentunya akan menimbulkan dampak lain. Masyarakat lokal dengan segala kebudayaan sosio-kulturnya yang mengakar, akan terkena dampaknya.

Bagaimana jika dampak dari pengembangan kepariwisataan malah mencabut kebudayaan dari akarnya itu sendiri? Kemudian kebudayaan dan kesenian di kemas sedemikian rupa dan dimasukkan kedalam lemari kaca. Dinikmati oleh para wisatawan, menjadi bahan penelitian, menjadi dongeng masa lalu, tapi masyarakatnya sendiri sudah tidak memakai “baju kebudayaannya” itu.

Sebenarnya, orientasi pembangunan itu kemana?

Pembangunan masyarakat seperti kita ketahui bersama ada dua jenis. Sementara ini kita membahas secara sederhana saja, pembangunan secara fisik dan non fisik. Pembangunan fisik bisa berbagai macam sektor, seperti pendidikan, pertanian, kelautan, transportasi dan juga kepariwisataan.

Setiap pembangunan secara fisik harus juga diiringi pembangunan secara non fisik. Maksudnya bagaimana? Percepatan pembangunan, seharusnya juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Orientasi pembangunan akan menjadi jelas, sehingga dalam prakteknya, masyarakat terlibat baik secara langsung ataupun keterwakilan.

Jika dalam proses pembangunan, masyarakat malah tercabut kebudayaan dan sosio-kulturalnya, menurut saya itu adalah pembangunan yang “menipu”. Seolah-olah disejahterakan, namun sebenarnya masyarakat di buatkan tribun untuk duduk menonton pembangunan dan hanya bertepuk tangan melihat keberhasilan kemajuan peradaban.

Jika suatu daerah, mengembangkan sektor kebudayaan dan dikemas dalam bentuk kepariwisataan, tentunya pemerintah setempat dan masyarakat harus siap dengan budaya yang dibawa oleh wisatawan. Akan ada pertemuan kebudayaan. Ya kalau yang dibawa adalah memang kebudayaan, kalau yang dibawa adalah bukan budaya? Bukankah makna budaya adalah hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia?

Para pendatang, tentu akan berbeda sikapnya dari pada saat dia di daerah asalnya. Hal ini yang perlu diwaspadai oleh masyarakat lokal. Jika kebudayaan masyarakat setempat itu bertegur sapa, sebagai pendatang atau wisatawan ya bertegur sapalah, jangan malah mentang-mentang wisatawan kemudian merasa menjadi raja. Masyarakat lokal harus memperkuat kebudayaannya, sehingga bisa membentengi diri, dari segala bentuk aktivitas yang merusak moral.

Jika orientasi pembangunan, entah untuk menunjang sektor pariwisata dan PAD tapi malah mencabut kebudayaan masyarakat, sepertinya perlu ada upaya lain. Karena jika kebudayaan masyarakat tercabut, maka yang terjadi adalah rusaknya moral. Sektor inilah yang sering kurang perhatian serius dalam pembangunannya, sektor moral dalam masyarakat.

Kebudayaan itu pakaian sehari-hari, bukan hiasan dalam almari.

Melestarikan kebudayaan, tidak hanya memainkan kesenian dan mempertontonkan karnaval. Kesenian memang bagian dari kebudayaan itu sendiri, namun bagaimana jika yang melakoni kesenian itu, lupa bahkan tidak tahu makna filosofis akan kesenian yang dilakoninya. Makna filosofis kebudayaan dan kesenian adalah guru dalam kehidupan sehari-hari.

Modal untuk melestarikan kebudayaan tidak sedikit. Modal untuk pembangunan penyangga pariwisata kebudayaan juga tidak sedikit. Jangan sampai malah kita tidak mendapatkan makna yang sebenarnya akan keberadaan kebudayaan warisan leluhur kita. Kebudayaan hanya di pertontonkan saat tanggal-tanggal tertentu. Kesenian hanya menarik karena gincu. Tapi lenyap begitu saja ketika sudah habis durasinya.

Jangan sampai, bangsa yang besar karena kebudayaan hanya mengemas kebudayaannya dalam almari kaca. Kemudian dipertontonkan demi mendapatkan pemasukan secara finansial. Kebudayaan yang di dukung oleh pembangunan secara fisik, harus bisa menjadi pakaian sehari-hari. Kebudayaan itu sikap sehari-hari, bukan waktu tertentu.

Jika kebudayaan masyarakat yang sudah di dukung oleh pembagunan fisik yang kuat tapi malah melemahkan moral anak bangsanya, lantas bagaimana nasib bangsa tersebut? Bisa jadi tidak hanya kebudayaan, namun bangsa itu kelak hanya akan diketahui dalam buku sejarah, tapi hilang jejak peradabannya. Wallahu’alam.

_______
*founder of janasoe


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *