Kauman Sebagai Kampoeng Literasi


Muhammadiyah yang lahir di tahun 1912 tidak bisa dilepaskan dari Kampung Kauman yang menjadi tempat kelahirannya. Pendirinya, KHA Dahlan, adalah abdi dalem yang bertanggung jawab terhadap kemakmuran Masjid Gedhe yang merupakan masjid jami’ Kasultanan Yogyakarta. Para sahabat dan muridnya yang menjadi pendukung utama Muhammadiyah di awal berdirinya dan masa pengembangannya juga merupakan anak-anak muda Kauman. Perempuan muda yang mendobrak budaya dengan sekolah di sekolah umum juga merupakan anak-anak Kauman. Berdirinya Frobel atau pendidikan anak usia dini pada tahun 1919 juga terjadi di Kauman. Musholla khusus perempuan pertama juga didirikan di Kauman pada tahun 1922. Model asrama untuk anak-anak perempuan yang sekolah atau yang dikenal dengan Internaat juga dimunculkan oleh Nyai Ahmad Dahlan di Kauman. Sangat erat dan tak dapat dipisahkan antara Kauman dengan Muhammadiyah, bukan hanya karena di kampung itulah Muhammadiyah berdiri namun ‘all out’ warga Kauman dalam mendukung Muhammadiyah dengan jiwa, raga dan harta tidak diragukan lagi. Sampai saat ini jejak-jejak Muhammadiyah masih bisa dilihat dengan jelas di Kauman.

bibliothieek Muhammadiyah

Gerakan literasi awal di negeri ini juga tidak bisa lepas dari Kauman dan Muhammadiyah. Ketika awal tertatanya gerak Muhammadiyah, bagian pustaka adalah pilar awal yang menggerakkan Muhammadiyah bersama bagian pko, pengajaran dan tabligh. Pada jaman itu berdirilah Biblioteech di Kauman sebagai perpustakaan yang kemudian diikuti dengan gerakan Mabulir yang digagas Daozan Faruk, warga Kauman yang mendedikasikan hidupnya untuk literasi. Apa yang dilakukan oleh Daozan Faruk ternyata membuahkan semangat yang luar biasa setelah lebih dari dasa warsa dengan bergeloranya gerakan literasi di area komunitas. Setelah lehih dari 80 tahun gelora literasi dihidupkan di Kauman, lahirlan Perpustakaan Masjid Gedhe Kauman di tahun 1982. Dengan digawangi orang-orang muda aktivis Muhammadiyah dan angkatan mudanya, perpustakaan ini berkembang cukup pesat dan menjadi pelopor perpustakaan masjid di Yogyakarta. Dengan dibina langsung oleh BPPMI (Badan Pembina Perpustakaan Masjid Indonesia) DI Yogyakarta yang diketuai oleh KPH Godhokusumo, Perpustakaan Masjid Gedhe Kauman berhasil membangun jejaring yang cukup baik pada waktu baik dengan pemerintah maupun perpustakaan lainnya. Perpustakaan Masjid Gedhe Kauman pada tahun 1995 pernah mendapatkan penghargaan sebagai perpustakaan masjid terbaik se-DIY.

Kauman dengan segala keunikan masyarakatnya telah menempatkan perpustakaan yang waktu itu digawangi oleh Azman Latief (sekarang menjadi ketua Takmir Masjid Gedhe Kauman) sebagai sebuah pusat kegiatan yang menelorkan kegiatan-kegiatan yang cukup fenomenal. Sebut saja Pekan Muharram (yang sekarang berkembang menjadi Silaskota) adalah sebuah kegiatan rutin yang mengumpulkan banyak komunitas untuk mengikuti serangkaian kegiatan yang berpusat di Masjid Gedhe. Perpustakaan juga menjadi pusat koordinasi kegiatan Pesantren Liburan Anak atau yang sering kita sebut PLA. PLA ini merupakan ajang interaksi dan silaturrahmi anak-anak Kauman dan anak-anak warga Kauman yang sudah tidak bertempat tinggal di Kauman yang diselenggarakan untuk mengisi waktu liburan anak-anak. Perpustakaan juga menjadi arean interaksi antara warga asli Kauman yang sering disebut KK dan warga pendantang yang biasa disebut PD karena di perpustakaan inilah mereka bisa menjadi pengurus atau pengelola. Perlu diketahui bahwa pada tahun 1990-an di Kauman berkembang beberapa organisasi pemuda seprti ORENA, OREKA, Pemuda Muhammadiyah dan nasyiatul ‘Aisyiyah yang digerakkan oleh anak-anak KK serta Pengajian Al Wahidah yang digerakkan oleh anak-anak PD (salah satu penggeraknya adalah dr. Hanung mantan direktur RSP Sardjito). Meskipun demikian secara umum interaksi diantara keduanya tetap bisa berjalan dengan baik. Di perpustakaan inilah menjadi ajang interaksi dan komunikasi antar anak-anak muda Kauman. Berbagai rapat baik rapat Pemuda, NA, ORENA atau OREKA sering juga dilakukan di perpustakaan. Dan itu tidak mengganggu aktivitas perpustakaan itu sendiri. Itulah yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat favorit untuk kumpul-kumpul.

Pengelolaan perpustakaan pada saat ini masih sangat sederhana, baik dalam hal pencatatan peminjaman, katalog maupun keanggotaan. Prinsip kita pada waktu itu adalah berjalan sesuai dengan apa yang kita bisa. Kami tidak ingin mempersulit diri sendiri dengan ketentuan yang sifatnya formal. Prinsip kami adalah bergenbiara ria dalam menjalankan perpustakaan ini sehingga tak ada beban apapun dalam menjalan kegiatan ini. Kami juga sangat didukung oleh Takmir Masjid Gedhe karena semua biaya operasional ditanggung oleh Takmir. Itulah yang mungkin menjadikan kami tidak pernah kesulitan berkaitan dengan biaya operasional perpustakaan. Koleksi perpustakaan kami dapatkan dari tinggalan koleksi lama dan juga sumbangan dari berbagai pihak. Koleksi juga sangat beragama mulai umun, pop, anak-anak sampai buku-buku agama. Kami juga menempatkan seseorang yang menjadi petugas tetap meskipun kami yang menjadi pengurus atau petugas piket yang kami gilir semuanya bisa menjalankan operasional peminjaman buku di perpustakaan. Sistem kerelawanan yang kami pakai adalah dengan menjadikan mereka pengurus dan petugas piket dengan merekrut anak-anak Kauman. Mungkin kami termasuk perpustakaan yang eksklusif dari sisi pengelolaan karena benar-benar hanya orang Kauman yang bisa menjadi bagian dari pengelola perpustakaan. Tentunya itu dengan banyak pertimbangan karena masih sagat banyak anak-anak Kauman yang bisa diajak untuk menghidupkan perpustakaan. Perpustakaan ini tetap berjalan sampai tahun 2000-an dan kemudian tutup karena persoalan tempat yang dipergunakan oleh SD Muhammadiyah Kauman sebagai lokal kelas. Pada waktu itu buku-buku hanya ditumpuk di Gedung Kuning yang terletak di sebelah utara Masjid Gedhe. Sampai pada tahun 2010-an ketika dilakukan penataan bangunan yang ada di Kompleks Masjid Gedhe, bangunan yang dahulu dipergunakan sebagai KUA dimanfaatkan sebagai perpustakaan. Aktifitas perpustakaan tetap berlanjut meskipun masih sangat standart sampai akhirnta pada tahun 2015 perpustakaan ini dibuka kembali dengan manajemen yang tertata baik dan digawangi oleh anak-anak muda yang perduli terhadap aktivitas yang ada di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Sejak saat itu perkembangan perpustakaan ini sangat pesat dengan berbagai kegiatan bahkan pada tahun 2017 dibuatkan Kids Corner yang khusus menyediakan koleksi untuk anak-anak.

Literasi, Kauman dan Muhammadiyah adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan. Kepeloporannya telah ditunjukkan sejak awal abad XX dan tetap bertahan sampai abad XI. Jika Muhammadiyah telah memasuki abad kedua, maka Kauman dengan gerakan literasinya juga telah memasuki usia 1 abad. Kauman memang hanya sebuah kampung kecil di tengan Kota Yogyakarta, namuan banyak sekali keistimewaan yang dimilikinya. Bukan hanya menjadi Kampung Muhammadiyah namun Kauman layak menjadi Kampung Literasi karena memiliki perjalanan sejarah literasi yang panjang dan tidak mati tertelan jamannya.

Yogyakarta, 24 Maret 2018

Widiyastuti, MPI PP Muhammadiyah)